Penulis
KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menjalankan program emberisasi sampah organik basah. Lewat program ini, sekitar 1.100 ember sampah organik basah bisa dikumpulkan setiap hari dari seluruh wilayah kota.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 27,5 ton sampah organik basah per hari. Sampah itu tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir, tapi dimanfaatkan dan disalurkan ke para peternak.
Baca juga:
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Supriyanto, mengatakan bahwa program ini melibatkan banyak mitra offtaker (pengumpul) mandiri.
“Untuk mitra offtaker mandiri yang dilibatkan ada 12, meliputi peternak ayam, bebek, maggot, ikan, dan babi,” ujar Supriyanto, dilansir dari Antara, Selasa (27/1/2026).
Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengurangi beban sampah kota yang selama ini terus meningkat.
Pemkot Yogyakarta menghimpun 1.100 ember sampah organik basah per hari lewat program emberisasi di seluruh kelurahan.Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menuturkan bahwa sekitar 60 persen timbulan sampah di Kota Yogyakarta merupakan sampah organik.
Jika sampah jenis ini bisa dikelola dengan baik sejak awal maka jumlah sampah residu yang tersisa akan jauh berkurang.
Menurut Hasto, ketika sampah organik dapat terkelola, sisa sampah yang harus ditangani tinggal sekitar 40 persen. Sampah residu tersebut kemudian dapat diolah melalui unit pengelolaan sampah milik Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan berkelanjutan dibanding hanya mengandalkan pembuangan akhir.
Baca juga:
Sebagai informasi, program emberisasi dijalankan hingga ke tingkat kelurahan. Saat ini, seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta telah melaksanakan program ini.
Pemerintah Kota Yogyakarta telah membagikan ribuan ember kepada para penggerobak sampah di 45 kelurahan. Ember tersebut digunakan khusus untuk menampung sampah organik basah.
Para penggerobak kemudian mengambil sampah dari rumah tangga. Warga diminta mengumpulkan sampah organik basah menggunakan galon-galon bekas. Cara ini dinilai praktis dan mudah dilakukan oleh masyarakat.
Setelah dikumpulkan, sampah tersebut langsung disalurkan kepada para mitra peternak. Dengan cara ini, sampah tidak menumpuk dan langsung memiliki nilai guna.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya