JAKARTA, KOMPAS.com — Asri Alyani menyambut pesanan tanpa suara. Di balik bar Starbucks Signing Store Tata Puri, Jakarta, matanya bergerak tenang.
Ia tidak menunggu suara. Ia menunggu kontak mata. Ketika seorang pelanggan menyodorkan papan kecil berisi catatan pesanan, Asri menyambutnya dengan senyum tipis yang tulus. Tangannya bergerak lincah di atas mesin kasir.
Lalu, dengan isyarat mengangkat ujung jari di dekat dagu menjauh sambil tersenyum tulus—tanda terima kasih dalam Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), ia mempersilakan pelanggan menunggu.
Asri pun bergerak di antara mesin espresso dan penggiling biji kopi. Tak lama, sebuah papan digital menyala, menampilkan nomor urut pesanan yang telah selesai dibuat.
Tak ada percakapan verbal. Namun, komunikasi dapat berlangsung tanpa hambatan. Lewat gestur sederhana, senyum, dan bahasa isyarat, pemesanan berjalan lancar.
Bagi Asri dan barista teman Tuli lain, inilah keseharian. Bagi sebagian pelanggan, pengalaman ini sering kali terasa baru.
Baca juga: Aksi Cepat Starbucks Salurkan Bantuan bagi Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
Barista Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri melayani pelanggan menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia.Starbucks Signing Store Tata Puri sepintas memang tak berbeda dari gerai lain. Namun, begitu masuk, pelanggan akan merasakan suasana berbeda. Ada gambar urutan abjad lengkap dengan bahasa isyaratnya.
Di tembok bagian kiri selepas pintu masuk, terdapat mural bertuliskan “Starbucks” yang juga dilengkapi bahasa isyarat.
Meja barnya pun sedikit berbeda. Jika gerai biasa berbentuk sudut dan hanya satu akses jalan, meja bar Gerai Tata Puri memiliki dua akses jalan di kedua sisi.
Terdapat pula layar untuk memberi informasi kepada pelanggan nomor urut tunggu pesanannya. Fasilitas ini tidak ditemui di gerai Starbucks lain.
Bergeser lagi, pelanggan akan menemui mural yang memenuhi tembok hingga ke area merokok di luar. Mural ini dibuat oleh seniman teman Tuli, Indira Natalia dari Jakarta.
“Semua fasilitas dan desain interior di sini memang dikonsep agar ramah untuk teman Tuli, baik barista maupun pengunjung,” tutur Public Relations Communications & CSR Division Manager PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks Indonesia) Kiki Rizki kepada Kompas.com, Jumat (19/12/2025).
Baca juga: Starbucks Bantu Renovasi Sarana Pendidikan yang Terdampak Bencana Banjir Bali
Komunikasi memang tak selalu bergantung pada suara di signing store pertama Starbucks yang diresmikan awal Desember 2022 itu. Bahasa isyarat, tulisan singkat, dan ekspresi wajah menjadi bahasa bersama.
Orang dengar justru diajak untuk menyesuaikan diri: menunjuk menu, menuliskan pesanan, atau mencoba satu-dua gerakan bahasa isyarat yang diajarkan barista teman Tuli di area kasir.
Bagi Asri, berdiri di balik bar hari ini adalah sesuatu yang dulu sempat terasa jauh. Ruang ini juga bukan sekadar tempat bekerja, melainkan titik awal perubahan yang dulu hampir mustahil diwujudkan.
Kepada Kompas.com, ia pun menceritakan pengalamannya sebelum bekerja sebagai barista lewat Bisindo dan dibantu penerjemah.
Asri Alyani, salah satu barista teman Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri, menyajikan kopi Sumatera dengan cara French Press. Tak sekadar menyajikan, ia juga fasih menjelaskan asal-usul kopi dan cara terenak menyesap kopi ini.Ketika mendapat informasi Starbucks Indonesia buka lowongan barista khusus untuk teman Tuli, Asri merasa senang. Sebab, sebagai teman Tuli, Asri memahami betul bahwa tantangan terbesar dalam dunia kerja sering kali bukan soal kemampuan, melainkan akses.
Lowongan khusus untuk teman Tuli seperti yang dibuka Starbucks sangat langka. Karena itu, ia pun memberanikan diri melamar.
Baca juga: Pemprov Jakarta, Inotek, dan Starbucks Indonesia Luncurkan Program KRING untuk Dukung 100 UMKM Kopi
Setelah mendapat panggilan, mentalnya justru ciut. Ia membayangkan proses wawancara yang sulit dipahami, pewawancara yang tak mengerti bahasa isyarat dan tak sabaran, atau penolakan yang datang tanpa penjelasan.
“Lalu, saya ragu. Saya bertanya-tanya, apakah saya bisa diterima di Starbucks karena keterbatasan komunikasi,” ujar Asri dalam bahasa isyarat kepada Kompas.com.
Saat itu, Asri masih bekerja di sektor retail lain. Ia menimbang-nimbang kemungkinan terburuk. Namun, keinginan untuk mencoba akhirnya mengalahkan rasa takut.
“Ya sudah, saya beranikan diri,” katanya.
Keputusan sederhana itu menjadi titik balik. Asri tak menyangka proses rekrutmen berjalan lancar. Ketakutannya akan keterbatasan komunikasi tidak terjadi lantaran semua pewawancara dari divisi human resource (HR) Starbucks bisa berbahasa isyarat.
“Ini yang membuat saya terkejut,” imbuhnya.
Asri pun tak menyangka akan diterima oleh Starbucks. Lebih dari itu, ia bahkan menemukan lingkungan kerja yang berbeda dari bayangannya.
Baca juga: Starbucks Catat Rekor MURI dan Rayakan Bulan Kopi Internasional dengan Kompetisi Latte Art
Salah satu pelanggan memesan minuman lewat papan tulis. Cara ini menjadi jembatan komunikasi antara barista Tuli dan pelanggan. Di sela-sela, barista Tuli biasa mengajarkan bahasa isyarat sederhana, seperti ?terima kasih? dan ?sama-sama?. Sejak hari pertama bergabung, Asri merasakan bahwa gerai ini dirancang dengan pendekatan yang lebih setara. Rekan kerja dari orang dengar sudah fasih berbahasa isyarat.
Interaksi di dalam store pun berlangsung tanpa menempatkan barista Tuli sebagai pihak yang harus terus menyesuaikan diri sendirian.
“Interaksi jadi lebih terbuka dan ramah. Saya merasa sangat nyaman bekerja di sini,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya