Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wadhwani Foundation Perluas Dampak Program Ketenagakerjaan di Indonesia

Kompas.com, 30 Januari 2026, 20:45 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga nirlaba global, Wadhwani Foundation memperkuat program penciptaan lapangan kerja dengan mendekatkan eksekusi ke tingkat negara bagian dan kota, termasuk di Indonesia.

Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja dan penempatan tenaga kerja hingga 2030.

Chief Executive Officer Wadhwani Foundation, Ajay Kela mengatakan penguatan eksekusi di tingkat kota dilakukan tanpa menghentikan program yang sudah berjalan.

Menurut dia, seluruh program peningkatan keterampilan kerja dan kewirausahaan tetap diberikan tanpa biaya bagi mitra maupun penerima manfaat.

Baca juga: Pemerintah Targetkan 1 Juta Lapangan Pekerjaan Lewat Kopdes Merah Putih

“Dengan bekerja lebih dekat ke ekosistem kota dan daerah, kami berharap dapat mempercepat penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan penempatan tenaga kerja, sejalan dengan target global kami hingga 2030,” ujar Ajay Kela dalam keterangan resminya, Jumat (30/1/2026).

Wadhwani Foundation menyebut program yang dijalankan ini bertujuan untuk memastikan program peningkatan keterampilan dan kewirausahaan dapat selaras dengan kebutuhan pasar tenaga kerja setempat.

Ajay menyatakan program di tingkat negara bagian dan kota memungkinkan koordinasi yang lebih erat dengan dunia usaha, institusi pendidikan, serta organisasi ekosistem ketenagakerjaan.

"Pendekatan ini juga dinilai dapat meningkatkan kecepatan pelaksanaan program, akuntabilitas, dan kejelasan hasil," jelas dia.

Selama lebih dari 10 tahun beroperasi di Indonesia, Wadhwani Foundation mencatat telah mendukung sekitar 35.000 peserta untuk menjadi tenaga kerja siap kerja melalui program peningkatan keterampilan.

Selain itu, lembaga ini juga telah melakukan pendampingan kepada sekitar 35.000 mahasiswa, calon wirausahawan, dan pelaku usaha.

Baca juga: Pemerintah Diminta Perbanyak Lapangan Pekerjaan untuk Berantas Premanisme

Wadhwani Foundation adalah organisasi nirlaba global yang didirikan pada 2001 oleh filantropis dan pengusaha teknologi asal India-Amerika, Romesh Wadhwani.

Lembaga ini berfokus pada penciptaan lapangan kerja berskala besar melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja (skill development), kewirausahaan, dan penguatan ekosistem inovasi.

Hingga kini, Wadhwani Foundation beroperasi di lebih dari 20 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Amerika Serikat. Secara global, organisasi ini menargetkan penciptaan 2,5 juta lapangan kerja baru dan 6 juta penempatan tenaga kerja hingga 2030 melalui kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau