Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

27 Harimau Sumatera Terdeteksi di Leuser, Harapan Baru untuk Konservasi

Kompas.com, 9 Desember 2025, 12:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Populasi harimau sumatera terus menjadi perhatian karena terancam punah, salah satunya akibat perburuan liar. Namun, studi terbaru mengidentifikasi 27 harimau sumatera di hutan Ekosistem Leuser, Aceh.

Diterbitkan di Frontiers in Conservation System, studi ini menunjukkan bahwa populasi harimau sumatera di wilayah tersebut cukup sehat. Temuan ini menjadi harapan baru bagi upaya konservasi.

Baca juga:

"Kami mendokumentasikan populasi harimau yang kuat, tampaknya termasuk yang paling sehat di pulau ini," kata ahli biologi konservasi yang bekerja sama dengan lembaga konservasi satwa liar dan kehutanan Indonesia, Dr. Joe Figel, dilansir dari Phys.org, Selasa (9/12/2025).

"Bagi mereka yang berada di lapangan, tanggung jawab kini ada pada kita untuk memperkuat upaya dan melindungi mereka dengan baik," tambah dia. 

Leuser disebut habitat penting bagi harimau sumatera

Dua harimau sumatera berjenis kelamin jantan dan betina lahir pada 26 April 2025 lalu. Populasi harimau sumatera menunjukkan tren positif. Studi baru di Leuser, Aceh, menunjukkan ada 27 individu yang masih bertahan.Dok.KEMENHUT Dua harimau sumatera berjenis kelamin jantan dan betina lahir pada 26 April 2025 lalu. Populasi harimau sumatera menunjukkan tren positif. Studi baru di Leuser, Aceh, menunjukkan ada 27 individu yang masih bertahan.

Ekosistem Leuser dinilai sebagai habitat terbaik bagi harimau sumatera. Wilayah ini terdiri dari hutan dataran rendah, hutan perbukitan, dan hutan pegunungan.

Sebanyak 44 persen wilayahnya masih tergolong intact forest landscape, atau lanskap hutan yang utuh. Menurut Figel, wilayah ini menjadi rumah penting bagi harimau. 

"Area ini juga dipatroli lebih intensif dibanding hampir semua tempat lain di Sumatra," tutur dia. 

Tim peneliti memasang kamera infrared dalam tiga periode pemantauan di wilayah Aceh. Sebanyak 34 kamera dipasang pada Maret–Mei 2023, lalu 59 kamera pada Juni–Desember 2023, dan 74 kamera pada Mei–November 2024.

Kamera-kamera ini diawasi bersama masyarakat lokal yang tinggal di sekitar wilayah.

Pemantauan dengan kamera trap sangat penting. Menurut Figel, hal tersebut untuk memperkirakan parameter demografi harimau, seperti kelangsungan hidup, lama mereka menempati wilayah, dan tingkat pertumbuhan populasi. 

Baca juga:

Ada 27 harimau sumatra yang teridentifikasi

Dari seluruh periode pemantauan, tim berhasil mengumpulkan 282 foto jelas harimau sumatera. Berdasarkan pola loreng di tubuh mereka, peneliti mengidentifikasi 27 individu, terdiri dari 14 betina, 12 jantan, dan satu berjenis kelamin yang belum diketahui.

Jumlah ini termasuk tinggi untuk survei kawasan hutan yang bukan taman nasional. Tingginya populasi betina mengindikasikan kualitas habitat yang baik. Betina biasanya melahirkan tiga anak dalam satu dekade.

Dalam sesi 2023, tim bahkan mendokumentasikan tiga kelompok anak harimau. Dua anak jantan yang difoto pada masa kecil kemudian muncul lagi sebagai individu dewasa pada sesi berikutnya.

Frekuensi kemunculan harimau juga cukup sering. Rata-rata harimau betina terekam 14 kali, sedangkan jantan 16 kali. Tingginya jumlah foto menunjukkan ketersediaan mangsa yang cukup dan hutan yang sehat bagi mereka. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Pemerintah
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Pemerintah
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
Swasta
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
LSM/Figur
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
LSM/Figur
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
Pemerintah
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau