JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Yayasan WWF Indonesia menemukan lebih dari 200 spesies dengan kategori terancam punah, rentan, dan dilindungi Undang-Undang (endangered, threatened, protected) di Pulau Damer dan Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku.
Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia, Hafizh Adyas menuturkan, ketika melakukan ekspedisi selama sekitar satu bulan, para peneliti mencatat setidaknya 32 individu dugong di lokasi tersebut.
Baca juga:
"Mereka adalah spesies kunci kalau peneliti laut bilang, jadi menjaga spesies ini maka ekosistem yang lain ikut terjaga. Jadi kita jaga dugong otomatis rumput laut, rumah ikannya dan lain sebagainya terjaga," ujar Hafizh dalam konferensi pers di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026).
Setidaknya ada lebih dari 200 satwa yang dilindungi dan terancam punah ditemukan di perairan Pulau Damer dan Romang, termasuk dugong.Hafizh menilai, temuan itu sangat penting. Sebab, sejauh ini belum pernah tercatat individu dugong dengan jumlah yang banyak di Indonesia.
Kemungkinan Pulau Romang tidak sekadar dilintasi, tapi menjadi rumah bagi puluhan dugong membesarkan keturunannya.
"Biasanya dugong selalu kalau ditemukan cuma satu atau dua, paling banyak mungkin tiga, jarang sekali banyak begini. Mereka spesies indikator, spesies kunci, kalau mereka muncul berarti lamunnya bagus, kualitas airnya bagus, tekanan lingkungannya rendah karena mereka sangat sensitif sama pergerakan manusia," jelas Hafizh.
Peneliti juga mengidentifikasi empat paus orca diduga tengah bermigrasi. Hafizh menyebut, paus orca yang dikenal sebagai paus pembunuh adalah indikator ekosistem di perairan Damer-Romang masih terjaga dan sehat.
Menurutnya, ekspedisi, yang didukung KKP dan Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya, itu bertujuan mengumpulkan data terkait kekayaan laut Maluku. Terlebih, Maluku Barat Daya tela ditetapkan sebagai kawasan konservasi.
"Ada tiga ekosistem utama, karang, lamun, dan mangrove. Karangnya seperti apa kami lihat, karena ini memang menjadi indikator utama. Hasil ekspedisi kami menemukan bahwa rata-rata 39 sampai 51 persen tutupan karang hidup, artinya mereka dalam kondisi sedang ke baik," papar dia.
Berdasarkan analisis, beberapa di antaranya adalah karang purba dengan usia 100-200 tahun yang menandakan eosistemnya terjaga dalam waktu lama.
Baca juga:
Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia, Hafizh Adyas (tengah), dalam konferensi pers, Kamis (5/2/2026). Di ekosistem lamun, tim menemukan kondisi yang dinilai sangat baik dengan tingkat kerapatan mencapai 57 persen.
Hafizh menuturkan bahwa dari 14 jenis lamun yang ada di Indonesia, sembilan jenis di antaranya ditemukan di perairan Pulau Damer dan Pulau Romang.
Salah satu temuan penting adalah Thalassodendron ciliatum, spesies lamun unik yang memiliki pigmen kemerahan dan lebih tahan terhadap paparan suhu tinggi. Penemuan itu menjadi yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya tercatat di Rote, Nusa Tenggara Timur.
"Kenapa dia unik, karena dia punya pigmen warna merah yang terindikasi jenis yang lebih tahan terhadap perubahan suhu. Karena lamun dipengaruhi oleh pasang surut, jadi ketika air surut dia terpapar matahari biasanya lamun mati nanti dia hidup lagi ketika ketutup surut pasang yang tinggi," beber Hafizh.
Ilustrasi lamun. Setidaknya ada lebih dari 200 satwa yang dilindungi dan terancam punah ditemukan di perairan Pulau Damer dan Romang, termasuk dugong.Sementara itu, ekosistem mangrovenya diketahui masih berfungsi dengan baik. Menurut Hafizh, peneliti menemukan 43 spesies di ekosistem mangrove Damer-Romang dengan struktur yang masih lengkap dan regenerasi alami.
"Jadi lamun biasanya identik dengan lumpur, ini enggak, ini airnya bening kita bisa snorkeling. Ekosistem ini harus berfungsi optimal, harus baik supaya fungsi ekologisnya optimal dan kalau kita jaga maka investasi kita bagus," sebutnya.
Berdasarkan kajian ilmiah internasional tentang bio-climatic unit, wilayah Damer dan Romang masuk daftar 50 lokasi terumbu karang dunia yang dinilai lebih resisten terhadap perubahan iklim.
Dengan demikian, Maluku Barat Daya merupakan lokasi penting untuk penelitian ketahanan ekosistem laut di tengah krisis iklim global.
Meski demikian, WWF mencatat masih terdapat tantangan seperti praktik penangkapan ikan destruktif dan pemanfaatan spesies rentan. Hafizh lalu menekankan pentingnya pendekatan konservasi bagi masyarakat lokal.
"Konservasi adalah investasi, tetapi investasi itu juga harus bermanfaat buat masyarakat lokal tentunya bukan hanya ekosistem itu sendiri," ucap Hafizh.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya