Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 19 Februari 2026, 17:01 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Maluku Utara diberkahi keindahan alam yang memukau, mulai dari pegunungan hingga bahari. Di balik pesona tersebut, provinsi yang terbentuk pada 1999 ini juga menyimpan potensi bencana.

Berada di jalur ring of fire atau cincin api Pasifik, tempat lempeng-lempeng tektonik Bumi saling bertumbukan secara aktif, Maluku Utara rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan erupsi dari lima gunung api aktif.

Maka tak heran, wilayah Maluku Utara sejak abad ke-14 dijuluki “Moloku Kie Raha” atau Empat Gunung Api. Keempat gunung ini juga menjadi wilayah empat kesultanan besar saat itu, yakni Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Setidaknya terdapat lima gunung api aktif yang mengelilingi wilayah ini mulai dari Gunung Gamalama (Ternate), Gunung Ibu (Halmahera Barat), Gamkonora (Halmahera Barat), Dukono (Halmahera Utara), hingga Gunung Kie Besi (Halmahera Selatan).

Selain rawan erupsi gunung api, wilayah ini juga rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Perubahan iklim turut memperparah potensi bencana ini.

Curah hujan ekstrem kerap memicu banjir bandang dan tanah longsor yang sewaktu-waktu dapat melumpuhkan sendi kehidupan warga.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dilansir Antaranews.com, Selasa (1/7/2025), tercatat 76 kejadian bencana hidrometeorologi di 48 kecamatan sepanjang semester I 2025. Kabupaten Halmahera Selatan menjadi salah satu wilayah yang paling sering terdampak dengan 19 kejadian.

"Di balik keindahan, Maluku Utara terdapat potensi risiko bencana yang cukup tinggi," kata Kepala BNPB Suharyanto, seperti dikutip dari Antaranews.com.

Oleh karena itu, pihaknya mengingatkan pemangku kepentingan di Maluku Utara untuk meningkatkan kesiapsiagaan kebencanaan, baik dari ancaman erupsi maupun hidrometeorologi.

“Jangan tunggu korban baru bertindak. Harus selalu siap siaga,” tuturnya.

Baca juga: Pulau Obi Jadi Episentrum Baru Ekonomi Maluku Utara

Sains dan kolaborasi sebagai fondasi mitigasi

Sebagai salah satu pemangku kepentingan di Maluku Utara, Harita Nickel mengambil peran proaktif dengan menempatkan keselamatan warga lingkar tambang secara khusus dan masyarakat Maluku Utara secara umum sebagai prioritas dalam strategi keberlanjutan perusahaan.

Untuk mempersiapkan kesiapsiagaan bencana, Harita Nickel menggandeng akademisi dari Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI). Kemitraan tersebut dijalin untuk memetakan potensi bahaya secara akurat.

Ketua DRRC UI Prof Dra Fatma Lestari, MSi, PhD mengatakan, pengelolaan bencana di wilayah rawan merupakan elemen vital bagi industri, termasuk pertambangan. Menurutnya, pemahaman terhadap risiko eksternal ataupun internal adalah langkah pertama dalam membangun kesiapsiagaan yang matang.

"Pengelolaan bencana merupakan bagian dari implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)," ujar Fatma, seperti ikutip dari situs resmi Harita Nickel, Sabtu (22/2/2025).

Berdasarkan kajian DRRC UI, Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, yang merupakan wilayah operasional Harita Nickel teridentifikasi memiliki kerentanan terhadap ancaman spesifik seperti gempa bumi, angin kencang, ombak besar, hingga tsunami.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau