Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ronny P Sasmita
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution

Penikmat kopi yang nyambi jadi Pengamat Ekonomi

Lemahnya Etika Sosial Proyek Panas Bumi di Indonesia

Kompas.com, 28 Januari 2026, 08:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Kedua, model komunikasi. Program literasi energi harus diperluas secara masif dan mendalam.

Perguruan tinggi dan LSM harus diarahkan untuk bekerja sama dalam mengembangkan lokakarya partisipatif, menggunakan bahasa lokal dan metode yang sesuai dengan budaya setempat.

Gunanya adalah untuk menjelaskan cara kerja panas bumi secara detail, risiko yang mungkin timbul, serta langkah mitigasinya.

Diskusi semacam ini harus dilakukan secara jujur dengan membuka semua perkara, baik positif maupun negatifnya, di atas meja.

Dengan metode kejujuran ini, berdasarkan berbagai penelitian tentang SLO di seluruh dunia, justru menumbuhkan kepercayaan lebih besar daripada mengobral janji secara berlebihan.

Dengan mengaitkan panas bumi pada kebutuhan konkret, misalnya lapangan kerja, perlindungan air bersih, atau elektrifikasi desa, tujuan transisi iklim global justru bisa lebih mudah diterjemahkan ke dalam manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Ketiga, kemitraan pengetahuan. Transisi energi tidak bisa dikelola hanya oleh insinyur dan bankir. Ilmuwan sosial, antropolog, dan universitas lokal harus dilibatkan sejak dari awal.

Keahlian mereka dalam dinamika budaya, pembangunan kepercayaan, dan mediasi konflik sangatlah penting.

Dengan menggandeng akademisi sejak tahap perencanaan, pemerintah dan pengembang bisa mengantisipasi masalah sedini mungkin alias tidak sekadar bereaksi saat krisis muncul.

Dari sisi keilmuan pun, kemitraan semacam ini akan memperkuat kapasitas intelektual nasional, sehingga transisi energi tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga pengetahuan.

Tak lupa, para investor pun memegang peran strategis, baik domestik maupun internasional. Lembaga keuangan internasional yang belakangan justru semakin mengedepankan standar ESG yang mengandung SLO sebagai prasyarat utama pendanaannya sangat berperan di dalam mempermulus legitiamsi sosial proyek-proyek energi terbarukan.

Sehingga, secara alami insentif akan bergeser. Pengembang yang serius melibatkan masyarakat akan mendapatkan prioritas pembiayaan dari para investor, sementara yang mengandalkan kekuatan politik dan aparat akan pelan-pelan tersisih.

Toh memang dalam jangka panjang, proyek apapun, terutama proyek-proyek yang membutuhkan lahan luas atau berpotensi mengganggu ekosistem lingkungan, yang berhasil membangun kepercayaan dan persetujuan dari masyarakat lokal akan jauh lebih aman dan berkelanjutan.

Realisasi visi energi panas bumi yang adil

Jika Indonesia mampu melakukan pergeseran ini, panas bumi dipastikan akan bisa menjadi motor dekarbonisasi di satu sisi dan juga menjadi model pembangunan partisipatif di sisi lain.

Di satu sisi, masyarakat akan memahami dirinya sebagai pemangku kepentingan, bukan penghambat. Lalu, universitas akan kembali berfungsi sebagai jembatan antara sains dan masyarakat.

Di sisi lain, investor akan terus berupaya menemukan proyek yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga “sah secara sosial”. Karena kalau tidak sah secara sosial, taruhannya justru sangat besar.

Tanpa SLO, panas bumi akan terus memicu protes dan ketidakpercayaan, yang bisa berujung pada penghentian proyek atau biaya investasi yang terus dihantui pembengkakan, baik karena penundaan ataupun karena kerusakan akibat perlawanan yang tak pernah berhenti

Pendek kata, di satu sisi kekayaan panas bumi Indonesia adalah anugerah geologi yang patut disyukuri. Namun di sisi lain, mengubahnya menjadi energi berkelanjutan memerlukan lebih dari sekadar teknologi turbin dan sumur bor, tapi juga kepercayaan sosial secara maksimal, transparansi tingkat tinggi, dan inklusi.

Setiap megawatt listrik panas bumi harus diimbangi dengan legitimasi sosial yang setara. Setiap insentif fiskal harus diseimbangkan dengan perlindungan sosial. Dan setiap regulasi harus disertai pengakuan pada suara masyarakat.

Hari ini di Indonesia, jalan menuju nol emisi tidak hanya melintasi gunung berapi, tetapi juga desa-desa dan segala budaya serta etika kemanusiaan yang melekat bersamanya.

Jika Indonesia memang ingin terdepan dalam hal energi bersih, terutama dari sumber panas bumi, Indonesia mau tak mau harus menerima kenyataan bahwa tak satu pun proyek akan bertahan lama tanpa Social License to Operate (SLO).

Artinya, pengembang dan pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus belajar mendengar sebelum mengebor, belajar bermitra dengan rakyat sendiri sebelum membangun, dan harus belajar menghormati sebelum mengekstraksi.

Hanya dengan pemberian prioritas pada persetujuan dan penerimaan sosial, Indonesia bisa membuka sepenuhnya potensi energi di bawah tanahnya dan menyalakan masa depan yang berkelanjutan bagi rakyatnya.

Tanpa persetujuan sosial, proyek akan dianggap sebagai perampokan, bahkan penjajahan, sekalipun kata-kata ini tak diucapkan secara terbuka oleh masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau