Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi

Kompas.com, 27 Januari 2026, 14:33 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menjalankan program emberisasi sampah organik basah. Lewat program ini, sekitar 1.100 ember sampah organik basah bisa dikumpulkan setiap hari dari seluruh wilayah kota.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 27,5 ton sampah organik basah per hari. Sampah itu tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir, tapi dimanfaatkan dan disalurkan ke para peternak.

Baca juga:

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Supriyanto, mengatakan bahwa program ini melibatkan banyak mitra offtaker (pengumpul) mandiri.

“Untuk mitra offtaker mandiri yang dilibatkan ada 12, meliputi peternak ayam, bebek, maggot, ikan, dan babi,” ujar Supriyanto, dilansir dari Antara, Selasa (27/1/2026).

Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengurangi beban sampah kota yang selama ini terus meningkat.

Pemkot Yogyakarta kumpulkan sampah organik basah per hari

Harus dipilah sejak awal

Pemkot Yogyakarta menghimpun 1.100 ember sampah organik basah per hari lewat program emberisasi di seluruh kelurahan.Freepik Pemkot Yogyakarta menghimpun 1.100 ember sampah organik basah per hari lewat program emberisasi di seluruh kelurahan.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menuturkan bahwa sekitar 60 persen timbulan sampah di Kota Yogyakarta merupakan sampah organik.

Jika sampah jenis ini bisa dikelola dengan baik sejak awal maka jumlah sampah residu yang tersisa akan jauh berkurang.

Menurut Hasto, ketika sampah organik dapat terkelola, sisa sampah yang harus ditangani tinggal sekitar 40 persen. Sampah residu tersebut kemudian dapat diolah melalui unit pengelolaan sampah milik Pemerintah Kota Yogyakarta.

Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan berkelanjutan dibanding hanya mengandalkan pembuangan akhir.

Baca juga:

Gunakan ember untuk menampung sampah

Sebagai informasi, program emberisasi dijalankan hingga ke tingkat kelurahan. Saat ini, seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta telah melaksanakan program ini.

Pemerintah Kota Yogyakarta telah membagikan ribuan ember kepada para penggerobak sampah di 45 kelurahan. Ember tersebut digunakan khusus untuk menampung sampah organik basah.

Para penggerobak kemudian mengambil sampah dari rumah tangga. Warga diminta mengumpulkan sampah organik basah menggunakan galon-galon bekas. Cara ini dinilai praktis dan mudah dilakukan oleh masyarakat.

Setelah dikumpulkan, sampah tersebut langsung disalurkan kepada para mitra peternak. Dengan cara ini, sampah tidak menumpuk dan langsung memiliki nilai guna.

Penjemputan sampah organik kering

Pemkot Yogyakarta menghimpun 1.100 ember sampah organik basah per hari lewat program emberisasi di seluruh kelurahan.freepik.com Pemkot Yogyakarta menghimpun 1.100 ember sampah organik basah per hari lewat program emberisasi di seluruh kelurahan.

Selain sampah organik basah, DLH Kota Yogyakarta juga menangani sampah organik kering. Jenis sampah ini meliputi daun, sapuan jalan, dan tebangan pohon.

Menurut Supriyanto, penjemputan sampah organik kering saat ini mencapai sekitar tiga truk per hari. Jumlah tersebut setara dengan 7,5 ton sampah organik kering setiap hari.

Terdapat 45 titik penjemputan yang tersebar di seluruh wilayah Kota Yogyakarta. Masyarakat diminta mengumpulkan sampah organik kering di masing-masing kelurahan sebelum diangkut oleh petugas.

Jika ada yang mengalami kesulitan dalam membuang atau memilah sampah, Pemerintah Kota Yogyakarta menyediakan solusi.

"Jika ada masyarakat yang kesulitan membuang sampah, bisa menghubungi petugas pengawas pemilahan sampah di masing-masing kelurahan," tutur Supriyanto.

Baca juga:

Diolah jadi pupuk organik

Pemerintah Kota Yogyakarta tidak hanya mengumpulkan sampah organik. Sampah tersebut juga diolah kembali agar memberi manfaat bagi lingkungan.

Untuk sampah organik kering, Pemerintah Kota melakukan pengolahan di unit pengolahan pupuk organik yang berada di beberapa lokasi, di antaranya Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta.

Selain itu, Pemerintah Kota Yogyakarta juga tengah menyiapkan unit pengolahan pupuk organik baru di Tegalrejo dan Tegalgendu, Kota Yogyakarta.

Keberadaan unit ini diharapkan mampu memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis sirkular. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau