KOMPAS.com - Polusi rumah tangga atau polusi dalam ruangan (indoor pollution) sama berbahayanya dengan polusi di luar ruangan (outdoor pollution).
"Polusi udara rumah tangga dan lingkungan (HAAP), yang merupakan risiko kesehatan global yang serius, terkait dengan penurunan kualitas hidup dan bertanggung jawab atas lebih dari enam juta kematian dini di seluruh dunia setiap tahunnya," tulis studi bertajuk Macro-level Indicators of Household and Ambient Air Pollution Mortality Risk: Global Evidence, dilansir dari ScienceDirect, Jumat (16/1/2026).
Baca juga:
Di negara-negara berkembang, polusi dalam ruangan kerap dianggap sebagai masalah struktural pembangunan yang dikaitkan dengan budaya masyarakat.
Contohnya, kebiasaan memasak pakai kayu bakar atau arang, dengan ventilasi terbatas.
Studi mengungkap polusi dalam rumah menyumbang lebih dari enam juta kematian dini tiap tahun. Studi terbaru dari Scott Mark Romeo Mahadeo dan Avidesh Seenath ini menganalisis risiko kematian akibat polusi di 150 negara. Baik polusi dalam ruangan dan polusi luar ruangan menggambarkan tantangan kesehatan masyarakat yang sama.
Dilansir dari The Conversation via Phys.org, paparan polusi udara di dalam rumah berkontribusi terhadap kematian dini di seluruh dunia.
Meski tingkat dan sumber paparan sangat bervariasi, polusi udara dalam ruangan secara konsisten menambah risiko kematian nasional di semua tingkat pendapatan.
Polutan udara dalam ruangan yang masuk ke paru-paru bisa memicu peradangan, serta memberi tekanan pada jantung dan sistem pernapasan dalam jangka panjang.
Proses biologis serupa terjadi ketika polusi berasal dari kompor kayu di desa terpencil atau dari kompor dalam ruangan berventilasi buruk di apartemen modern.
Baca juga:
Studi tersebut tidak mengukur paparan atau perilaku di tingkat rumah tangga. Sebaliknya, studi ini mempelajari pola di tingkat negara dan meneliti bagaimana akses terhadap bahan bakar masak bersih, listrik, perawatan kesehatan, dan kondisi sosial ekonomi yang lebih luas berkaitan dengan risiko kematian akibat polusi udara.
Hasil studi tersebut mengungkapkan pola yang jelas dan konsisten.
Penduduk di negara dengan akses energi rumah tangga yang mumpuni dan sistem kesehatan yang baik, misalnya Inggris, mengalami risiko kematian jauh lebih rendah terkait polusi udara.
Sementara itu, negara-negara seperti Benin, Kamerun, Guinea, Sierra Leone, dan Togo, menghadapi risiko yang jauh lebih tinggi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya