KOMPAS.com – Maluku Utara diberkahi keindahan alam yang memukau, mulai dari pegunungan hingga bahari. Di balik pesona tersebut, provinsi yang terbentuk pada 1999 ini juga menyimpan potensi bencana.
Berada di jalur ring of fire atau cincin api Pasifik, tempat lempeng-lempeng tektonik Bumi saling bertumbukan secara aktif, Maluku Utara rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan erupsi dari lima gunung api aktif.
Maka tak heran, wilayah Maluku Utara sejak abad ke-14 dijuluki “Moloku Kie Raha” atau Empat Gunung Api. Keempat gunung ini juga menjadi wilayah empat kesultanan besar saat itu, yakni Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.
Setidaknya terdapat lima gunung api aktif yang mengelilingi wilayah ini mulai dari Gunung Gamalama (Ternate), Gunung Ibu (Halmahera Barat), Gamkonora (Halmahera Barat), Dukono (Halmahera Utara), hingga Gunung Kie Besi (Halmahera Selatan).
Selain rawan erupsi gunung api, wilayah ini juga rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Perubahan iklim turut memperparah potensi bencana ini.
Curah hujan ekstrem kerap memicu banjir bandang dan tanah longsor yang sewaktu-waktu dapat melumpuhkan sendi kehidupan warga.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dilansir Antaranews.com, Selasa (1/7/2025), tercatat 76 kejadian bencana hidrometeorologi di 48 kecamatan sepanjang semester I 2025. Kabupaten Halmahera Selatan menjadi salah satu wilayah yang paling sering terdampak dengan 19 kejadian.
"Di balik keindahan, Maluku Utara terdapat potensi risiko bencana yang cukup tinggi," kata Kepala BNPB Suharyanto, seperti dikutip dari Antaranews.com.
Oleh karena itu, pihaknya mengingatkan pemangku kepentingan di Maluku Utara untuk meningkatkan kesiapsiagaan kebencanaan, baik dari ancaman erupsi maupun hidrometeorologi.
“Jangan tunggu korban baru bertindak. Harus selalu siap siaga,” tuturnya.
Baca juga: Pulau Obi Jadi Episentrum Baru Ekonomi Maluku Utara
Sebagai salah satu pemangku kepentingan di Maluku Utara, Harita Nickel mengambil peran proaktif dengan menempatkan keselamatan warga lingkar tambang secara khusus dan masyarakat Maluku Utara secara umum sebagai prioritas dalam strategi keberlanjutan perusahaan.
Untuk mempersiapkan kesiapsiagaan bencana, Harita Nickel menggandeng akademisi dari Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI). Kemitraan tersebut dijalin untuk memetakan potensi bahaya secara akurat.
Ketua DRRC UI Prof Dra Fatma Lestari, MSi, PhD mengatakan, pengelolaan bencana di wilayah rawan merupakan elemen vital bagi industri, termasuk pertambangan. Menurutnya, pemahaman terhadap risiko eksternal ataupun internal adalah langkah pertama dalam membangun kesiapsiagaan yang matang.
"Pengelolaan bencana merupakan bagian dari implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)," ujar Fatma, seperti ikutip dari situs resmi Harita Nickel, Sabtu (22/2/2025).
Berdasarkan kajian DRRC UI, Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, yang merupakan wilayah operasional Harita Nickel teridentifikasi memiliki kerentanan terhadap ancaman spesifik seperti gempa bumi, angin kencang, ombak besar, hingga tsunami.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya