Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jumlah Hari Panas dalam Setahun Bertambah, Produksi Kopi Dunia Terancam

Kompas.com, 19 Februari 2026, 18:33 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Perubahan iklim meningkatkan jumlah hari bersuhu ekstrem yang berisiko merusak tanaman kopi di negara-negara produsen utama dunia. Temuan ini diungkap dalam analisis terbaru lembaga riset iklim Climate Central.

Dalam laporan tersebut disebutkan, lima negara penghasil kopi terbesar, Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia, mengalami rata-rata 57 hari tambahan per tahun dengan suhu berbahaya bagi tanaman kopi akibat perubahan iklim. Kelima negara ini menyuplai sekitar 75 persen produksi kopi dunia.

Brasil sebagai produsen kopi terbesar dunia tercatat mengalami rata-rata 70 hari panas tambahan per tahun yang melewati ambang batas merugikan bagi tanaman kopi.

Baca juga: Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi

Secara keseluruhan, 25 negara penghasil kopi yang dianalisis, mewakili 97 persen produksi global, mengalami rata-rata 47 hari tambahan per tahun dengan suhu di atas ambang batas 30 derajat Celsius akibat perubahan iklim yang dipicu emisi karbon.

Climate Central menganalisis data suhu periode 2021–2025 dan membandingkannya dengan skenario tanpa polusi karbon menggunakan Climate Shift Index.

Ketika suhu melampaui 30 derajat Celsius, tanaman kopi mengalami stres panas yang dapat menurunkan hasil panen, memengaruhi kualitas biji, serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Dampaknya, pasokan kopi global berpotensi menyusut dan harga bagi konsumen meningkat.

Kondisi ini disebut paling berdampak pada petani kecil. Sekitar 80 persen produsen kopi global merupakan petani skala kecil yang menyuplai sekitar 60 persen produksi dunia. Namun, pada 2021 mereka hanya menerima 0,36 persen pembiayaan yang dibutuhkan untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

General Manager Oromia Coffee Farmers Cooperatives Union (OCFCU) Ethiopia, Dejene Dadi, mengatakan petani kopi di negaranya sudah merasakan dampak suhu ekstrem.

Menurutnya, kopi arabika Ethiopia sangat sensitif terhadap paparan sinar matahari langsung. Tanpa naungan yang cukup, pohon kopi menghasilkan lebih sedikit biji dan lebih rentan terhadap penyakit.

Sementara itu, Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, Dr. Kristina Dahl, menyebut perubahan iklim kini secara nyata mengancam pasokan kopi global.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim di Brasil Sebabkan Harga Kopi Dunia Naik Tajam

“Sebagian besar negara penghasil kopi utama kini mengalami lebih banyak hari panas ekstrem yang merugikan tanaman kopi. Dampaknya dapat dirasakan dari kebun hingga ke konsumen, termasuk pada kualitas dan harga kopi,” ujarnya.

Climate Central menegaskan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terjadi pada kopi, tetapi juga pada berbagai komoditas pangan lainnya, yang berpotensi memicu tekanan terhadap harga dan ketahanan pangan global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau