Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karena Perubahan Iklim, Padang Tundra Arktik Lepaskan Lebih Banyak Emisi

Kompas.com, 13 Desember 2024, 16:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Setelah menjadi penyimpan karbon dioksida selama ribuan tahun lamanya, pada tundra Arktik kini berubah menjadi penghasil emisi.

Padang tundra adalah bioma yang terdiri dari dataran luas tanpa pepohonan karena suhu lingkungan yang sangat rendah.

Temuan tersebut mengemuka berdasarkan studi terbaru dari badan kelautan dan atmosfer Amerika Serikat (AS) atau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Baca juga: Es di Samudra Arktik Diprediksi Akan Mencair Lebih Cepat

Dalam studi berjudul 2024 Arctic Report Card tersebut mengungkapkan, suhu udara permukaan tahunan di Arktik tahun ini adalah yang terhangat kedua yang pernah tercatat sejak tahun 1900.

Penulisan laporan tersebut dipimpin oleh para ilmuwan dari Woodwell Climate Research Center di Falmouth, Massachusetts.

Perubahan tersebut terjadi tak lepas dari pengaruh perubahan iklim. Dalam studinya, para ilmuwan mendapatkan fakta bahwa Arktik memanas lebih cepat daripada rata-rata global selama 11 tahun berturut-turut.

Saat ini, Arktik memanas hingga empat kali lipat daripada laju pemanasan global, menurut para penulis.

Baca juga: Hampir Semua Es Laut Arktik Diperkirakan Bisa Mencair pada Musim Panas 2027

Kondisi ini menyebabkan lapisan es mencair di padang tundra Arktik mencair lebih banyak.

Ketika lapisan es mencair, karbon yang terperangkap di tanah beku diurai oleh mikroba dan lepas ke atmosfer sebagai karbon dioksida dan metana, dua gas rumah kaca yang kuat.

Sue Natali, seorang ilmuwan di Woodwell Center yang berkontribusi pada penelitian tersebut menuturkan, studi tersebut menjadi gerbang penting untuk pengukuran emisi dalam skala besar.

"Kita memerlukan pengetahuan yang akurat, holistik, dan komprehensif tentang bagaimana perubahan iklim akan memengaruhi jumlah karbon yang diserap dan disimpan oleh Arktik. San seberapa banyak yang dilepaskan kembali ke atmosfer," kata Natali, sebagaimana dilansir The Guardian, Selasa (10/12/2024).

Baca juga: Kabar Baik, Peneliti di Arktik Temukan Cara Tebalkan Es Laut

Administrator NOAA Rick Spinrad mengatakan, tundra Arktik kini mengeluarkan lebih banyak karbon daripada yang dapat disimpannya.

"Ini adalah satu lagi tanda, yang diprediksi oleh para ilmuwan, tentang konsekuensi dari pengurangan polusi bahan bakar fosil yang tidak memadai," kata

Di sisi lain, perubahan iklim yang disebabkan manusia juga membuat kebakaran hutan di daerah lintang tinggi menjadi lebih besar.

Kebakaran hutan membakar tumbuhan dan bahan organik tanah lalu melepaskan karbon ke atmosfer.

Baca juga: Permafrost Arktik yang Mencair Bisa Lepaskan Bom Merkuri

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau