Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Upaya Warga Selamatkan Kakatua Jambul Kuning Langka, Tanam Pohon Kelengkeng

Kompas.com, 1 Desember 2025, 13:17 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Penduduk Desa Pulau Masakambing di Kecamatan Pulau Malembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjaga kelestarian burung kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea abbotti) dengan menanam pohon kelengkeng.

Adapun populasi satwa endemik Pulau Masakambing ini kian langka. Pada Oktober 2024, dilansir dari laman Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, populasinya sebanyak 29 ekor. 

Baca juga:

"Sudah diakui secara luas, burung kakatua endemik ini hanya ada di desa ini (Masakambing)," kata anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Pulau Masakambing, Yudhi, dilaporkan oleh Kompas.com, Minggu (30/11/2025).

Kenapa pohon kelengkeng dipilih untuk kakatua jambul kuning?

Warga menerima pohon kelengkeng dari anggota DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath. KOMPAS.COM/ Nur Khalis Warga menerima pohon kelengkeng dari anggota DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath.

Pohon kelengkeng dipilih karena bisa menjadi sumber pakan kakatua jambul kuning yang mudah dijangkau, sekaligus menambah tutupan hijau di Pulau Masakambing.

Penambahan tutupan hijau dianggap sebagai langkah penting untuk memastikan ketersediaan pakan dan ruang hidup bagi populasi kakatua di pulau tersebut.

Pulau Masakambing memiliki luas sekitar 7,79 kilometer persegi sehingga kondisi lingkungan sangat memengaruhi hidup satwa endemik tersebut. Ekosistem di pulau kecil juga lebih sensitif terhadap perubahan.

Dengan menanam pohon kelengkeng, warga ingin menjaga habitat yang stabil. Tanaman buah seperti kelengkeng bisa memberi manfaat ganda.

"Pohon ini bisa menjadi sumber pakan sekaligus tempat berteduh bagi kakatua. Masyarakat pun bisa memanfaatkan buahnya. Jadi ada hubungan timbal balik yang sehat," ucap Yudhi.

Baca juga:

Pulau Masakambing masuk Kawasan Ekonomi Esensial

Sementara itu, anggota DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath, menyampaikan, Pulau Masakambing berstatus Kawasan Ekonomi Esensial (KEE).

Status ini menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan satwa langka di dalamnya. 

"Pulau Masakambing ini kawasan ekonomi esensial yang harus kita jaga. Kehidupan kakatua sangat bergantung pada kondisi lingkungannya," tutur Darul.

Ia menambahkan, keseharian warga Masakambing tak lepas dari keberadaan kakatua jambul kuning. Oleh sebab itu, kesadaran ini menjadi modal sosial yang kuat untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat.

"Kita ingin tumbuh kesadaran bahwa pelestarian satwa langka bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga punya peran besar," lanjutnya. 

Penanaman pohon ini, sambung Darul, harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap pohon harus dipantau agar tumbuh optimal. 

"Ke depan, kami ingin ada kolaborasi yang lebih kuat dengan warga. Pelajar, kelompok sadar lingkungan, semua perlu ikut terlibat," ucap dia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
Pemerintah
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau