Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 KPI untuk Manufaktur Berkelanjutan, Olah Limbah hingga Polusi Udara

Kompas.com, 20 Januari 2026, 06:36 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sektor manufaktur dunia disebut perlu mengutamakan prinsip berkelanjutan. Sebab, sektor tersebut dihadapkan dengan tekanan untuk mengurangi dampak lingkungan dan memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab.

Misalnya, Singapore Green Plan 2030 mendorong efisiensi energi dan penerapan ekonomi sirkular, yang memaksa produsen mengadopsi operasi menjadi lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Baca juga:

Indikator kinerja utama (KPI) manufaktur berkelanjutan menjadi inti dari upaya ini. KPI merupakan metrik terukur yang membantu pabrik-pabrik melacak dampak lingkungan, sosial, dan operasional mereka, dengan mengidentifikasi inefisiensi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta memperkuat reputasi pasar mereka.

KPI untuk praktik manufaktur berkelanjutan

Berikut sejumlah KPI utama yang perlu dipantau oleh pabrik-pabrik untuk memastikan praktik manufaktur yang berkelanjutan, dilansir dari The European Business Review, Senin (19/1/2026).

1. Mengelola sumber daya secara efisien

Manufaktur berkelanjutan sebaiknya mengelola sumber daya secara efisien. Dengan menelusuri konsumsi energi per unit produksi, pabrik-pabrik bisa menentukan area mana yang perlu dihemat atau prosesnya dioptimalkan, termasuk dengan merencanakan mengadopsi sumber energi baru terbarukan (EBT).

Pabrik bisa mengidentifikasi proses atau peralatan yang boros energi dan menentukan di mana panel surya, sistem biomassa, atau solusi terbarukan lainnya mampu memberikan dampak terbesar.

Pola penggunaannya membantu pabrik mengoptimalkan waktu dan skala penerapan EBT, mengintegrasikan solusi penyimpanan energi secara efektif, serta menghitung potensi penghematan biaya dan pengurangan emisi.

Baca juga:

2. Mengelola limbah dan emisi

Sektor manufaktur global menghadapi tekanan lingkungan. Simak KPI penting untuk memastikan praktik manufaktur berkelanjutan.SHUTTERSTOCK/Victor Lauer Sektor manufaktur global menghadapi tekanan lingkungan. Simak KPI penting untuk memastikan praktik manufaktur berkelanjutan.

Manufaktur berkelanjutan sebaiknya mengelola limbah dan emisi. Pabrik perlu mengukur emisi gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida, untuk memahami dampak lingkungan dari proses produksi, yang dilanjutkan dengan menetapkan target pengurangannya.

Hasil analisis emisi GRK akan membantu pabrik mengidentifikasi operasi dan proses intensif energi paling berkontribusi terhadap jejak karbon, yang memungkinkan mereka menerapkan strategi dengan tepat sasaran.

Selain itu, pabrik perlu mengukur polutan udara, termasuk senyawa organik volatil dan partikel karena zat-zat ini dapat memengaruhi kualitas udara dan menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat sekitar.

3. Mempertimbangkan aspek keberlanjutan

Manufatur berkelanjutan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dari keseluruhan siklup hidup produk.

Pabrik perlu mendesain produk agar tahan lama dan bisa didaur ulang untuk mengurangi limbah jangka panjang maupun mendukung prinsip ekonomi sirkular.

Pabrik-pabrik mengelola proses akhir masa pakai, seperti skema pengembalian atau inisiatif pemulihan material, untuk memastikan produk tetap digunakan dan tidak menambah tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau