Penulis
KOMPAS.com - Microsoft sepakat membeli 2,85 juta kredit karbon tanah (soil carbon credits) dari Indigo Carbon. Kesepakatan ini disebut yang terbesar dalam sejarah pasar kredit karbon berbasis tanah.
Langkah ini juga dilakukan saat emisi perusahaan teknologi Amerika Serikat ini meningkat akibat ekspansi pusat data dan pengembangan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan).
Baca juga:
"Microsoft sangat antusias dengan pendekatan Indigo (Carbon) dalam pertanian regeneratif yang menghasilkan hasil yang dapat diukur melalui kredit karbon yang terverifikasi dan pembayaran kepada petani," kata Direktur Penghapusan Karbon di Microsoft, Phillip Goodman, dilansir dari Reuters, Jumat (16/1/2026).
Tidak hanya itu, Microsoft juga menegaskan targetnya untuk menjadi carbon negative pada tahun 2030.
Artinya, Microsoft berencana untuk memastikan, mereka memfasilitasi penghilangan karbon lebih banyak dibanding jumlah emisi karbon yang dihasilkan oleh operasionalnya secara global.
Sebagai informasi, dilansir dari laman Offset Guide, kredit karbon merupakan instrumen yang dapat diperdagangkan (biasanya berupa sertifikat virtual) yang mewakili klaim atas pengurangan emisi gas rumah kaca atau peningkatan penyerapan gas rumah kaca dari atmosfer.
Dilaporkan Kompas.com, Kamis (10/4/2025), kredit karbon menjadi semacam izin bagi perusahaan untuk "mengimbangi" emisi gas rumah kaca mereka.
Jika sebuah perusahaan mengeluarkan banyak karbon, mereka bisa membeli kredit ini dari pihak lain yang membantu menyerap atau mencegah emisi karbon.
Baca juga:
Microsoft membeli 2,85 juta kredit karbon dari Indigo Carbon, kejar target carbon negative 2030 di tengah lonjakan pusat data.Microsoft dan Indigo Carbon menandatangani kerja sama selama 12 tahun, dengan nilai transaksi yang tidak diumumkan secara resmi.
Kendati demikian, seorang sumber yang mengetahui kesepakatan ini menyebut harga kredit berada di kisaran 60 hingga 80 dollar Amerika Serikat per ton (sekitar Rp 1,01 juta sampai Rp 1,35 juta).
Jika dihitung, total nilai transaksi diperkirakan mencapai 171 juta hingga 228 juta dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 2,8 triliun sampai Rp 3,8 triliun).
Sebagai informasi, berbasis di Amerika Serikat, Indigo Carbon menekankan peran pertanian regeneratif dalam penghilangan karbon berintegritas tinggi.
Adapun pertanian regeneratif mencakup berbagai praktik ramah lingkungan, di antaranya mengurangi pembajakan tanah, menanam tanaman penutup, serta membiarkan ternak merumput secara alami.
Praktik ini bertujuan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap karbon sekaligus menahan air.
Menurut data dari perusahaan riset pasar karbon Sylvera, permintaan kredit karbon berbasis tanah meningkat sepanjang tahun lalu.
Sebelumnya, Microsoft membeli 2,6 juta kredit karbon dari Agoro Carbon. Kesepakatan tersebut sempat memegang rekor sebelum akhirnya dilampaui oleh kerja sama dengan Indigo Carbon.
Microsoft membeli 2,85 juta kredit karbon dari Indigo Carbon, kejar target carbon negative 2030 di tengah lonjakan pusat data.Senior Director for Policy, Partnerships and Impact di Indigo Carbon, Meredith Reisfield menuturkan, kesepakatan tersebut membawa pesan kuat.
"Hal ini menyoroti pentingnya pengurangan karbon tanah dalam aksi iklim korporasi, dan bagi Indigo, hal ini memperkuat reputasi dan kepemimpinan kami dalam kredit karbon berintegritas tinggi," tutur Reisfield.
Adapun Indigo Carbon membantu mengidentifikasi area-area di mana emisi dapat dikurangi atau dihilangkan, kemudian bekerja sama dengan para petani untuk mengembangkan proyek-proyek tersebut dan menjual kredit karbonnya.
Kerja sama ini disebut tidak hanya menguntungkan perusahaan. Petani yang terlibat dalam proyek menerima manfaat ekonomi.
Menurut Indigo Carbon, petani memperoleh 75 persen dari biaya rata-rata tertimbang dari setiap kredit yang diterbitkan berdasarkan musim tanam atau tahun panen.
Baca juga:
Banyak ilmuwan menilai proyek penghilangan karbon tetap penting untuk menekan laju pemanasan global. Utamanya untuk sektor yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, seperti pembangkit listrik.
Namun, tidak sedikit pihak yang bersikap skeptis. Mereka menyoroti tantangan pengukuran dan ketahanan dampak penghilangan karbon.
Ada pula kekhawatiran bahwa teknologi penghapusan karbon bisa mengalihkan perhatian dari upaya pengurangan emisi langsung.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya