Penulis
KOMPAS.com - Pemanasan global disebut telah mencapai bagian terdalam Samudera Arktik, menurut pengamatan yang dilakukan sejak tahun 1990-an. Padahal selama ini wilayah Arktik dianggap relatif aman dari dampak pemanasan global.
"Pemanasan ini secara historis dikaitkan dengan pemanasan geotermal, sedangkan dampak perubahan iklim global dan Arktik terhadap pemanasan laut dalam dan dasar Laut Arktik masih belum terpecahkan," tulis penelitian dari tim Ocean University of China, dilansir dari laman Science Advances, Minggu (18/1/2026).
Baca juga:
Penelitian tersebut menunjukkan, air laut hangat dari Samudera Atlantik telah merambat hingga ke dasar Arktik.
Para peneliti menganalisis data terbaru yang dikumpulkan menggunakan kapal pemecah es. Data tersebut digunakan untuk mengukur suhu di kedalaman laut yang sebelumnya sangat jarang diteliti, dilansir dari NewScientist.
Dalam 40 tahun terakhir, luas es laut Arktik telah menyusut sekitar 40 persen. Penyebab utamanya adalah pemanasan atmosfer yang langsung memengaruhi permukaan laut.
Kendati demikian, dampak tersebut ternyata jauh lebih dalam.
Baca juga:
Dalam salah satu dari dua cekungan besar Samudera Arktik yaitu cekungan Eurasia, para peneliti menemukan peningkatan suhu yang nyata.
Air laut pada kedalaman 1.500 hingga 2.600 meter telah menghangat sekitar 0,074 derajat celsius sejak tahun 1990.
Angka tersebut terlihat kecil bila dilihat sepintas, tapi dampak energinya cukup besar.
Pemanasan tersebut mewakili perpindahan energi hampir 500 triliun megajoule. Jika energi sebesar itu berada di permukaan laut, jumlahnya cukup untuk mencairkan hingga sepertiga luas minimum es laut Arktik.
"Laut dalam ternyata jauh lebih aktif daripada yang kita duga. Saya kira laut dalam bisa saja memanas, tapi tidak secepat ini," ucap anggota tim penelitian, Xianyao Chen.
Penelitian terbaru mengungkap pemanasan iklim kini menjangkau laut terdalam Arktik dan berpotensi memicu ancaman baru.Samudera Arktik terbagi menjadi dua cekungan besar oleh pegunungan bawah laut yang membentang dari Greenland hingga Siberia. Kedua wilayah ini memiliki karakter yang sangat berbeda.
Cekungan Amerasia relatif terisolasi dari Samudera Pasifik karena terhalang Selat Bering yang dangkal. Sementara itu, cekungan Eurasia menerima aliran air hangat dari Samudra Atlantik.
Air hangat tersebut dibawa oleh sistem sirkulasi laut besar yang dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC). Arus ini mengalir dari Atlantik menuju utara, menyusuri pesisir Skandinavia, lalu masuk ke lapisan atas Arktik.
Saat musim dingin, air laut membeku menjadi es. Dalam proses ini, garam terdorong keluar dari kristal es. Air yang kaya garam menjadi lebih berat, lalu tenggelam ke dasar laut. Bersamaan dengan itu, panas dari Atlantik ikut terbawa ke kedalaman.
Selain itu, panas alami dari dalam bumi atau panas geotermal juga terus menghangatkan dasar cekungan Eurasia.
Sebelumnya, pemanasan laut dalam ini masih dapat diimbangi oleh aliran air dingin dari cekungan di timur Greenland. Air tersebut dingin dan asin sehingga mampu menetralkan panas dari Atlantik dan panas geotermal.
Kendati demikian, situasi tersebut berubah. Pencairan lapisan es Greenland telah memasukkan lebih banyak air tawar ke laut. Air tawar menghambat proses tenggelamnya air asin yang dingin, alhasil suplai air dingin ke laut dalam melemah.
Suhu laut dalam di cekungan Greenland pun meningkat dari -1,1 derajat celsius menjadi -0,7 derajat celsius.
Akibat perubahan ini, air dingin dari Greenland tidak lagi mampu menyeimbangkan panas yang masuk ke Samudra Arktik.
"Pemanasan di cekungan Greenland kini telah meluas hingga ke Arktik,” ujar anggota tim peneliti, Ruizhe Song.
Baca juga:
Penelitian ini mengungkap adanya mekanisme pemanasan baru di laut terdalam Arktik. Temuan ini memperluas bukti bahwa pemanasan global menjangkau hampir seluruh sistem Bumi.
Pemanasan laut dalam ini berpotensi memicu dampak lanjutan. Salah satunya adalah mempercepat pencairan es laut dari bawah.
Dampak lain yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan mencairnya permafrost bawah laut. Di dalam permafrost tersebut terdapat endapan mirip es yang disebut clathrate, yang menyimpan gas metana.
Jika terganggu, metana bisa terlepas ke atmosfer dan mempercepat pemanasan global.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya