Dari kajian tersebut, Harita Nickel kemudian menindaklanjuti dengan menjalankan program Kawasi Siaga Bencana yang menjangkau warga secara langsung.
Occupational Health and Safety (OHS) Manager Harita Nickel Supriyanto Suwarno menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah wujud tanggung jawab sosial perusahaan.
Komitmen terhadap keberlanjutan, lanjutnya, dilakukan melalui penegakan Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH). Langkah ini menjadi standar utama dalam operasional perusahaan.
"Hal tersebut juga mencakup keselamatan bagi masyarakat di lingkar operasional perusahaan," tutur Supriyanto dalam situs resmi Harita Nickel, Rabu (16/4/2025).
Baca juga: Cerita dari Pulau Obi: Reklamasi Tambang Tak Sekadar Menanam Ulang
Puncaknya, pada Desember 2025, Harita Nickel menggelar Pelatihan Tanggap Bencana secara intensif di Desa Kawasi. Sebanyak 51 warga desa dilibatkan secara langsung dalam simulasi yang dirancang menyerupai kondisi nyata.
Materi yang diberikan mencakup teknik pemadaman api dini, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), hingga prosedur evakuasi mandiri saat terjadi gempa atau tsunami.
Dalam kegiatan yang dipimpin langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Selatan ini, Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) juga dibentuk. Tim ini diproyeksikan sebagai garda terdepan atau first responder saat situasi darurat terjadi di tingkat desa.
Pelibatan institusi lain seperti Stasiun Meteorologi Oesman Sadik dan Kantor Search and Rescue (SAR) Ternate semakin memperkaya wawasan warga.
Kepala Seksi Kesejahteraan Pemerintah Desa Kawasi Bambang Bakir menyambut positif inisiatif ini.
“Pembentukan TSBD memperkuat peran warga sebagai pelaku utama dalam menghadapi potensi bencana alam,” ujar Bambang.
Sistem kesiapsiagaan yang telah dibangun tersebut langsung menemui ujiannya saat cuaca ekstrem menghantam wilayah Maluku Utara pada awal 2026.
Hujan deras mengguyur tanpa henti menyebabkan banjir parah di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, pada Selasa (6/1/2026). Sungai meluap, menyapu permukiman, dan merendam rumah-rumah warga hingga setinggi atap.
Di Desa Tongute Ternate, Sukarni Siu, salah satu warga terdampak, harus bertaruh nyawa menyelamatkan keluarganya saat air bah datang tiba-tiba pada tengah malam.
Ia tidak hanya harus menyelamatkan diri, tetapi juga menggendong suaminya yang sedang sakit parah ke tempat yang lebih tinggi karena air sudah setinggi dada orang dewasa. Kondisi semakin pelik karena anak sulungnya baru saja menjalani operasi amputasi di Ternate.
"Ini sangat berat. Mengurus rumah, suami yang sakit, dan memikirkan anak yang diamputasi di tengah bencana," tuturnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya