Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Harga kopi dunia melonjak tajam pada Agustus 2025. Laporan International Coffee Organization (ICO) mencatat, Indikator Komposit Harga Kopi (I-CIP) naik 14,6 persen menjadi rata-rata 297,05 sen AS per pon dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan tertinggi terjadi pada jenis robusta yang melesat 19,1 persen menjadi 199,13 sen AS per pon.
Mengutip laporan ICo, Rabu (1/10/2025), lonjakan harga dipicu berbagai faktor, mulai dari dampak tarif 50 persen Amerika Serikat terhadap kopi Brasil, destocking yang tinggi di pasar, laporan penurunan kualitas biji kopi, hingga mendekatnya tenggat regulasi Uni Eropa (EUDR) yang mendorong importir menambah stok.
Baca juga: Tropenbos Kembangkan Agroforestri Karet dan Kopi Liberika di Kalbar
Selain itu, gelombang pembelian panjang (long position) oleh roaster di pasar berjangka turut memperkuat tren kenaikan harga.
Meski harga melonjak, ekspor kopi global justru menurun. Pada Juli 2025, total ekspor kopi hijau tercatat 10,3 juta kantong atau turun 0,7 persen dibanding Juli 2024.
"Ekspor dari Brasil—produsen terbesar dunia—anjlok 16,8 persen menjadi 2,67 juta kantong. Sebaliknya, Kolombia, Honduras, dan Vietnam mencatatkan peningkatan pengiriman", tulis laporan tersebut.
Jika dilihat per wilayah, ekspor Amerika Selatan turun paling dalam, yakni sebesar 18,5 persen menjadi 4,4 juta kantong. Sebaliknya, Asia & Oseania melonjak 22,7 persen, terutama didorong ekspor Vietnam yang naik 29,4 persen menjadi 1,7 juta kantong serta Indonesia yang meningkat 20,4 persen menjadi 960.000 kantong.
Afrika juga tumbuh 4,4 persen berkat kinerja Uganda dan Ethiopia, sementara Meksiko dan Amerika Tengah naik 7,2 persen.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran tren pasar. Negara-negara Asia, khususnya Vietnam dan Indonesia, semakin memainkan peran penting dalam pasokan kopi dunia, seiring penurunan ekspor dari Brasil akibat faktor musiman dan logistik.
Menurut ICO, Indonesia bahkan mencatat pertumbuhan ekspor dua digit dalam sembilan dari sepuluh bulan terakhir tahun kopi 2024/25.
Di sisi lain, penurunan stok kopi bersertifikat di pasar berjangka London dan New York semakin memperketat pasokan.
Baca juga: Kemenperin: Produksi 1,4 Juta Ton, Kopi Indonesia Kian Kompetitif
Pada akhir Agustus 2025, stok Arabika turun 7,9 persen menjadi 770.000 kantong, level terendah sejak April 2024. Stok Robusta juga merosot 4,6 persen menjadi 1,13 juta kantong. Kondisi ini diperkirakan akan menjaga harga tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi Indonesia, situasi ini memberi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, harga Robusta yang menguat dapat meningkatkan nilai ekspor mengingat mayoritas produksi nasional berasal dari jenis ini.
Namun, di sisi lain, tingginya harga global berpotensi menekan industri hilir dalam negeri, termasuk produsen kopi kemasan dan kafe yang mengandalkan pasokan lokal maupun impor.
Analis memperkirakan, dengan tren stok yang menipis dan permintaan yang masih kuat, harga kopi berpotensi bertahan tinggi hingga akhir 2025.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya