Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Tertipu Air Sinkhole yang Jernih, BRIN Ingatkan Bahaya Bakteri

Kompas.com, 17 Januari 2026, 18:26 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di dalam lubang raksasa atau sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, terdapat air jernih yang sempat dikira bisa diminum.

Beberapa waktu sejak kemunculan sinkhole pada awal Januari 2026, warga pergi ke lokasi kejadian untuk mengambil air tersebut. Mereka percaya air sinkhole berkhasiat mengobati berbagai penyakit.

Baca juga:

Kejernihan air sinkhole disebabkan bebatuan gamping cenderung menjadi penyaring alami. Struktur batu gamping sangat berpori, dengan kandungan mineral kalsit yang tinggi.

Namun, jernih bukan berarti bisa langsung diminum.

"Iya, (kejernihannya) menipu, (seolah-olah bisa diminum) karena seperti air minum dalam kemasan (AMDK)," tutur Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari kepada Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

Jangan minum air sinkhole, meski terlihat jernih

Asal air sinkhole

Untuk mengetahui keamanan air dalam sinkhole, perlu dipahami awal kemunculan air tersebut.

Sinkhole terjadi akibat runtuhnya lapisan batu gamping atau kapur di bawah tanah, khususnya ketika hujan lebat mengguyur kawasan dengan lapisan bebatuan gamping yang telah rapuh.

Sebagai penyangga, lapisan bebatuan tersebut semakin rapuh karena air bersifat asam dari permukaan yang terserap ke tanah melarutkan unsur kimia, mineral kalsit, yang terkandung dalam batuan gamping.

Air bersifat asam yang mengalir secara terus-menerus melalui celah rekahan,menyebabkan rongga dalam bebatuan gamping semakin membesar.

Seiring berjalannya waktu, rongga-rongga dalam lapisan bebatuan gamping menjadi saling terhubung satu sama lainnya, yang pada gilirannya membentuk air sungai di bawah permukaan tanah.

"Karena berada di (kawasan) batu gamping dan airnya itu saya curigai mengalir juga. Jadi, pasokan airnya besar, karena kalau misalnya enggak ada air sungai di bawah tanah, ya kemungkinan airnya tidak semelimpah itu," ucap Adrin.

"Di sinkhole itu sebenarnya ada air yang sangat besar, tetapi enggak bisa muncul ke permukaan. Ketika lapisan tanah penutupnya terbuka maka air yang volumenya besar itu akhirnya naik ke permukaaan kan," tambah dia.

Baca juga:

Air sinkhole mengandung bakteri berbahaya

Lubang besar di Limapuluh Kota, Minggu (4/1/2025). Air jernih dari sinkhole di Limapuluh Kota yang sempat diambil warga dipastikan mengandung bakteri E. coli berdasarkan hasil pemeriksaan pemerintah.Foto: BPBD Limapuluh Kota Lubang besar di Limapuluh Kota, Minggu (4/1/2025). Air jernih dari sinkhole di Limapuluh Kota yang sempat diambil warga dipastikan mengandung bakteri E. coli berdasarkan hasil pemeriksaan pemerintah.

Air sinkhole mengandung bakteri berbahaya, seperti Escherichia coli (E-Coli). Kata Adrin, kualitas air dari sinkhole kemungkinan besar mengandung asam.

Air tersebut juga umumnya berasal dari sungai bawah tanah dan hujan sehingga tidak bisa langsung disimpulkan layak untuk dikonsumsi.

Air sinkhole harus melalui analisis kimia terlebih dahulu yang mencakup kejernihan, warna, bau, rasa, potential of hydrogen (pH), serta kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli dan logam berat, sebagaimana standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan.

"Masyarakat di Kabupaten Limapuluh Kota mengambil air itu untuk langsung diminum. Katanya bisa menyembuhkan penyakit. Itu kan ada bakteri E-Coli yang bisa bikin diare," ucap dia.

Baca juga: Krisis Air Bersih, KLH Kirim 10.000 Galon dan Alat Penjernih ke Aceh

Warga yang penasaran melihat dari dekat lubang sinkhole yang terbentuk di tengah ruas jalan raya jalan selingkar Wilis, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis(27/2/2025).Dok. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko Warga yang penasaran melihat dari dekat lubang sinkhole yang terbentuk di tengah ruas jalan raya jalan selingkar Wilis, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis(27/2/2025).

Menurut Adrin, AMDK biasanya mengambil sumber air di akuifer atau lapisan tanah di kedalaman sekitar 60-100 meter, yang terlindungi secara alami dari kontaminasi limbah. 

Sementara itu, kedalaman sinkhole hanya sekitar lima meter di bawah tanah. Batu gamping dengan rongga atau porinya tidak mampu menyaring bakteri atau kontaminasi limbah dari permukaan tanah.

"Itu sungai di bawah tanah, bukan air tanah, bukan air yang di ambil di akuifer seperti AMDK," ujar Adrin.

Baca juga: Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy mengatakan, klaim bahwa air dari sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit adalah kabar bohong.

Berdasarkan hasil kajian Dinas Kesehatan, air sinkhole memiliki pH di bawah angka 6,5 dan sudah tercemar bakteri E-Coli sehingga berbahaya jika dikonsumsi secara langsung.

"Malahan airnya berbahaya bagi kesehatan karena mengandung bakteri," tutur Vasko kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau