Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam

Kompas.com, 17 Februari 2026, 20:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan bahwa permintaan global untuk baterai litium-ion melonjak tajam, membentuk ulang sektor energi dan transportasi.

Sejak 2020, penggunaan baterai litium-ion secara global telah melonjak enam kali lipat, mendorong nilai pasarnya mencapai perkiraan 150 miliar dolar AS.

Namun, perang harga dan ketergantungan pasokan menimbulkan tantangan yang kian besar.

Melansir Sustainability Magazine, Senin (16/2/2026) IEA mengaitkan ekspansi ini dengan meningkatnya permintaan kendaraan listrik, yang menyumbang lebih dari 70 persen dari seluruh penggunaan baterai.

Faktanya, satu dari setiap empat mobil yang terjual secara global tahun lalu adalah bertenaga baterai.

Baca juga: Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay

Di sisi lain, penggunaan baterai untuk menyimpan cadangan listrik kini sudah mencapai 15 persen dari pasar. Ini membuktikan bahwa baterai tak sekedar untuk gadget tetapi sudah menjadi infrastruktur utama bagi sistem listrik kita.

Sebagai perbandingan, satu dekade lalu, laptop, tablet dan ponsel pintar mencakup hampir setengah dari produksi baterai global, tetapi sekarang telah turun di bawah 5 persen.

Penurunan harga baterai

Penurunan biaya tentu juga mempercepat adopsi baterai. Menurut IEA, harga rata-rata baterai turun sebesar 8 persen pada tahun 2025, berkat teknik manufaktur yang efisien dan persaingan ketat antar produsen.

Bahkan, harga sistem penyimpanan listrik skala besar turun hingga tinggal sepertiganya dibanding tahun 2020. Ini membuat baterai mulai lebih murah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar gas di beberapa wilayah.

Namun, kemajuan ini tidak merata di semua wilayah. IEA menemukan bahwa baterai buatan China sekitar 30 persen lebih murah daripada buatan Amerika Serikat, dan 35 persen lebih murah dibanding harga di Eropa.

Sementara itu, baterai jenis litium besi fosfat (LFP) harganya anjlok lebih dari 15 persen, sedangkan baterai jenis nikel hanya turun kurang dari 5 persen.

Hasilnya, baterai jenis LFP sekarang 40 persen lebih murah daripada versi nikel dan menguasai lebih dari separuh pasar mobil listrik, serta 90 persen penyimpanan listrik dunia.

Meski harga murah ini disukai pembeli, IEA memperingatkan bahwa harga rendah itu kecil kemungkinan akan bertahan lama, karena banyak produsen baterai saat ini sudah mulai merugi besar.

Dominasi China

Data IEA juga mengungkap adanya ketergantungan yang baru mulai disadari oleh para pembuat kebijakan.

Di tahun 2025, China memproduksi lebih dari 80 persen dari seluruh baterai dunia, sementara perusahaan-perusahaan dari China, Korea, dan Jepang menguasai hampir seluruh produksi sel baterai secara global.

Baca juga: Konsumen Gandrungi Kendaraan Listrik, Penjualan Baterai EV Naik 9 Kali Lipat

Uni Eropa dan Amerika Serikat hanya menyumbang sedikit produksi, dan masih mengimpor sebagian besar komponen mereka dari China, tanda betapa dalamnya ketergantungan ini.

Saat ini, hampir setiap baterai yang menopang jaringan listrik dunia bergantung pada China untuk setidaknya satu bagian penting dalam rantai pasoknya.

Menurut IEA, 70 persen kendaraan listrik yang dibuat di luar China menggunakan baterai atau komponen dari pemasok China, sementara lebih dari 90 persen penyimpanan energi baterai di seluruh dunia menggunakan sel LFP buatan China.

Lebih lanjut, IEA memperkirakan bahwa biaya produksi di Uni Eropa dan Amerika Serikat masih jauh lebih mahal, hingga 50 persen lebih tinggi dibanding China.

Untuk bisa menyamai efisiensi pabrik China, di mana hasil produksinya rutin mencapai di atas 90 persen, akan dibutuhkan investasi besar-besaran selama bertahun-tahun.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau