Penulis
KOMPAS.com - Fluktuasi tajam suhu harian muncul sebagai ancaman baru bagi masyarakat. Riset terbaru menunjukkan, perubahan suhu yang tiba-tiba dan ekstrem bisa semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Diterbitkan di Nature Climate Change, riset ini dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Nanjing dan Institute of Atmospheric Physics (IAP) di bawah Chinese Academy of Sciences (CAS).
Baca juga:
Riset ini menyebutkan, fluktuasi suhu yang terjadi dari hari ke hari mengalami peningkatan signifikan, baik dalam frekuensi maupun tingkat keparahannya.
"Pemanasan global memperburuk kekeringan tanah dan memperkuat variabilitas tekanan permukaan laut dan kelembapan tanah. Perubahan-perubahan ini mengurangi kapasitas termal daratan dan memperbesar fluktuasi tutupan awan serta radiasi matahari," kata profesor di IAP, dilansir dari Xinhua via Antara, Jumat (12/12/2025).
"Akibatnya, perubahan suhu hari ke hari menjadi lebih ekstrem," tambah dia.
Baca juga:
Para peneliti menggunakan teknik analisis yang dikenal sebagai optimal fingerprinting. Teknik ini membantu mengidentifikasi penyebab perubahan suhu yang tidak stabil.
Hasilnya, emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia menjadi pendorong utama.
Studi tersebut juga menunjukkan, wilayah lintang rendah hingga menengah menjadi yang paling terdampak. Di wilayah ini, suhu harian cenderung berubah lebih cepat dan lebih ekstrem.
Proyeksi iklim bahkan menunjukkan kondisi yang memburuk pada masa depan. Dalam skenario emisi tinggi, frekuensi fluktuasi suhu ekstrem bisa meningkat sekitar 17 persen pada tahun 2100, sedangkan intensitasnya bisa naik hingga 20 persen.
Kondisi ini akan memengaruhi wilayah yang dihuni lebih dari 80 persen populasi global.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya