KOMPAS.com - Stasiun pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kenaikan suhu yang mencerminkan terjadinya pemanasan global.
Imbasnya, diproyeksikan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, sampai kebakaran hutan dan lahan, dengan tingkat keparahan tergantung pada skenario emisi gas rumah kaca (GRK).
Baca juga:
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama periode tahun 2010-2025, kejadian banjir dan longsor menunjukkan tren peningkatan, yang mengindikasikan adanya peningkatan ancaman cuaca ekstrem dan tingkat kerentanan lingkungan.
Jawa Barat (Jabar) menjadi provinsi dengan potensi bencana hidrometeorologi tertinggi. Disusul kemudian, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
"Meningkatnya suhu pemanasan global terkonfirmasi dengan meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi. Tren kejadian banjir dan longsor selama 16 tahun terakhir, memang Jawa yang paling rentan. Secara historis, kejadian tertinggi di Jawa Barat," ujar Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani dalam webinar Cuaca Tak Menentu, Banjir Makin Mengancam, Selasa (10/2/2026).
Baca juga:
BANJIR SUMATERA: Petugas Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh mengambil sampel kayu gelondongan yang terbawa arus luapan Sungai Tamiang, di area pasantren Islam Terpadu Darul Mukhlishin, Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Kemenhut telah mengirim tim verifikasi dan membentuk tim investigasi gabungan bersama Polri untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang ditemukan pascabencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Provinsi Aceh. Dalam enam tahun terakhir, curah hujan ekstrem telah memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah Indonesia.
Sebagai contoh, curah hujan 377 milimeter (mm) per hari pada Rabu (1/1/2020), curah hujan 385 mm per hari pada Rabu (10/10/2025) di Bali, serta curah hujan 411 mm per hari pada Rabu (26/11/2025) di Aceh.
Menurut Andri, berbagai fenomena dari dinamika atmosfer memang menjadi penyebab cuaca ekstrem, dengan tingkat keparahan tertinggi yang dipicu siklon tropis.
"(siklon tropis) Senyar di tiga provinsi, bahkan mencapai 411 mm per hari di Aceh dan ini tidak berlangsung hanya sehari, tapi beberapa hari ya, walau tidak setinggi 411 mm di hari sebelumnya dan juga setelahnya siklon tersebut melintas Aceh, (curah hujan) 200 mm ke atas," jelas Andri.
Di sisi lain, curah hujan ekstrem di atas 200 mm per hari juga cukup banyak terjadi di wilayah Jabodetabek pada periode tahun 2000-2026.
Andri menganggap, curah hujan ekstrem di Jabodetabek tersebut membentuk pola tertentu yang berulang sesuai sesuai siklus tiga atau lima tahun sekali.
Namun, ke depannya, pola curah hujan ekstrem yang berulang di Jabodetabek kemungkinan akan lebih sering.
Apalagi, pemanasan global berpotensi meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem ke depannya.
"Ini untuk dapat mensimulasikan sistem daya serap ataupun drainase di suatu wilayah. Contohnya DKI Jakarta, apakah dengan hujan yang 150 mm per hari atau 200 mm per hari atau 300 mm per hari. Itu dapat menampung atu tidak. Lalu, bagaimana langkah mitigasi dan kontinuitasnya," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya