KOMPAS.com - Rencana Amerika Serikat (AS) untuk meningkatkan ekstraksi minyak di Venezuela secara signifikan dapat meningkatkan jejak karbon industri bahan bakar fosil nasional lebih dari tiga kali lipat, menurut analisis Global Witness.
"Industri minyak Venezuela termasuk yang paling berpolusi dan kurang terawat di dunia," kata Kepala Investigasi Bahan Bakar Fosil Global Witness, Patrick Galey, dilansir dari Edie, Senin (19/1/2026).
Baca juga:
"Infrastrukturnya rusak parah dan bocor, tingkat pelepasan gas serta pembakarannya sangat tinggi. Kemungkinan besar Amerika Serikat juga tidak akan mencoba menangani masalah pembakaran gas di Venezuela tersebut," imbuh dia.
Produksi minyak Venezuela yang dipacu AS dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan metana enam kali lebih intensif dari rata-rata global.Produksi minyak di Venezuela saat ini mencapai sekitar 910.000 barel per hari. Angka tersebut bisa menghasilkan sekitar 221 juta ton emisi gas rumah kaca setiap tahunnya.
Global Witness menghitung, peningkatan produksi menjadi tiga juta barel per hari akan mengakibatkan angka emisi meningkat menjadi 979 juta ton emisi.
Rinciannya, ada 729 juta ton dari penggunaan bahan bakar dan 250 juta ton dari pelepasan dan pembakaran gas buang.
Global Witness menekankan bahwa bahkan peningkatan produksi minyak yang lebih kecil pun akan berdampak signifikan terhadap metana.
Analisis dari peneliti di Global Witness ini menemukan bahwa Venezuela memiliki kekurangan dalam ketersediaan infrastruktur untuk menangani metana yang berasal dari kebocoran dan pembakaran gas.
Adapun metana adalah gas rumah kaca yang cukup kuat. Pelepasan metana tambahan dalam skala besar dapat secara signifikan memengaruhi lintasan pemanasan global pada masa depan.
Metana dianggap 80 kali lebih kuat daripada karbon dioksida (CO2). Tidak hanya itu, metana bisa bertahan sekitar 12 tahun di atmosfer, dibandingkan dengan karbon dioksida yang bisa bertahan selama berabad-abad.
International Energy Agency (Badan Energi Internasional) juga memperkirakan bahwa minyak mentah Venezuela sudah enam kali lebih intensif metana dibanding rata-rata global.
Baca juga:
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan dirinya membuka kemungkinan untuk mengenakan tarif impor kepada negara-negara yang tidak mendukung rencana AS menguasai Greenland.
Sebelumnya, pada awal Januari 2026, Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk mengadilinya atas tuduhan pelanggaran perdagangan narkoba.
Banyak pihak berpendapat bahwa hal ini hanyalah kedok bagi keinginan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengendalikan Venezuela, guna memanfaatkan cadangan minyaknya yang sangat besar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya