Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
INKLUSIVITAS

Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi

Kompas.com, 11 Januari 2026, 09:03 WIB
Y A Sasongko,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Asri Alyani menyambut pesanan tanpa suara. Di balik bar Starbucks Signing Store Tata Puri, Jakarta, matanya bergerak tenang. 

Ia tidak menunggu suara. Ia menunggu kontak mata. Ketika seorang pelanggan menyodorkan papan kecil berisi catatan pesanan, Asri menyambutnya dengan senyum tipis yang tulus. Tangannya bergerak lincah di atas mesin kasir. 

Lalu, dengan isyarat mengangkat ujung jari di dekat dagu menjauh sambil tersenyum tulus—tanda terima kasih dalam Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), ia mempersilakan pelanggan menunggu.

Asri pun bergerak di antara mesin espresso dan penggiling biji kopi. Tak lama, sebuah papan digital menyala, menampilkan nomor urut pesanan yang telah selesai dibuat.

Tak ada percakapan verbal. Namun, komunikasi dapat berlangsung tanpa hambatan. Lewat gestur sederhana, senyum, dan bahasa isyarat, pemesanan berjalan lancar. 

Bagi Asri dan barista teman Tuli lain, inilah keseharian. Bagi sebagian pelanggan, pengalaman ini sering kali terasa baru.

Baca juga: Aksi Cepat Starbucks Salurkan Bantuan bagi Korban Banjir dan Longsor di Sumatera

Barista Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri melayani pelanggan menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia.KOMPAS.com/AGUNG DWI E Barista Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri melayani pelanggan menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia.

Starbucks Signing Store Tata Puri sepintas memang tak berbeda dari gerai lain. Namun, begitu masuk, pelanggan akan merasakan suasana berbeda. Ada gambar urutan abjad lengkap dengan bahasa isyaratnya. 

Di tembok bagian kiri selepas pintu masuk, terdapat mural bertuliskan “Starbucks” yang juga dilengkapi bahasa isyarat.

Meja barnya pun sedikit berbeda. Jika gerai biasa berbentuk sudut dan hanya satu akses jalan, meja bar Gerai Tata Puri memiliki dua akses jalan di kedua sisi. 

Terdapat pula layar untuk memberi informasi kepada pelanggan nomor urut tunggu pesanannya. Fasilitas ini tidak ditemui di gerai Starbucks lain.

Bergeser lagi, pelanggan akan menemui mural yang memenuhi tembok hingga ke area merokok di luar. Mural ini dibuat oleh seniman teman Tuli, Indira Natalia dari Jakarta.

“Semua fasilitas dan desain interior di sini memang dikonsep agar ramah untuk teman Tuli, baik barista maupun pengunjung,” tutur Public Relations Communications & CSR Division Manager PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks Indonesia) Kiki Rizki kepada Kompas.com, Jumat (19/12/2025).

Baca juga: Starbucks Bantu Renovasi Sarana Pendidikan yang Terdampak Bencana Banjir Bali

Komunikasi memang tak selalu bergantung pada suara di signing store pertama Starbucks yang diresmikan awal Desember 2022 itu. Bahasa isyarat, tulisan singkat, dan ekspresi wajah menjadi bahasa bersama. 

Orang dengar justru diajak untuk menyesuaikan diri: menunjuk menu, menuliskan pesanan, atau mencoba satu-dua gerakan bahasa isyarat yang diajarkan barista teman Tuli di area kasir.

Bagi Asri, berdiri di balik bar hari ini adalah sesuatu yang dulu sempat terasa jauh. Ruang ini juga bukan sekadar tempat bekerja, melainkan titik awal perubahan yang dulu hampir mustahil diwujudkan.

Kepada Kompas.com, ia pun menceritakan pengalamannya sebelum bekerja sebagai barista lewat Bisindo dan dibantu penerjemah.

Asri Alyani, salah satu barista teman Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri, menyajikan kopi Sumatera dengan cara French Press. Tak sekadar menyajikan, ia juga fasih menjelaskan asal-usul kopi dan cara terenak menyesap kopi ini.KOMPAS.com/AGUNG DWI E Asri Alyani, salah satu barista teman Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri, menyajikan kopi Sumatera dengan cara French Press. Tak sekadar menyajikan, ia juga fasih menjelaskan asal-usul kopi dan cara terenak menyesap kopi ini.

Ketika mendapat informasi Starbucks Indonesia buka lowongan barista khusus untuk teman Tuli, Asri merasa senang. Sebab, sebagai teman Tuli, Asri memahami betul bahwa tantangan terbesar dalam dunia kerja sering kali bukan soal kemampuan, melainkan akses. 

Lowongan khusus untuk teman Tuli seperti yang dibuka Starbucks sangat langka. Karena itu, ia pun memberanikan diri melamar.

Baca juga: Pemprov Jakarta, Inotek, dan Starbucks Indonesia Luncurkan Program KRING untuk Dukung 100 UMKM Kopi

Setelah mendapat panggilan, mentalnya justru ciut. Ia membayangkan proses wawancara yang sulit dipahami, pewawancara yang tak mengerti bahasa isyarat dan tak sabaran, atau penolakan yang datang tanpa penjelasan.

“Lalu, saya ragu. Saya bertanya-tanya, apakah saya bisa diterima di Starbucks karena keterbatasan komunikasi,” ujar Asri dalam bahasa isyarat kepada Kompas.com.

Saat itu, Asri masih bekerja di sektor retail lain. Ia menimbang-nimbang kemungkinan terburuk. Namun, keinginan untuk mencoba akhirnya mengalahkan rasa takut.

“Ya sudah, saya beranikan diri,” katanya.

Keputusan sederhana itu menjadi titik balik. Asri tak menyangka proses rekrutmen berjalan lancar. Ketakutannya akan keterbatasan komunikasi tidak terjadi lantaran semua pewawancara dari divisi human resource (HR) Starbucks bisa berbahasa isyarat.

“Ini yang membuat saya terkejut,” imbuhnya.

Asri pun tak menyangka akan diterima oleh Starbucks. Lebih dari itu, ia bahkan menemukan lingkungan kerja yang berbeda dari bayangannya.

Baca juga: Starbucks Catat Rekor MURI dan Rayakan Bulan Kopi Internasional dengan Kompetisi Latte Art

Salah satu pelanggan memesan minuman lewat papan tulis. Cara ini menjadi jembatan komunikasi antara barista Tuli dan pelanggan. Di sela-sela, barista Tuli biasa mengajarkan bahasa isyarat sederhana, seperti ?terima kasih? dan ?sama-sama?. KOMPAS.com/AGUNG DWI E Salah satu pelanggan memesan minuman lewat papan tulis. Cara ini menjadi jembatan komunikasi antara barista Tuli dan pelanggan. Di sela-sela, barista Tuli biasa mengajarkan bahasa isyarat sederhana, seperti ?terima kasih? dan ?sama-sama?.

Sejak hari pertama bergabung, Asri merasakan bahwa gerai ini dirancang dengan pendekatan yang lebih setara. Rekan kerja dari orang dengar sudah fasih berbahasa isyarat.

Interaksi di dalam store pun berlangsung tanpa menempatkan barista Tuli sebagai pihak yang harus terus menyesuaikan diri sendirian.

“Interaksi jadi lebih terbuka dan ramah. Saya merasa sangat nyaman bekerja di sini,” ujarnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau