Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perguruan Tinggi RI Masih Terlalu Akademik, Model Pendidikan Apa yang Cocok di Tengah Ketidakpastian Global?

Kompas.com, 24 November 2025, 08:41 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Model pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia dinilai masih terlalu akademik. Pendidikan terapan plus pembelajaran berkelanjutan dengan didukung data kebutuhan industri dinilai menjadi model paling cocok untuk menciptakan lulusan perguruan tinggi yang lebih bisa adaptif terhadap dinamika pasar kerja. Model pendidikan berkelanjutan tersebut juga dinilai paling cocok untuk menciptakan lulusan perguruan tinggi yang mempunyai daya saing tinggi di tengah ketidakpastian global.

"Model seperti University of Applied Sciences di Eropa sangat relevan, dosen adalah praktisi, pembelajaran berbasis proyek, dan mahasiswa terekspos ke dunia kerja sejak awal," ujar pengamat pendidikan, Ina Liem kepada Kompas.com, Rabu (19/11/2025).

Kata dia, hubungan antara kampus dan industri perlu diubah dari 'kerja sama simbolik' menjadi 'co-creation'. Industri harus ikut mendesain kurikulum mengajar, memberi proyek nyata, serta menyediakan data kebutuhan tenaga kerja. Tanpa data permintaan tenaga kerja, lulusan perguruan tinggi pasti mismatch.

"Dan, ternyata kita belum punya data demand," tutur Ina.

Di sisi lain, lulusan perguruan tinggi perlu dibekali konsep pembelajaran berkelanjutan (continous learning). "Jadi, bukan belajar 4 tahun lalu berhenti. Dunia kerja berubah setiap 2-3 tahun, karena itu micro-credentials, modul singkat, dan upskilling berkelanjutan harus menjadi budaya," ucapnya.

Menurut Ina, bimbingan karir dapat membantu mahasiswa mengantisipasi kebutuhan pasar kerja pasca kelulusan jika dilakukan secara berkelanjutan.

Baca juga: Melawan Intoleransi lewat Jalan Pendidikan

"Sebetulnya, bimbingan karir jangan hanya diartikan konsultasi 1-2 jam. Ini sebuah perjalanan dari kecil, karena harus mencocokkan profil kepribadian sejak lahir, exposure yang pas supaya minat dan bakat berkembang sesuai potensi, sambil riset berkala untuk terus update dengan kebutuhan industri," ujar Ina.

Sementara itu, peneliti sosiologi pendidikan di Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Anggi Afriansyah mengatakan, bimbingan karir dari dosen maupun pihak profesional mampu memberikan pencerahan bagi mahasiswa yang bisa membantunya mengantisipasi kebutuhan pasar kerja usai lulus kuliah.

Bimbingan karir dapat membuat mahasiswa semakin menyadari tantangan 'dunia kerja' yang akan mereka hadapi, termasuk keterampilan dan pengetahuan yang perlu disiapkan. Meski kompetensi yang bersifat teknikal sangat penting untuk menunjang pekerjaan, kata dia, keterampilan non-teknis (soft skill) juga tetap perlu diperhatikan.

"Riset-riset juga menunjukkan pentingnya emotional intelligent seperti self awareness, self management, social awareness, relationship management. Juga terkait dengan kemampuan untuk sosialisasi, kerja sama, kepemimpinan. Artinya, pendidikan tinggi perlu juga memperhatikan aspek-aspek tersebut," tutur Anggi, Jumat (20/11/2025).

Namun, 'dunia kerja' di Indonesia saat ini semakin kompleks. Imbasnya, mahasiswa sebenarnya perlu mendapatkan asupan yang memadai tentang kondisi kerja yang riil. Menurut Anggi, terlalu banyak tantangan yang menghadang mahasiswa lulusan perguruan tinggi saat ini.

Baca juga: Tingkatkan Mutu Pendidikan, Perguruan Tinggi Indonesia-Perancis Kerja Sama

Dalam konteks Indonesia, sudah terjadi deindustrialiasi yang menyebabkan adanya pergeseran dari industri ke jasa. Di sisi lain, di luar konteks ketenagakerjaan, ada banyak kompleksitas yang akan dijumpai oleh lulusan perguruan tinggi. Di antaranya, kenaikan biaya hidup, konflik geopolitik, krisis iklim, serta kemerosotan ekonomi semakin menambah gejolak terhadap perubahan ketenagakerjaan global yang didorong oleh teknologi.

"Ketidakmenentuan tersebut banyak terkait dengan isu struktural ketimbang konteksi personal di dalam diri mahasiswa. Artinya, juga sangat berpengaruh pada pendidikan yang akan diakomodasi untuk mendidik mahasiswa di perguruan tinggi," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
BUMN
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
Pemerintah
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau