Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh

Kompas.com, 27 Januari 2026, 19:36 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan, longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, merupakan dampak perubahan rantai pangan akibat masifnya urbanisasi.

Pola makan masyarakat perkotaan mendorong perluasan perkebunan sayuran subtropis ke lereng-lereng gunung, dengan menggantikan tanaman keras yang berfungsi menahan tanah.

Baca juga:

Tingginya permintaan kentang, kol, kobis, dan paprika, komoditas dari Amerika Selatan yang berakar dangkal dan secara alami tumbuh di ketinggian, menuntut pertanian di Indonesia mengincar wilayah yang semestinya dilindungi.

“Urbanisasi ini membawa perubahan pola makan. Kita makan sesuatu yang sebetulnya bukan dari habitat kita,” ujar Hanif, dilaporkan oleh Kompas.com, Senin (26/1/2026).

 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.Dok. Kementerian PU Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

Menanggapi hal itu, pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun berpandangan, kesimpulan Hanif mengaitkan pola makan masyarakat perkotaan dengan kejadian longsor terlalu jauh.

"Jauh banget ya, saya pikir terlalu jauh mengaitkan dengan pola makan ya. Kalau dikaitkan dengan tanaman sayur di lereng-lereng sana, itu masih okelah," ujar Imam kepada Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Ia menambahkan, sebenarnya sumber material longsor berada di atas Gunung Burangrang. Sementara itu, perkebunan sayur dan perumahan penduduk berada di bawah.

"Jadi, itu yang diterjang malahan dari sisi kejadian longsor. Jadi, saya pikir bukan gara-gara tanaman yang ada jadi longsor ya, tapi lebih tanaman-tanaman yang ada untuk sayur mayur dan sebagainya itu menjadi korban," tutur Imam.

Baca juga:

Akumulasi proses alam yang berlangsung lama

Lanskap lokasi longsor dan lahan perkebunan di lereng Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Minggu (25/1/2026). ?KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Lanskap lokasi longsor dan lahan perkebunan di lereng Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Minggu (25/1/2026). ?

Sumber material longsor berada di atas Gunung Burangrang yang tutupannya masih hutan. Menurut Imam, terlalu jauh mengaitkan longsor di Cisarua dengan dampak alih fungsi lahan.

Longsor Cisarua cenderung disebabkan akumulasi dari proses alam yang berlangsung lama.

Curah hujan di atas 200 milimeter per hari, yang dikategorikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai sangat ekstrem, menjadi pemicu utama terjadinya longsor di hulu sungai yang mengalir ke arah perkebunan dan permukiman penduduk.

Cuaca ekstrem akibat krisis iklim hanya pemicu kejadian longsor di berbagai tempat. Namun, kejadian longsor memiliki karakteristik khas yang tergantung kondisi tempatnya.

Ada longsor dengan persentase campur tangan atau ulah manusia yang lebih dominan. Ada pula longsor yang memang karena alam dan sudah sangat berpotensi untuk terjadi.

"Jadi kalau kalau saya ditanya untuk Cisarua bagaimana? Cisarua itu ya enggak bisa dipersentase-persentase juga gitu ya. Tapi kalau saya lihat sumbernya itu kan masih di hutan yang lebat itu di atas itu, karena perubahan alam, bisa jadi longsor itu terjadi secara alamiah," jelas dia.

Imam mengaku belum melakukan investigasi atau survei secara medetail di kawasan puncak Gunung Burangrang.

Berdasarkan foto, video drone, Google Earth, dan citra satelit, kondisi tutupan hutan di kawasan puncak Gunung Burangrang disebut masih "hijau sekali".

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau