KOMPAS.com - Tanah hutan bisa menyerap metana dari atmosfer dalam jumlah besar sehingga berperan penting dalam melindungi iklim. Temuan ini berasal dari penelitian Universitas Göttingen dan Institut Penelitian Hutan Baden-Württemberg (FVA), Jerman.
Berdasarkan evaluasi kumpulan data tentang penyerapan metana oleh tanah hutan, dalam kondisi iklim tertentu yang lebih umum pada masa depan, kapasitas tanah hutan untuk menyerap metana meningkat.
Baca juga:
Sebagai informasi, metana berdampak buruk terhadap iklim bumi. Dikutip dari Britannica, Kamis (5/2/2026), metana tidak berwarna, tidak berbau, serta terbentuk dalam jumlah besar di alam.
"Metana (CH4) berperan penting dalam dinamika iklim global sebagai gas rumah kaca yang kuat," tulis studi tersebut, dilansir dari Science Direct.
Penelitian menemukan tanah hutan mampu menyerap hingga tiga persen lebih banyak metana per tahun, terutama saat iklim hangat dan kering.Dalam studinya, peneliti menggunakan data dari pengukuran rutin di 13 petak hutan di barat daya erman selama 24 tahun, dikutip dari Phys.org.
Studi tersebut mengungkap tanah hutan menyerap rata-rata tiga persen lebih banyak metana per tahun dari atmosfer. Para peneliti menghubungkan temuan ini dengan iklim.
Ketika curah hujan tahunan menurun dan suhu meningkat, kondisi itu menyebabkan tanah menjadi lebih kering sehingga metana lebih mudah meresap ke dalamnya dibandingkan pada tanah yang lembap.
Selain itu, mikroorganisme pengurai metana bekerja lebih cepat seiring dengan kenaikan suhu.
"Data jangka panjang kami menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak selalu berdampak negatif pada kemampuan tanah hutan dalam menyerap metana," kata pemimpin studi ini dari Departemen Ilmu Tanaman Universitas Göttingen, Profesor Martin Maier.
"Meskipun studi terbesar sebelumnya di AS (Amerika Serikat) menemukan penurunan penyerapan metana hingga 80 persen akibat curah hujan yang meningkat, studi lapangan kami di barat daya Jerman yang jauh lebih komprehensif, justru menemukan hasil yang sebaliknya," tambah dia.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology.
Baca juga:
Penelitian menemukan tanah hutan mampu menyerap hingga tiga persen lebih banyak metana per tahun, terutama saat iklim hangat dan kering.Lebih lanjut, peneliti menjelaskan mengapa tanah yang lebih kering dan hangat menyerap lebih banyak metana.
Menurut mereka, tanah kering mengandung lebih banyak pori-pori berisi udara daripada tanah basah. Hal ini memudahkan metana untuk menembus tanah.
Pada saat yang sama, mikroorganisme menguraikan metana di dalam tanah sedikit lebih cepat ketika suhu meningkat.
Hasil ini bertentangan dengan meta-analisis internasional saat ini. Sebab, studi lain cenderung menyimpulkan bahwa penyerapan metana di tanah hutan menurun.
Peneliti di studi baru ini pun kemudian menyoroti pentingnya mempertimbangkan data dari berbagai daerah dan wilayah selama periode waktu yang panjang.
"Hasil kami memperjelas bahwa melakukan serangkaian pengukuran selama bertahun-tahun dan menjalankan program pemantauan sangat penting untuk menilai dampak nyata perubahan iklim," kata Maier.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya