Editor
KOMPAS.com — Masyarakat Kalimantan Timur berhasil mengoptimalkan limbah ternak menjadi sumber energi terbarukan melalui pemanfaatan teknologi biogas yang didampingi pemerintah daerah.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur mencatat telah memfasilitasi pembangunan 575 unit reaktor biogas bagi rumah tangga peternak yang tersebar di sejumlah kabupaten.
“Sebagai wujud komitmen pemerintah dalam pemerataan energi, kami telah memfasilitasi pembangunan sebanyak 575 unit reaktor biogas bagi rumah tangga peternak,” ujar Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto sebagaimana dikutip dari Antara, Kamis (29/1/2026).
Baca juga: Cerita Warga Sleman 10 Tahun Pakai Biogas Kotoran Sapi: Rumah Terang Meski Listrik Padam
Menurut Bambang, program pemanfaatan biogas tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan energi masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga peternak di Kalimantan Timur.
Salah satu kelompok penerima manfaat adalah Kelompok Tani Japa Maju di Desa Krayan Makmur, Kabupaten Paser. Ketua Kelompok Tani Japa Maju, Sukiyem, menyebut instalasi biogas sangat membantu aktivitas rumah tangga, khususnya bagi para ibu.
“Kehadiran instalasi biogas disambut antusias oleh ibu-ibu rumah tangga karena membantu aktivitas memasak tanpa harus bergantung sepenuhnya pada gas konvensional,” kata Sukiyem.
Pemanfaatan biogas juga menjadi solusi saat terjadi kelangkaan elpiji tiga kilogram di tingkat pengecer. Bambang menuturkan, penggunaan biogas berdampak langsung pada penghematan biaya rumah tangga.
“Warga yang biasanya menghabiskan empat tabung elpiji per bulan kini cukup menyisakan satu tabung sebagai cadangan darurat,” ujarnya.
Untuk menjamin keberlanjutan program, pemerintah daerah secara rutin memberikan pelatihan teknis perawatan instalasi biogas serta manajemen pemanfaatan limbah ternak kepada kelompok peternak.
Baca juga: Teknologi Biogas di Peternakan Jadi Solusi Energi Terbarukan yang Tak Pernah Padam
Kepala Desa Krayan Makmur, Akhmad, menjelaskan bahwa teknologi biogas tergolong efisien. Dengan memelihara satu ekor sapi dan perawatan yang disiplin, warga dapat memenuhi seluruh kebutuhan bahan bakar memasak dari gas metana yang dihasilkan.
Selain menghasilkan energi, proses fermentasi limbah ternak juga menghasilkan pupuk cair organik yang dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman sawit dan sayur-mayur.
Pupuk cair tersebut memiliki nilai ekonomi dengan harga jual sekitar Rp 2.000 per liter dan mampu memberikan tambahan pendapatan lebih dari Rp 500.000 per bulan bagi keluarga peternak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya