Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Ekstrem Makin Meningkat, Jawa Barat Berpotensi Paling Rentan Bencana

Kompas.com, 11 Februari 2026, 10:27 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Stasiun pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kenaikan suhu yang mencerminkan terjadinya pemanasan global.

Imbasnya, diproyeksikan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, sampai kebakaran hutan dan lahan, dengan tingkat keparahan tergantung pada skenario emisi gas rumah kaca (GRK).

Baca juga:

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama periode tahun 2010-2025, kejadian banjir dan longsor menunjukkan tren peningkatan, yang mengindikasikan adanya peningkatan ancaman cuaca ekstrem dan tingkat kerentanan lingkungan.

Jawa Barat (Jabar) menjadi provinsi dengan potensi bencana hidrometeorologi tertinggi. Disusul kemudian, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Meningkatnya suhu pemanasan global terkonfirmasi dengan meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi. Tren kejadian banjir dan longsor selama 16 tahun terakhir, memang Jawa yang paling rentan. Secara historis, kejadian tertinggi di Jawa Barat," ujar Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani dalam webinar Cuaca Tak Menentu, Banjir Makin Mengancam, Selasa (10/2/2026).

Baca juga:

Frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di Indonesia meningkat

Pola curah hujan ekstrem berulang di Jabodetabek bisa lebih sering

BANJIR SUMATERA: Petugas Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh mengambil sampel kayu gelondongan yang terbawa arus luapan Sungai Tamiang, di area pasantren Islam Terpadu Darul Mukhlishin, Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Kemenhut telah mengirim tim verifikasi dan membentuk tim investigasi gabungan bersama Polri untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang ditemukan pascabencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Provinsi Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra BANJIR SUMATERA: Petugas Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh mengambil sampel kayu gelondongan yang terbawa arus luapan Sungai Tamiang, di area pasantren Islam Terpadu Darul Mukhlishin, Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Kemenhut telah mengirim tim verifikasi dan membentuk tim investigasi gabungan bersama Polri untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang ditemukan pascabencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Provinsi Aceh.

Dalam enam tahun terakhir, curah hujan ekstrem telah memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah Indonesia.

Sebagai contoh, curah hujan 377 milimeter (mm) per hari pada Rabu (1/1/2020), curah hujan 385 mm per hari pada Rabu (10/10/2025) di Bali, serta curah hujan 411 mm per hari pada Rabu (26/11/2025) di Aceh.

Menurut Andri, berbagai fenomena dari dinamika atmosfer memang menjadi penyebab cuaca ekstrem, dengan tingkat keparahan tertinggi yang dipicu siklon tropis.

"(siklon tropis) Senyar di tiga provinsi, bahkan mencapai 411 mm per hari di Aceh dan ini tidak berlangsung hanya sehari, tapi beberapa hari ya, walau tidak setinggi 411 mm di hari sebelumnya dan juga setelahnya siklon tersebut melintas Aceh, (curah hujan) 200 mm ke atas," jelas Andri.

Di sisi lain, curah hujan ekstrem di atas 200 mm per hari juga cukup banyak terjadi di wilayah Jabodetabek pada periode tahun 2000-2026.

Andri menganggap, curah hujan ekstrem di Jabodetabek tersebut membentuk pola tertentu yang berulang sesuai sesuai siklus tiga atau lima tahun sekali.

Namun, ke depannya, pola curah hujan ekstrem yang berulang di Jabodetabek kemungkinan akan lebih sering.

Apalagi, pemanasan global berpotensi meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem ke depannya.

"Ini untuk dapat mensimulasikan sistem daya serap ataupun drainase di suatu wilayah. Contohnya DKI Jakarta, apakah dengan hujan yang 150 mm per hari atau 200 mm per hari atau 300 mm per hari. Itu dapat menampung atu tidak. Lalu, bagaimana langkah mitigasi dan kontinuitasnya," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau