KOMPAS.com - Pesatnya perluasan kawasan lindung di seluruh dunia dinilai belum berhasil melindungi biodiversitas. Hal ini berdasarkan laporan State of International 30x30 Funding yang dirilis pada Desember 2025.
Keanekaragaman hayati disebut terus menurun di banyak kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan dilindungi, dilansir dari Down to Earth, Sabtu (3/1/2026).
Baca juga:
Laporan ini menyerukan perubahan mendasar dalam cara pembiayaan konservasi, sekaligus mendesak pemerintah dan donor untuk memprioritaskan pendanaan jangka panjang serta terprediksi untuk pengelolaan.
Selain itu, laporan ini juga mendesak adanya penegakan hukum serta restorasi di kawasan lindung.
Perluasan kawasan lindung global dinilai belum efektif melindungi biodiversitas. Simak penjelasannya.Kawasan lindung secara luas dianggap sebagai upaya paling ampuh di dunia untuk menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati.
Tidak hanya itu, negara-negara di dunia sepakat melindungi 30 persen lahan dan lautan pada tahun 2030 di bawah Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.
Kerangka kerja tersebut, yang diadopsi oleh 196 negara pada KTT keanekaragaman hayati PBB di Montreal, Kanada, pada tahun 2022, bertujuan untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati pada akhir dekade ini.
Menurut data Protected Planet dari Program Lingkungan PBB, sekitar 17,6 persen daratan dan perairan pedalaman serta 8,4 persen lautan dunia saat ini berada di bawah beberapa bentuk perlindungan.
Di atas kertas, hal ini tampaknya menandai kemajuan yang signifikan, dengan negara-negara terus mengumumkan taman nasional dan kawasan lindung laut baru.
Kendati demikian, para peneliti memperingatkan bahwa banyak dari penetapan ini gagal memberikan perlindungan ekologis yang nyata. Hal ini memungkinkan hilangnya keanekaragaman hayati terus berlanjut di dalam "batas-batas yang dilindungi".
Beberapa penelitian ilmiah juga mempertanyakan apakah perluasan kawasan lindung global yang cepat benar-benar melindungi alam, atau jangan-jangan kemajuan tersebut justru menutupi kegagalan struktural dalam konservasi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya