Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kawasan Konservasi Dunia Belum Maksimal Lindungi Biodiversitas, Apa Sebabnya?

Kompas.com, 3 Januari 2026, 16:15 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perluasan kawasan lindung yang pesat di seluruh dunia dinilai belum mampu melindungi biodversitas, menurut laporan State of International 30x30 Funding yang dirilis Desember 2025. Keanekaragaman hayati disebut terus menurun di banyak lokasi yang ditetapkan untuk dilindungi.

Menurut data Protected Planet dari Program Lingkungan PBB, sekitar 17,6 persen daratan dan perairan pedalaman serta 8,4 persen lautan dunia saat ini berada di bawah beberapa bentuk perlindungan, dilansir dari Down to Earth, Jumat (3/1/2026).

Baca juga: 

Lantas, mengapa kawasan konservasi dunia dinilai belum maksimal memberikan perlindungan terhadap biodiversitas meski jumlahnya bertambah?

Kawasan konservasi belum maksimal lindungi biodiversitas

Pendanaan jadi salah satu penyebabnya

Laporan State of International 30x30 Funding memberikan beberapa alasan terkait hal itu.

Pertama, perlindungan sering kali didefinisikan secara lemah. Pemerintah diizinkan untuk menetapkan area sebagai kawasan lindung, bahkan ketika aktivitas yang merusak lingkungan terus berlanjut di dalamnya.

Kedua, kawasan lindung diperlakukan sebagai ruang statis di dunia yang berubah dengan cepat. Perubahan iklim menggeser jangkauan spesies, mengubah ekosistem, dan memungkinkan spesies invasif untuk menyebar, sedangkan rencana pengelolaan sering tetap ketinggalan zaman dan lambat beradaptasi.

Terakhir, banyak kawasan lindung memiliki keterbatasan kapasitas pengelolaan. Misalnya kekurangan staf terlatih, pemantauan yang tidak memadai, dan penegakan hukum yang lemah berarti bahwa aturan sering kali hanya ada di atas kertas.

Baca juga: Pulau Buru Maluku Ditetapkan Jadi Kawasan Konservasi Baru Penyu Belimbing

Kawasan lindung dunia dinilai belum efektif melindungi biodiversitas. Lemahnya definisi perlindungan hingga krisis pendanaan jadi sorotan.Pexels/ Mikhail Nilov Kawasan lindung dunia dinilai belum efektif melindungi biodiversitas. Lemahnya definisi perlindungan hingga krisis pendanaan jadi sorotan.

Masalah lain yang jadi penyebab kurang maksimalnya kawasan lindung adalah soal pendanaan.

Laporan tersebut menemukan adanya kesenjangan pendanaan untuk kawasan lindung. Pendanaan internasional mencapai lebih dari 1,1 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 18,3 triliun) pada tahun 2024, meningkat 150 persen sejak tahun 2014.

Kendati demikian, pertumbuhan ini masih jauh dari yang dibutuhkan.

Untuk memenuhi target 30x30, pendanaan internasional perlu meningkat menjadi sekitar enam miliar dollar AS (sekitar Rp 100.2 triliun) per tahun pada tahun 2030.

Berdasarkan tren saat ini, dunia menghadapi kekurangan dana tahunan sebesar hampir empat miliar dollar AS (sekitar Rp 66,8 triliun).

Target 30x30 adalah komitmen global yang sangat besar di mana negara-negara di dunia sepakat untuk melindungi 30 persen daratan dan 30 persen lautan bumi pada tahun 2030 untuk menghentikan kepunahan massal.

Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Populasi Gurita di Inggris Melonjak, Disebut akibat Krisis Iklim
Populasi Gurita di Inggris Melonjak, Disebut akibat Krisis Iklim
LSM/Figur
Populasi Hiu Putih Besar di Laut Mediterania Menurun, Ini Alasannya
Populasi Hiu Putih Besar di Laut Mediterania Menurun, Ini Alasannya
LSM/Figur
Kawasan Konservasi Dunia Belum Maksimal Lindungi Biodiversitas, Apa Sebabnya?
Kawasan Konservasi Dunia Belum Maksimal Lindungi Biodiversitas, Apa Sebabnya?
LSM/Figur
Taiwan Capai Target Penurunan Polusi Udara PM2.5 pada 2025
Taiwan Capai Target Penurunan Polusi Udara PM2.5 pada 2025
Pemerintah
Inggris Catat Rekor Tertinggi Produksi Listrik Energi Terbarukan pada 2025
Inggris Catat Rekor Tertinggi Produksi Listrik Energi Terbarukan pada 2025
Swasta
Ratusan Bunga di Inggris Mekar Tidak pada Waktunya akibat Krisis Iklim
Ratusan Bunga di Inggris Mekar Tidak pada Waktunya akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ketika Alam Menagih Tanggung Jawab
Ketika Alam Menagih Tanggung Jawab
Pemerintah
93 Butir Telur Penyu Diselamatkan BKSDA Maluku Demi Penetasan Aman
93 Butir Telur Penyu Diselamatkan BKSDA Maluku Demi Penetasan Aman
Pemerintah
LPDB Koperasi Salurkan Dana Bergulir Rp 1,7 Triliun Sepanjang 2025, Lampaui Target Pemerintah
LPDB Koperasi Salurkan Dana Bergulir Rp 1,7 Triliun Sepanjang 2025, Lampaui Target Pemerintah
LSM/Figur
Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?
Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?
Swasta
Dedi Mulyadi Larang Sawit di Jawa Barat, Pakar IPB Nilai Kebijakan Tidak Tepat
Dedi Mulyadi Larang Sawit di Jawa Barat, Pakar IPB Nilai Kebijakan Tidak Tepat
LSM/Figur
Bencana Iklim 2025, Perempuan dan Masyarakat Miskin Paling Terdampak
Bencana Iklim 2025, Perempuan dan Masyarakat Miskin Paling Terdampak
LSM/Figur
Krisis Ekologis di Jawa Barat, Pakar IPB Jelaskan Ancaman di Tiap Wilayah
Krisis Ekologis di Jawa Barat, Pakar IPB Jelaskan Ancaman di Tiap Wilayah
Pemerintah
Pajak Karbon Uni Eropa Resmi Berlaku, Apa Dampaknya?
Pajak Karbon Uni Eropa Resmi Berlaku, Apa Dampaknya?
Pemerintah
Kemunculan Beruang di Jepang Makin Meresahkan, Diduga akibat Krisis Iklim
Kemunculan Beruang di Jepang Makin Meresahkan, Diduga akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau