Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Randi Syafutra
Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Seorang yang suka menulis

Blue Carbon Indonesia: Solusi Iklim atau Ilusi Pasar Hijau?

Kompas.com, 1 Februari 2026, 14:47 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BLUE carbon atau karbon biru kini dipromosikan sebagai salah satu andalan Indonesia dalam menghadapi krisis iklim global. Konsep ini merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa payau. Dengan kepemilikan sekitar 20 persen hutan mangrove dunia, Indonesia sering disebut sebagai negara kunci dalam agenda mitigasi perubahan iklim berbasis laut.

Secara ilmiah, potensi blue carbon memang luar biasa. Ekosistem pesisir mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan tropis daratan. Karbon tersebut tersimpan terutama di sedimen lumpur bawah air yang dapat bertahan ribuan tahun selama ekosistem tidak rusak.

Selain fungsi iklim, mangrove dan lamun juga melindungi pesisir dari abrasi, badai, dan mendukung mata pencaharian nelayan.

Masalahnya muncul ketika potensi ekologis ini diterjemahkan ke dalam mekanisme pasar. Sejak 2023, Indonesia membuka perdagangan karbon melalui IDX Carbon sebagai bagian dari skema Nilai Ekonomi Karbon. Pada 2026, blue carbon resmi masuk dalam arsitektur iklim nasional melalui Second Nationally Determined Contribution. Pemerintah juga menyiapkan pajak karbon dengan skema cap and tax untuk mendorong perusahaan membeli kredit karbon.

Baca juga: Apa Itu Blue Carbon? Ini Pengertian, Manfaat, dan Cara Menjaganya

Di atas kertas, desain ini terlihat rapi. Proyek karbon wajib terdaftar di Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim, diverifikasi lembaga independen, lalu diterbitkan dalam bentuk Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca atau SPE GRK. Sertifikat digital inilah yang diperdagangkan.

Pembeli tidak membeli lumpur atau pohon, melainkan klaim pengurangan emisi yang diakui secara hukum dan ilmiah. Namun, hingga awal 2026, praktik di lapangan menunjukkan sejumlah persoalan mendasar.

Pertama, harga karbon domestik masih sangat rendah. Kredit karbon Indonesia dilaporkan bisa 10 hingga 25 kali lebih murah dibandingkan harga internasional. Kondisi ini membuat proyek konservasi mangrove dan lamun sulit berkelanjutan secara ekonomi. Biaya riset, pengukuran sedimen, dan pemantauan satelit jauh lebih mahal daripada nilai karbon yang dijual.

Kedua, kepastian regulasi belum sepenuhnya kokoh. Pajak karbon memang direncanakan mulai berlaku pada 2026, tetapi penentuan batas emisi setiap sektor masih menjadi perdebatan teknis. Tanpa batas emisi yang tegas, insentif bagi industri untuk membeli kredit blue carbon menjadi lemah. Pasar karbon berisiko stagnan dan hanya ramai di atas kertas.

Ketiga, isu sosial di wilayah pesisir belum tertangani dengan baik. Banyak ekosistem mangrove dan lamun berada di ruang hidup masyarakat adat dan nelayan lokal. Proyek karbon skala besar berpotensi memicu konflik lahan atau praktik green grabbing.

Risiko ini muncul ketika akses masyarakat terhadap pesisir dibatasi atas nama konservasi dan perdagangan karbon. Tanpa mekanisme pembagian manfaat yang adil, blue carbon berpotensi menciptakan ketimpangan baru.

Keempat, tantangan teknis pengukuran masih besar. Karbon biru tidak hanya tersimpan pada vegetasi, tetapi terutama di sedimen bawah laut. Pengukuran karbon sedimen membutuhkan teknologi tinggi, laboratorium khusus, dan biaya mahal. Kapasitas ini belum merata di Indonesia.

Ketergantungan pada lembaga verifikasi tertentu berpotensi menciptakan hambatan akses bagi komunitas lokal atau proyek kecil. Data transaksi juga menunjukkan perlunya refleksi.

Baca juga: Peneliti: Blue Carbon Indonesia Simpan 17 Persen Cadangan Dunia

Hingga akhir Desember 2025, total transaksi di IDX Carbon baru mencapai sekitar 1,6 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai Rp80,75 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan, tetapi masih jauh dari kebutuhan pembiayaan konservasi pesisir dan target dekarbonisasi nasional.

Kritik utama terhadap blue carbon bukan terletak pada konsep ekologisnya, melainkan pada logika pasar yang menyertainya. Ketika karbon diperlakukan sebagai komoditas murah, konservasi berubah menjadi instrumen kompensasi bagi polusi, bukan transformasi ekonomi rendah karbon.

Perusahaan dapat membeli sertifikat untuk klaim net zero tanpa mengubah perilaku produksi secara mendasar. Indonesia perlu berhati-hati agar blue carbon tidak berhenti sebagai ilusi pasar hijau. Prioritas utama seharusnya tetap pada perlindungan ekosistem pesisir secara utuh, bukan sekadar produksi sertifikat karbon.

Penguatan regulasi pajak karbon, penyesuaian harga karbon yang mencerminkan biaya ekologis nyata, serta jaminan hak dan manfaat bagi masyarakat pesisir menjadi prasyarat mutlak.

Blue carbon dapat menjadi solusi iklim yang strategis jika ditempatkan sebagai instrumen perlindungan ekologi dan keadilan sosial. Tanpa itu, perdagangan karbon biru berisiko menjadi jalan pintas bagi industri untuk membeli legitimasi lingkungan, sementara mangrove dan lamun tetap terancam oleh tekanan ekonomi dan tata kelola yang lemah.

Baca juga: Dukung Konsep Blue Carbon, 5.000 Bibit Pohon Mangrove Ditanam di Bangka Tengah

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau