Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanah Hutan Bisa Lebih Banyak Serap Metana dari Atmosfer

Kompas.com, 5 Februari 2026, 14:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tanah hutan bisa menyerap metana dari atmosfer dalam jumlah besar sehingga berperan penting dalam melindungi iklim. Temuan ini berasal dari penelitian Universitas Göttingen dan Institut Penelitian Hutan Baden-Württemberg (FVA), Jerman.

Berdasarkan evaluasi kumpulan data tentang penyerapan metana oleh tanah hutan, dalam kondisi iklim tertentu yang lebih umum pada masa depan, kapasitas tanah hutan untuk menyerap metana meningkat.

Baca juga:

Sebagai informasi, metana berdampak buruk terhadap iklim bumi. Dikutip dari Britannica, Kamis (5/2/2026), metana tidak berwarna, tidak berbau, serta terbentuk dalam jumlah besar di alam. 

"Metana (CH4) berperan penting dalam dinamika iklim global sebagai gas rumah kaca yang kuat," tulis studi tersebut, dilansir dari Science Direct.

Tanah hutan bisa menyerap metana dari atmosfer

Tanah hutan menyerap tiga persen lebih banyak metana dari atmosfer

Penelitian menemukan tanah hutan mampu menyerap hingga tiga persen lebih banyak metana per tahun, terutama saat iklim hangat dan kering.Dok. Freepik/jcomp Penelitian menemukan tanah hutan mampu menyerap hingga tiga persen lebih banyak metana per tahun, terutama saat iklim hangat dan kering.

Dalam studinya, peneliti menggunakan data dari pengukuran rutin di 13 petak hutan di barat daya erman selama 24 tahun, dikutip dari Phys.org.

Studi tersebut mengungkap tanah hutan menyerap rata-rata tiga persen lebih banyak metana per tahun dari atmosfer. Para peneliti menghubungkan temuan ini dengan iklim.

Ketika curah hujan tahunan menurun dan suhu meningkat, kondisi itu menyebabkan tanah menjadi lebih kering sehingga metana lebih mudah meresap ke dalamnya dibandingkan pada tanah yang lembap.

Selain itu, mikroorganisme pengurai metana bekerja lebih cepat seiring dengan kenaikan suhu.

"Data jangka panjang kami menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak selalu berdampak negatif pada kemampuan tanah hutan dalam menyerap metana," kata pemimpin studi ini dari Departemen Ilmu Tanaman Universitas Göttingen, Profesor Martin Maier.

"Meskipun studi terbesar sebelumnya di AS (Amerika Serikat) menemukan penurunan penyerapan metana hingga 80 persen akibat curah hujan yang meningkat, studi lapangan kami di barat daya Jerman yang jauh lebih komprehensif, justru menemukan hasil yang sebaliknya," tambah dia. 

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology.

Baca juga: 

Bagaimana tanah menyerap lebih banyak metana?

Penelitian menemukan tanah hutan mampu menyerap hingga tiga persen lebih banyak metana per tahun, terutama saat iklim hangat dan kering.Unsplash/Gagandeep Singh Penelitian menemukan tanah hutan mampu menyerap hingga tiga persen lebih banyak metana per tahun, terutama saat iklim hangat dan kering.

Lebih lanjut, peneliti menjelaskan mengapa tanah yang lebih kering dan hangat menyerap lebih banyak metana.

Menurut mereka, tanah kering mengandung lebih banyak pori-pori berisi udara daripada tanah basah. Hal ini memudahkan metana untuk menembus tanah.

Pada saat yang sama, mikroorganisme menguraikan metana di dalam tanah sedikit lebih cepat ketika suhu meningkat.

Hasil ini bertentangan dengan meta-analisis internasional saat ini. Sebab, studi lain cenderung menyimpulkan bahwa penyerapan metana di tanah hutan menurun.

Peneliti di studi baru ini pun kemudian menyoroti pentingnya mempertimbangkan data dari berbagai daerah dan wilayah selama periode waktu yang panjang.

"Hasil kami memperjelas bahwa melakukan serangkaian pengukuran selama bertahun-tahun dan menjalankan program pemantauan sangat penting untuk menilai dampak nyata perubahan iklim," kata Maier.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau