Editor
KOMPAS.com - Selokan di area kantin SMAN 59 Jakarta beberapa kali tersumbat oleh tumpukan minyak jelantah yang dibuang begitu saja. Pada waktu yang sama, sejumlah meja dan kursi kayu di ruang kelas juga dilaporkan cepat rusak akibat serangan rayap.
Kondisi tersebut mendorong para siswa, yang bergabung dalam tim Oleum Redivivus, mencari cara untuk menghubungkan keduanya.
Baca juga:
Tim yang beranggotakan Anwar Abustamam, Alesya Zahira, Jihan Aqeela, Kian Fidel, dan Mohammad Kresno ini mengembangkan ide untuk memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan pelapis kayu alami yang dapat menekan kerusakan akibat rayap.
Gagasan itu kemudian diwujudkan dalam proyek bernama JEJAKA (Jelantah Jadi Karya), pelapis kayu anti-hama.
Menurut tim Oleum Redivivus, proses pengolahan minyak jelantah dimulai dengan penyaringan sederhana untuk memisahkan sisa makanan dan kotoran.
Cairan yang sudah lebih bersih ini kemudian dicampur dengan bahan pendukung sebelum diaplikasikan pada permukaan kayu yang akan diuji.
Dari beberapa percobaan awal, lapisan tersebut menunjukkan kemampuan menahan rayap sekaligus membuat tekstur kayu menjadi lebih padat.
“Awalnya kami cuma melihat minyak jelantah sebagai sumber masalah di selokan. Baru setelah mencoba, kami sadar bahan ini ternyata masih punya nilai dan bisa dipakai untuk melindungi kayu,” kata salah satu anggota tim Oleum Redivivus.
Perubahan cara pandang itu membuat mereka terus melanjutkan uji coba meski hasilnya tidak selalu konsisten. Selama pengembangan, tim ini menghadapi beberapa kendala, terutama terkait bau minyak dan ketahanan lapisan pada jenis kayu yang berbeda.
Mereka melakukan penyesuaian komposisi berulang kali hingga menemukan formula yang lebih stabil dengan dukungan dari guru pembimbing.
Ketertarikan terhadap proyek ini mulai terlihat ketika beberapa guru mencoba mengaplikasikan pelapis Jejaka pada perabot kelas yang rusak ringan.
Mereka juga menerima pertanyaan dari siswa lain mengenai cara mengolah minyak jelantah agar tidak lagi mencemari saluran air.
“Yang bikin kami bertahan itu kebersamaan di tim. Saat percobaan gagal, kami saling menguatkan dan mencoba lagi,” ujar anggota tim lainnya.
Baca juga:
Perwakilan Tim SMAN 59 Jakarta menerima penghargaan ASRI Awards Kompas Gramedia.Untuk tahap selanjutnya, tim ini berharap bisa mendapatkan akses laboratorium yang lebih lengkap dan pendampingan dari ahli kimia organik, khususnya terkait proses epoksidasi dan oleoresin.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya