Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenaikan CO2 dan Pemanasan Global Bisa Pengaruhi Ketahanan Pangan

Kompas.com, 13 Februari 2026, 14:46 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG, Nature

KOMPAS.com - Peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) di udara dan pemanasan global bisa mengurangi ketersediaan fosfor pada sistem tanam bergilir padi-palawija, yang berpotensi mengancam ketahanan pangan masa depan. Hal tersebut menurut penelitian selama 10 tahun.

"Kami menemukan bahwa baik peningkatan konsentrasi CO2 maupun pemanasan memperparah keterbatasan fosfor," bunyi penelitian tersebut, dilansir dari laman Nature, Jumat (13/2/2026).

Baca juga:

Riset yang dipimpin oleh para ilmuwan Institute of Soil Science of the Chinese Academy of Sciences menunjukkan, pemanasan suhu berperan penting dalam "mengunci" fosfor ke dalam bagian tanah yang sulit dijangkau oleh tanaman.

Memahami bagaimana nutrisi penting bereaksi terhadap kenaikan CO2 dan pemanasan suhu sangat krusial untuk menjaga ketersediaan pangan di tengah perubahan iklim yang semakin cepat.

Temuan tersebut dipublikasikan di Nature Geoscience.

Baca juga:

CO2 dan pemanasan global bisa pengaruhi ketahanan pangan

Ada kekhawatiran pakai pupuk saja tak cukup

Peningkatan kadar CO2 di udara dan pemanasan global bisa kurangi ketersediaan fosfor pada sistem tanam sehingga berpotensi ancam ketahanan pangan.KOMPAS.COM/BAYU APRILIANO Peningkatan kadar CO2 di udara dan pemanasan global bisa kurangi ketersediaan fosfor pada sistem tanam sehingga berpotensi ancam ketahanan pangan.

Berbeda dengan nitrogen, fosfor tidak bisa diambil langsung dari udara. Ketersediaannya bergantung pada sumber batuan fosfat yang terbatas dan sangat dipengaruhi oleh reaksi mineral tanah serta aktivitas mikroba.

Di lahan sawah yang tergenang air yang menjadi sumber pangan bagi lebih dari separuh penduduk dunia, perubahan kadar oksigen yang naik-turun drastis akibat pengairan dan pengeringan membuat perputaran fosfor menjadi semakin rumit, dilansir dari Phys.org.

Untuk memahami bagaimana perubahan iklim ini memengaruhi kadar fosfor, para peneliti melakukan percobaan selama 10 tahun menggunakan sistem FACE atau penyemprotan CO2 di udara terbuka yang digabung dengan pemanasan suhu langsung di lahan sawah.

Penelitian ini dilakukan pada sistem tanam bergilir, yang mana padi dan gandum ditanam bergantian dalam satu tahun yang sama.

Temuan mereka menunjukkan bahwa kenaikan CO2 dan pemanasan suhu bersama-sama mengurangi ketersediaan fosfor di tanah, yang mana faktor suhu panas memegang peran paling besar.

Paparan jangka panjang secara perlahan memindahkan fosfor dari bagian yang bisa diserap tanaman menjadi ikatan yang sangat kuat dengan mineral tanah yang sulit diakses oleh padi.

Sebagian fosfor juga diserap oleh mikroba untuk kebutuhan mereka sendiri sehingga tidak menyisakan cukup nutrisi untuk tanaman padi.

Peningkatan kadar CO2 di udara dan pemanasan global bisa kurangi ketersediaan fosfor pada sistem tanam sehingga berpotensi ancam ketahanan pangan.Unsplash/Gaelle Marcel Peningkatan kadar CO2 di udara dan pemanasan global bisa kurangi ketersediaan fosfor pada sistem tanam sehingga berpotensi ancam ketahanan pangan.

Hasil penelitian ini menimbulkan kekhawatiran bahwa menambah penggunaan pupuk saja tidak akan cukup untuk mengatasi ketidakseimbangan nutrisi tersebut.

Terutama di tanah yang sudah tua atau lapuk yang mengikat fosfor dengan sangat kuat, atau di wilayah yang sulit mendapatkan pupuk.

Di tempat-tempat tersebut, menambah pupuk justru bisa jadi tidak efektif atau malah menimbulkan risiko kerusakan lingkungan.

Temuan baru ini melengkapi penelitian tim sebelumnya yang menunjukkan bahwa kenaikan CO2 saja sudah cukup untuk mengurangi kadar fosfor di tanah.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya strategi pengelolaan fosfor yang tahan terhadap iklim. Penelitian ini juga menyoroti semakin rentannya sistem pangan berbasis beras, terutama di wilayah yang kemampuan adaptasinya rendah.

Peneliti menyarankan untuk menggabungkan pemupukan presisi dengan penambahan bahan tertentu ke tanah yang bisa mengatur interaksi besi-fosfor, guna menjaga produktivitas padi di tengah kondisi iklim masa depan.

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau