Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenaikan Permukaan Air Ubah Lahan Gambut Jadi Alat Lawan Krisis Iklim

Kompas.com, 28 Januari 2026, 18:44 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Dalam keadaan alaminya, lahan gambut menjadi salah satu penyimpan karbon terbesar. Sebab, tanah gambut jenuh air dan rendah oksigen, dengan material tumbuhan mati terurai sangat lambat.

Lapisan gambut yang tebal terbentuk dari tumbuhan dengan kondisi tidak sepenuhnya terurai dan terakumulasi selama ribuan tahun.

Baca juga:

Ketika lahannya dikeringkan untuk penggunaan pertanian, permukaan air turun dan oksigen masuk ke lapisan gambut.

Mikroorganisme kemudian dapat menguraikan material tumbuhan tua jauh lebih cepat, melepaskan karbon yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Alhasil, pengeringan lahan berkontribusi menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) karbon dioksida (CO2).

Nasib lahan gambut yang dikeringkan, pengaruhi emisi GRK

Pengeringan lahan gambut bisa melepaskan CO2 dalam jumlah besar

Tingginya air tanah di lahan gambut Arktik yang dibudidayakan kemungkinan menjadi langkah efektif untuk mengatasi krisis iklim.
Dok. Freepik/wirestock Tingginya air tanah di lahan gambut Arktik yang dibudidayakan kemungkinan menjadi langkah efektif untuk mengatasi krisis iklim.

Lahan gambut yang luas di Eropa dan wilayah Nordik telah dikeringkan sejak tahun 1600-an. Banyak penelitian telah menyelidiki bagaimana pengeringan dan perubahan permukaan air memengaruhi emisi GRK.

Namun, masih sedikit pengetahuan tentang lahan gambut yang dikeringkan di wilayah paling utara, di mana iklimnya dicirikan oleh suhu rendah dan musim tanam berdurasi pendek.

"Dari penelitian di wilayah yang lebih hangat, kita tahu bahwa peningkatan permukaan air tanah di lahan gambut yang dikeringkan dan dibudidayakan sering kali mengurangi emisi CO2, karena gambut terurai lebih lambat," ujar peneliti Norwegian Institute of Bioeconomy Research (NIBIO), Junbin Zhao, dilansir dari Phys.org, Rabu (28/1/2026).

Pada saat yang sama, kondisi yang lebih basah dan rendah oksigen bisa meningkatkan metana karena mikroba penghasil metana berkembang biak ketika hampir tidak ada oksigen di dalam tanah.

Dalam kondisi tertentu, emisi dinitrogen oksida juga dapat meningkat. Hal ini terjadi saat tanah lembap, tapi tidak sepenuhnya tergenang air sehingga penguraian nitrogen berhenti di tengah jalan dan menghasilkan dinitrogen oksida.

"Karena setiap GRK bereaksi berbeda terhadap perubahan permukaan air, satu gas dapat menurun sedangkan gas lain meningkat. Itulah mengapa penting untuk melihat keseimbangan gas secara keseluruhan. Kita perlu mengukur CO2, metana, dan dinitrogen oksida secara bersamaan dan sepanjang musim untuk memahami efek bersih yang sebenarnya di daerah pertanian paling utara," jelas Zhao.

Baca juga:

Berdasarkan hasil penelitian, pengeringan lahan gambut di lembah Pasvik, Norwegia utara, melepaskan emisi CO2 dalam jumlah besar.

Namun, saat air tanah dinaikkan hingga 25–50 sentimeter di bawah permukaan, emisi GRK turun tajam. Pada tingkat air yang lebih tinggi ini, emisi metana dan dinitrogen oksida yang dilepaskan juga rendah.

"Sehingga menghasilkan keseimbangan gas keseluruhan yang jauh lebih baik. Dalam kondisi seperti itu, ladang gas bahkan menyerap sedikit lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskannya," ucapnya.

Tingginya air tanah di lahan gambut Arktik yang dibudidayakan kemungkinan menjadi langkah efektif untuk mengatasi krisis iklim.

"Temuan kami sangat menarik karena emisi diukur secara terus menerus sepanjang waktu. Ini berarti kami menangkap lonjakan singkat emisi yang luar biasa tinggi dan fluktuasi harian alami, detail yang sering terlewatkan ketika pengukuran hanya dilakukan sesekali," ujar Zhao.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau