Persentase anak dengan status gizi normal meningkat dari 69,39 persen menjadi 79,59 persen setelah intervensi tersebut berakhir. Sebaliknya, proporsi anak dengan status tidak tumbuh menurun dari 19,39 persen menjadi 11,22 persen yang mencerminkan efektivitas program dalam memperbaiki pertumbuhan anak secara terukur.
Selain gizi, YKDA bersama BNI membangun infrastruktur vital berupa fasilitas pipa air bersih di 30 titik strategis desa. Pembangunan ini mencakup 20 rumah warga serta 10 lokasi tempat umum yang sering diakses masyarakat seperti sekolah, gereja, serta rumah anyam.
Penyediaan akses air bersih tersebut kini membantu sekitar 263 keluarga dalam menjalankan aktivitas domestik serta menjaga kesehatan sanitasi lingkungan. Kehadiran infrastruktur ini menjadi solusi konkret bagi desa yang kerap mengalami krisis air bersih terutama saat memasuki musim kemarau panjang.
Masyarakat kini dapat menghemat waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk mencari air ke lokasi yang jauh karena akses distribusi sudah tersedia lebih dekat. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen YKDA dan BNI untuk meningkatkan kualitas hidup serta kenyamanan seluruh warga di wilayah binaan.
Tersedianya air bersih yang stabil diharapkan dapat menekan angka penyakit akibat lingkungan yang kurang higienis di kalangan masyarakat pedesaan. Terjaminnya akses kebutuhan dasar ini pun menjadi fondasi utama bagi peningkatan produktivitas serta kesejahteraan warga desa secara keseluruhan.
Sebagai ruang publik yang aman dan produktif, YKDA dan BNI membangun Rumah Anyam seluas 80 meter persegi di Desa Bubuatagamu. Bangunan tersebut mampu menampung hingga 20 orang sekaligus dan telah dilengkapi dengan area penyimpanan bahan baku serta ruang sortir produk hasil anyaman.
Marlin yang merupakan salah satu mama penganyam menyambut gembira kehadiran fasilitas baru tersebut sebagai pusat aktivitas harian mereka. Ia menuturkan, sebelum ada bangunan ini, para perempuan terbiasa bekerja secara terpisah di rumah masing-masing tanpa adanya ruang koordinasi yang memadai.
Menurut Marlin, keberadaan rumah anyam mempermudah para perempuan untuk belajar motif baru secara kolektif setiap harinya. Fasilitas ini juga berfungsi sebagai kantor administrasi untuk mengurus berbagai keperluan koperasi serta kegiatan pemberdayaan lainnya yang rutin diadakan oleh YKDA.
"Dulu, kami menganyam di mana-mana. Memang sekarang kami masih anyam di rumah sendiri-sendiri. Namun, dengan rumah anyam, kami bisa belajar motif baru sama-sama," ujar Marlin dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
Fasilitas tersebut kini diproyeksikan dapat meningkatkan produktivitas bagi 437 mama penganyam serta 237 pemanjat lontar di wilayah Flores Timur. Keberadaannya menjadi solusi terintegrasi dalam menjaga rantai produksi serta pelestarian tradisi menganyam lontar sebagai identitas budaya leluhur masyarakat setempat.
Semangat pelestarian itu juga dirayakan melalui Kegiatan Menganyam Bersama atau KMB yang melibatkan ratusan penganyam pada pertengahan Desember 2025. Acara tersebut menggambarkan betapa pentingnya peran perempuan dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup sekaligus menjadi pilar ekonomi keluarga.
Marlin menjelaskan, kegiatan menganyam bersama tersebut memberikan motivasi besar bagi dirinya dan para penganyam lainnya di desa untuk terus berkarya. Ia merasa jauh lebih bersemangat karena dapat bertukar pengetahuan serta mempelajari teknik baru yang dibagikan oleh penganyam dari berbagai kelompok desa.
"Di KMB ini kami juga jadi lebih pintar menganyam. Bisa belajar dari mama-mama lain. Bisa lihat cara-cara baru," tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa bekerja secara berkelompok membuat aktivitas menganyam terasa lebih ringan serta meningkatkan rasa kekeluargaan di antara para mama. Marlin merasa bangga karena produk hasil tangan perempuan Flores Timur kini mulai dikenal luas bahkan mampu menjangkau pasar di berbagai belahan dunia.
"Kami bersyukur sekali bisa ada di sini. Bisa kerja bersama. Bisa buat produk yang bikin orang lain pakai bersama di seluruh dunia," ucap Marlin.
Kehadiran Rumah Anyam dan rangkaian program kolaborasi YKDA bersama BNI tersebut diharapkan mampu memperkokoh ekosistem ekonomi kreatif di wilayah pedesaan NTT. Melalui dukungan yang komprehensif, tradisi menganyam kini bertransformasi menjadi tumpuan ekonomi yang kokoh sekaligus menjaga martabat budaya masyarakat setempat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya