KOMPAS.com - Sampel rambut berusia 100 tahun memperlihatkan kondisi Amerika Serikat (AS) yang telah terpapar timbal berbahaya pada masa lalu. Ilmuwan dari University of Utah menganalisis sampel rambut manusia yang dikumpulkan sejak awal 1900-an.
Hasilnya menunjukkan adanya penurunan drastis kadar timbal sejak sekitar tahun 1916, seiring dengan mulai diterapkannya berbagai kebijakan pengendalian lingkungan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS atau Environmental Protection Agency (EPA).
Baca juga:
“Melalui sampel rambut, kami dapat menunjukkan konsentrasi timbal sebelum dan sesudah diberlakukannya peraturan oleh EPA," kata ahli demografi sekaligus peneliti studi, Ken Smith dilansir dari Scitech Daily, Selasa (3/2/2026).
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), peneliti menyatakan, polusi timbal di AS pada puluhan tahun lalu melekat pada kehidupan sehari-hari warga AS.
Sumbernya, antara lain dari aktivitas industri, cat berbasis timbal, pipa air yang sudah tua, dan knalpot kendaraan.
Diketahui, timbal adalah neurotoksin kuat yang dapat menumpuk di dalam tubuh seiring berjalannya waktu dan dikaitkan dengan masalah perkembangan pada anak-anak.
Alhasil, pada tahun 1970-an, EPA mulai menghilangkan timbal dari cat, pipa ledeng, bensin, dan produk konsumen lainnya akibat efek kesehatan paparan logam ini.
Ilustrasi timbal. Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan."Kami memiliki sampel rambut yang berusia sekitar 100 tahun, dan pada saat peraturan belum ada kadar timbal sekitar 100 kali lebih tinggi daripada setelah peraturan tersebut diberlakukan," ucap Smith.
Di sisi lain, studi tersebut juga mencatat beberapa peraturan tentang timbal saat ini sedang dilemahkan oleh pemerintahan Presiden AS, Donald Trump.
Hal itu dinilai sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi melindungi lingkungan.
Padahal, dengan berlakunya peraturan lingkungan di AS, kadar timbal menurun tajam diikuti oleh penurunan tajam paparan timbal pada manusia.
“Terkadang peraturan-peraturan itu tampak memberatkan dan berarti industri tidak dapat melakukan persis apa yang ingin mereka lakukan, kapan pun mereka mau atau secepat yang mereka inginkan. Namun, peraturan-peraturan itu telah memberikan dampak yang sangat sangat positif," kata profesor sekaligus penulis studi, Thure Cerling.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya