Penulis
KOMPAS.com - Penduduk Desa Pulau Masakambing di Kecamatan Pulau Malembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjaga kelestarian burung kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea abbotti) dengan menanam pohon kelengkeng.
Adapun populasi satwa endemik Pulau Masakambing ini kian langka. Pada Oktober 2024, dilansir dari laman Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, populasinya sebanyak 29 ekor.
Baca juga:
"Sudah diakui secara luas, burung kakatua endemik ini hanya ada di desa ini (Masakambing)," kata anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Pulau Masakambing, Yudhi, dilaporkan oleh Kompas.com, Minggu (30/11/2025).
Warga menerima pohon kelengkeng dari anggota DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath. Pohon kelengkeng dipilih karena bisa menjadi sumber pakan kakatua jambul kuning yang mudah dijangkau, sekaligus menambah tutupan hijau di Pulau Masakambing.
Penambahan tutupan hijau dianggap sebagai langkah penting untuk memastikan ketersediaan pakan dan ruang hidup bagi populasi kakatua di pulau tersebut.
Pulau Masakambing memiliki luas sekitar 7,79 kilometer persegi sehingga kondisi lingkungan sangat memengaruhi hidup satwa endemik tersebut. Ekosistem di pulau kecil juga lebih sensitif terhadap perubahan.
Dengan menanam pohon kelengkeng, warga ingin menjaga habitat yang stabil. Tanaman buah seperti kelengkeng bisa memberi manfaat ganda.
"Pohon ini bisa menjadi sumber pakan sekaligus tempat berteduh bagi kakatua. Masyarakat pun bisa memanfaatkan buahnya. Jadi ada hubungan timbal balik yang sehat," ucap Yudhi.
Baca juga:
Sementara itu, anggota DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath, menyampaikan, Pulau Masakambing berstatus Kawasan Ekonomi Esensial (KEE).
Status ini menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan satwa langka di dalamnya.
"Pulau Masakambing ini kawasan ekonomi esensial yang harus kita jaga. Kehidupan kakatua sangat bergantung pada kondisi lingkungannya," tutur Darul.
Ia menambahkan, keseharian warga Masakambing tak lepas dari keberadaan kakatua jambul kuning. Oleh sebab itu, kesadaran ini menjadi modal sosial yang kuat untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat.
"Kita ingin tumbuh kesadaran bahwa pelestarian satwa langka bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga punya peran besar," lanjutnya.
Penanaman pohon ini, sambung Darul, harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap pohon harus dipantau agar tumbuh optimal.
"Ke depan, kami ingin ada kolaborasi yang lebih kuat dengan warga. Pelajar, kelompok sadar lingkungan, semua perlu ikut terlibat," ucap dia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya