Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemulihan Ekosistem Terumbu Karang Bantu Perkuat Ketahanan Pangan

Kompas.com, 5 Januari 2026, 15:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Pemulihan ekosistem terumbu karang, khususnya ikan karang, bisa membantu ketahanan pangan pangan, sekaligus membantu mencegah kekurangan gizi, populasi manusia di bumi. 

Hal tersebut berdasarkan studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Studi dilakukan oleh para ilmuwan di Smithsonian Tropical Research Institute (STRI) di Panama, Amerika Serikat, dan kolaborator dari beberapa lembaga.

Baca juga: 

"Studi kami mengukur seberapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh penangkapan ikan berlebihan pada komunitas ikan karang dan, pada gilirannya, seberapa besar keuntungan yang dapat diperoleh dari pemulihan stok ikan karang dan pengelolaannya pada tingkat yang berkelanjutan," jelas Jessica Zamborain-Mason, profesor di Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah (KAUST), Jessica Zamborain-Mason, dilansir dari Phys.org, Senin (5/1/2026).

Studi mereka menemukan bahwa memulihkan ekosistem terumbu karang dapat meningkatkan jumlah ikan secara berkelanjutan per tahun, yang mana dapat mendukung kecukupan pangan jutaan orang.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa saat ini populasi ikan terumbu karang sangat berkurang.

Akibatnya, ikan yang ada jauh lebih sedikit dan keberlanjutan mereka mengkhawatirkan.

Pemulihan ikan terumbu karang dan ketahanan pangan

Meningkatkan hasil tangkapan ikan

Pemulihan ekosistem terumbu karang, khususnya ikan karang, bisa membantu ketahanan pangan pangan.PIXABAY/GGUNGPA0 Pemulihan ekosistem terumbu karang, khususnya ikan karang, bisa membantu ketahanan pangan pangan.

Studi menunjukkan bahwa terumbu karang di seluruh dunia dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan yang berkelanjutan hingga hampir 50 persen, hanya jika populasi ikan dibiarkan pulih.

Pemulihan ini dapat menyediakan tambahan 20.000 hingga 162 juta porsi makanan berkelanjutan, cukup untuk memenuhi asupan makanan laut yang direkomendasikan untuk beberapa juta orang setiap tahunnya.

Di tingkat negara, manfaat terbesar akan dirasakan oleh wilayah-wilayah yang menderita kelaparan dan defisiensi mikronutrien terparah, seperti sebagian wilayah Afrika dan Asia Tenggara.

Indonesia merupakan wilayah dengan potensi terbesar untuk meningkatkan hasil tangkapan sehingga menjadi pemenang dalam hal ketahanan pangan. Tanah Air memiliki wilayah terumbu karang terbesar di dunia.

"Terdapat korelasi positif antara potensi peningkatan jumlah porsi ikan di suatu negara melalui pemulihan stok ikan dengan indeks kelaparan global mereka," ucap ilmuwan staf STRI dan salah satu penulis studi tersebut, Sean Connolly.

"Oleh karena itu, negara-negara dengan indeks malnutrisi yang lebih tinggi dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari pulihnya stok ikan terumbu karang," tambah dia.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau