KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem berupa hujan ringan sampai hujan lebat berlangsung hingga awal Februari 2026, tepatnya Senin (2/2/2026).
Wilayah yang perlu waspada, antara lain Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Baca juga:
Lalu Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
Menurut BMKG, hujan lebat bakal berlangsung hingga 2 Februari 2026. Beberapa wilayah diimbau untuk waspada. Aktivitas monsun Asia yang ditandai meningkatnya kecepatan angin di Laut China Selatan terpantau dalam sepekan terakhir.
Akibatnya, lanjut Andri, hujan lebat hingga ekstrem melanda Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Sumatra Selatan dari Jumat (23/1/2026) sampai Senin (26/1/2026) lalu.
"Berdasarkan analisis dinamika atmosfer, cuaca signifikan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor, salah satunya penguatan monsun dingin Asia," ucap dia.
Massa udara dari Asia bergerak ke arah selatan lalu memasuki Indonesia. Andri mencatat bahwa peningkatan kecepatan angin juga teramati di Selat Karimata, mengindikasikan aktivitas cross equatorial northerly surge (CENS) atau aliran angin kencang dari utara melintasi ekuator menuju belahan bumi selatan.
"Saat bertemu dengan massa udara dari belahan bumi selatan, aliran udara dari Asia tersebut membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis atau inter-tropical convergence zone (ITCZ)," papar Andri.
Baca juga:
Pola awan yang terbentuk pada ITCZ memanjang dari Samudera Hindia barat Bengkulu, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Laut Arafura.
Di samping itu, Andri mengungkap kelembapan tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat menyebabkan masifnya pembentukan awan serta hujan di sebagian Indonesia bagian selatan.
Hal itu memicu serangkaian bencana hidrometeorologis berupa banjir ataupun tanah longsor dalam sepekan terakhir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya