Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Banjir akibat Cuaca Ekstrem, BPBD Jakarta Semai 1,6 Ton NaCl

Kompas.com, 19 Januari 2026, 18:22 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hari keempat untuk mencegah banjir akibat cuaca ekstrem di Jakarta dan sekitarnya.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, Mohamad Yohan mengatakan tiga sorti penerbangan pesawat CASA 212 A-2105 membawa 1,6 ton bahan semai natrium klorida (NaCl).

Baca juga: 

Operasi Modifikasi Cuaca hari keempat ini difokuskan pada wilayah perairan dan wilayah selatan Jakarta sebagai langkah strategis untuk mengurangi potensi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah daratan DKI Jakarta,” kata Yohan dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).

Cuaca ekstrem, BPDB Jakarta lakukan penyemaian NaCL

Bertujuan meluruhkan awan hujan yang bergerak ke daratan Jakarta

Sorti pertama dilaksanakan pada pagi hari dengan fokus penyemaian awan di wilayah perairan utara Jakarta. Penyemaian 800 kilogram NaCl dilakukan pada ketinggian 8.000 (sekitar 2.438 meter) hingga 12.000 kaki (sekitar 3.657 meter).

Yohan menjelaskan, penyemaian di wilayah perairan bertujuan meluruhkan awan hujan yang bergerak menuju daratan Jakarta agar hujan terkonsentrasi di laut.

Pada sorti kedua, lanjut Yohan, penyemaian dilakukan di ketinggian 9.000-10.000 kaki (sekitar 2.743 meter sampai 3.048 meter), dengan awan target jenis Cumulus.

"Hasil pengamatan menunjukkan awan memiliki base sekitar 4.000 kaki (sekitar 1.219 meter) dan top hingga 11.000 kaki (sekitar 3.352 meter). Pada sorti ini digunakan kembali 800 kilogram NaCl untuk mengoptimalkan peluruhan awan hujan di wilayah perairan," tutur dia.

Prakiraan cuaca Jakarta hari ini.KOMPAS.com/Lalu Muammar Q Prakiraan cuaca Jakarta hari ini.

Pada siang hari, sorti ketiga dilaksanakan dengan fokus penyemaian di wilayah udara Bogor dan Depok. Yohan menjelaskan, penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000-6.000 kaki (sekitar1.524 meter sampai 1.828 meter), menggunakan 800 kg bahan semai kalsium oksida (CaO).

Tujuannya mengendalikan dan memecah awan hujan yang berpotensi bergerak ke wilayah Jakarta sehingga intensitas hujan di daerah hilir bisa ditekan.

Menurut Yohan, seluruh pelaksanaan OMC hari keempat dilakukan berdasarkan analisis meteorologi terkini dan pemantauan dinamika atmosfer secara berkelanjutan.

Penentuan lokasi dan ketinggian penyemaian disesuaikan dengan arah angin, jenis awan, serta potensi pertumbuhan awan hujan yang terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"BPBD Provinsi DKI Jakarta bersama BMKG dan TNI AU akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi harian selama periode pelaksanaan OMC untuk memastikan efektivitas upaya mitigasi cuaca ekstrem," ucap Yohan.

Baca juga:

Banjir Jakarta

Sebelumnya, banjir sempat melanda beberapa wilayah di Jakarta pada Minggu (18/7/2026) hingga Senin pagi.

Di Jakarta Barat, banjir merendam 20 RT yang tersebar di lima kelurahan. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kedaung Kali Angke dengan ketinggian air 20-50 sentimeter (cm), Rawa Buaya setinggi 10 cm, Jelambar setinggi 20 cm, Kamal dengan ketinggian 25 hingga 30 cm, serta Tegal Alur setinggi 30 cm.

Sementara itu, di Jakarta Timur, banjir terjadi di 11 RT. Kelurahan Rawa Terate banjir setinggi 65 cm, Kelurahan Cawang mencapai 80 cm akibat luapan Kali Ciliwung, serta Kelurahan Bidara Cina dengan ketinggian air 60-80 cm.

Adapun di Jakarta Utara, banjir merendam empat RT, masing-masing di Kelurahan Pademangan Barat setinggi 30 cm, Tanjung Priok setinggi 25 cm, serta Kapuk Muara setinggi 15 cm yang disebabkan hujan deras dan rob. Banjir kemudian dinyatakan surut pukul 07.00 WIB tadi.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau