KOMPAS.com - Model pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia dinilai masih terlalu akademik. Pendidikan terapan plus pembelajaran berkelanjutan dengan didukung data kebutuhan industri dinilai menjadi model paling cocok untuk menciptakan lulusan perguruan tinggi yang lebih bisa adaptif terhadap dinamika pasar kerja. Model pendidikan berkelanjutan tersebut juga dinilai paling cocok untuk menciptakan lulusan perguruan tinggi yang mempunyai daya saing tinggi di tengah ketidakpastian global.
"Model seperti University of Applied Sciences di Eropa sangat relevan, dosen adalah praktisi, pembelajaran berbasis proyek, dan mahasiswa terekspos ke dunia kerja sejak awal," ujar pengamat pendidikan, Ina Liem kepada Kompas.com, Rabu (19/11/2025).
Kata dia, hubungan antara kampus dan industri perlu diubah dari 'kerja sama simbolik' menjadi 'co-creation'. Industri harus ikut mendesain kurikulum mengajar, memberi proyek nyata, serta menyediakan data kebutuhan tenaga kerja. Tanpa data permintaan tenaga kerja, lulusan perguruan tinggi pasti mismatch.
"Dan, ternyata kita belum punya data demand," tutur Ina.
Di sisi lain, lulusan perguruan tinggi perlu dibekali konsep pembelajaran berkelanjutan (continous learning). "Jadi, bukan belajar 4 tahun lalu berhenti. Dunia kerja berubah setiap 2-3 tahun, karena itu micro-credentials, modul singkat, dan upskilling berkelanjutan harus menjadi budaya," ucapnya.
Menurut Ina, bimbingan karir dapat membantu mahasiswa mengantisipasi kebutuhan pasar kerja pasca kelulusan jika dilakukan secara berkelanjutan.
Baca juga: Melawan Intoleransi lewat Jalan Pendidikan
"Sebetulnya, bimbingan karir jangan hanya diartikan konsultasi 1-2 jam. Ini sebuah perjalanan dari kecil, karena harus mencocokkan profil kepribadian sejak lahir, exposure yang pas supaya minat dan bakat berkembang sesuai potensi, sambil riset berkala untuk terus update dengan kebutuhan industri," ujar Ina.
Sementara itu, peneliti sosiologi pendidikan di Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Anggi Afriansyah mengatakan, bimbingan karir dari dosen maupun pihak profesional mampu memberikan pencerahan bagi mahasiswa yang bisa membantunya mengantisipasi kebutuhan pasar kerja usai lulus kuliah.
Bimbingan karir dapat membuat mahasiswa semakin menyadari tantangan 'dunia kerja' yang akan mereka hadapi, termasuk keterampilan dan pengetahuan yang perlu disiapkan. Meski kompetensi yang bersifat teknikal sangat penting untuk menunjang pekerjaan, kata dia, keterampilan non-teknis (soft skill) juga tetap perlu diperhatikan.
"Riset-riset juga menunjukkan pentingnya emotional intelligent seperti self awareness, self management, social awareness, relationship management. Juga terkait dengan kemampuan untuk sosialisasi, kerja sama, kepemimpinan. Artinya, pendidikan tinggi perlu juga memperhatikan aspek-aspek tersebut," tutur Anggi, Jumat (20/11/2025).
Namun, 'dunia kerja' di Indonesia saat ini semakin kompleks. Imbasnya, mahasiswa sebenarnya perlu mendapatkan asupan yang memadai tentang kondisi kerja yang riil. Menurut Anggi, terlalu banyak tantangan yang menghadang mahasiswa lulusan perguruan tinggi saat ini.
Baca juga: Tingkatkan Mutu Pendidikan, Perguruan Tinggi Indonesia-Perancis Kerja Sama
Dalam konteks Indonesia, sudah terjadi deindustrialiasi yang menyebabkan adanya pergeseran dari industri ke jasa. Di sisi lain, di luar konteks ketenagakerjaan, ada banyak kompleksitas yang akan dijumpai oleh lulusan perguruan tinggi. Di antaranya, kenaikan biaya hidup, konflik geopolitik, krisis iklim, serta kemerosotan ekonomi semakin menambah gejolak terhadap perubahan ketenagakerjaan global yang didorong oleh teknologi.
"Ketidakmenentuan tersebut banyak terkait dengan isu struktural ketimbang konteksi personal di dalam diri mahasiswa. Artinya, juga sangat berpengaruh pada pendidikan yang akan diakomodasi untuk mendidik mahasiswa di perguruan tinggi," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya