Editor
Esther mengatakan sarana-prasarana seperti jalan, akses layanan dasar, dan fasilitas penunjang pemulihan harus segera dibenahi karena menjadi prasyarat distribusi bantuan, evakuasi, serta aktivitas ekonomi warga di wilayah terdampak.
“Kalau sawah dikejar, kan ada risiko kalau cuaca ekstrem nanti takutnya gagal panen, jadi sarana-prasarana publik itu juga harus dibenahi,” ujar Esther.
Baca juga: Kemenhut: Kayu Hanyutan Banjir hanya Bisa Dimanfaatkan untuk Rehabilitasi Pascabencana
Ia menilai pemulihan sawah pascabencana sebaiknya menjadi pintu masuk pembenahan tata kelola bencana yang lebih terencana, termasuk pemetaan wilayah rawan banjir agar intervensi pertanian tidak dilakukan secara seragam tanpa mitigasi risiko.
“Harus dipetakan daerah yang rawan banjir dan yang tidak agar hasilnya optimal,” tuturnya.
Ia juga menekankan perlunya kerangka pembiayaan jangka menengah yang terpadu agar pemulihan sawah tidak berhenti sebagai respons darurat, melainkan terintegrasi dengan strategi ketahanan pangan dan adaptasi iklim.
“Pemulihan sawah tidak bisa setengah-setengah. Kalau pendanaannya nanggung, justru akan mahal karena harus diperbaiki berulang kali,” ucap Esther.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya