Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wahana Visi Bangun Akses Air Bersih di Sumba Barat Daya

Kompas.com, 19 Februari 2026, 15:39 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui proyek SEHAT CERDAS membangun sistem jaringan air bersih dan sanitasi dasar di tiga desa dampingan di wilayah tersebut.

Program tersebut dijalankan menyusul akses air bersih di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat 93,22 persen rumah tangga di Indonesia telah memiliki akses sumber air minum layak, sementara capaian di NTT sebesar 89,86 persen dan Sumba Barat Daya sekitar 86,12 persen pada 2024.

Baca juga: Krisis Air Bersih, KLH Kirim 10.000 Galon dan Alat Penjernih ke Aceh

Topografi berbukit dan kondisi geologi yang menantang membuat masyarakat kesulitan mengakses air bersih. Selama ini, perempuan dan anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak karena harus menempuh jarak jauh untuk mengambil air, yang berpengaruh pada waktu belajar dan kesehatan.

Melalui proyek ini, sebanyak 2.094 warga kini dapat mengakses air minum dasar yang disalurkan melalui 17 kran umum. Akses yang lebih dekat dinilai berdampak pada kebiasaan hidup bersih dan kesiapan anak bersekolah.

Secara teknis, WVI membangun tiga sistem Jaringan Air Bersih (JAB) dengan sumber sumur bor yang dipompa menggunakan tenaga surya menuju bak penampung di menara air, lalu didistribusikan melalui sekitar 8.000 meter pipa menggunakan sistem gravitasi.

Metode ini memungkinkan air menjangkau permukiman yang berada di lereng dan jalur berbatu tanpa memerlukan pompa tambahan.

Selain pembangunan infrastruktur, WVI bersama masyarakat dan pemerintah desa membentuk sembilan komite air untuk memastikan keberlanjutan layanan.

Komite tersebut mengelola iuran operasional dan pemeliharaan, termasuk perawatan pompa, pengecekan pipa, dan pembukuan sederhana.

Technical Sectors Director Wahana Visi Indonesia Yacobus Runtuwene mengatakan akses air layak masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumba Barat Daya.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan berbasis komunitas agar fasilitas yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Baca juga: Retno Marsudi Ungkap Tantangan Air Bersih, dari Infrastruktur hingga Investasi

"Di tingkat rumah tangga, program ini juga mendorong praktik hidup bersih melalui pembangunan 26 toilet keluarga yang dilengkapi fasilitas cuci tangan. Ketersediaan air yang lebih dekat membuka peluang bagi keluarga untuk mengembangkan kebun sayur serta meningkatkan kesehatan lingkungan," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (18/2/2026).

WVI berharap intervensi tersebut dapat mempersempit kesenjangan akses air bersih sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara mandiri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau