Saat uji coba fasilitas RDF pada Maret 2025, kondisi cerobong yang secara kasat mata, visualnya tampak berwarna gelap sehingga memicu kegaduhan warga.
Dalam menjawab permasalahan itu, alat pengendali emisi dipasang di sisi utara dan sisi selatan fasilitas RDF di Rorotan.
Alat pengendali emisi terdiri dari new wey scrubber, wet ESP, carbon active, serta ID Fan 2 & Stack.
"Akhirnya, kami menambah beberapa perlengkapan untuk mengendalikan emisi ini, sudah cukup, bahkan sangat baik, bahkan terlalu berlebihan menurut kami. Karena ini yang kami pasang wet ESP dan baghouse filter itu, ini biasanya digunakan malah untuk kelasnya pembangkit sebenernya. Di Indonesia, hanya ada sisa beberapa sisa, beberapa plan (rencana) besar yang menggunakan alat secanggih ini," tutur Agung.
Setelah memasang alat pengendali emisi, kata dia, sama sekali tanpa asap sehingga tidak ada yang tahu fasilitas RDF beroperasi atau tidaknya, yang sebelumnya dapat dilihat dari cerobongnya.
Terkait senyawa organik berbahaya yang terbentuk sebagai produk sampingan industri, doksin dan furan, pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah melakukan pengujian di laboratorium terakreditasi dengan didampingi tim tenaga ahli dari ITB.
Hasilnya, sangat jauh dari ambang batas baku yang ditetapkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya