Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Minyak Jelantah Jadi Pelapis Kayu Anti Rayap, Inovasi Siswa SMAN 59 Jakarta

Kompas.com, 20 Februari 2026, 08:55 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Editor

KOMPAS.com - Selokan di area kantin SMAN 59 Jakarta beberapa kali tersumbat oleh tumpukan minyak jelantah yang dibuang begitu saja. Pada waktu yang sama, sejumlah meja dan kursi kayu di ruang kelas juga dilaporkan cepat rusak akibat serangan rayap.  

Kondisi tersebut mendorong para siswa, yang bergabung dalam tim Oleum Redivivus, mencari cara untuk menghubungkan keduanya. 

Baca juga:

Tim yang beranggotakan Anwar Abustamam, Alesya Zahira, Jihan Aqeela, Kian Fidel, dan Mohammad Kresno ini mengembangkan ide untuk memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan pelapis kayu alami yang dapat menekan kerusakan akibat rayap.

Gagasan itu kemudian diwujudkan dalam proyek bernama JEJAKA (Jelantah Jadi Karya), pelapis kayu anti-hama.

Siswa SMAN 59 Jakarta bikin pelapis kayu dari minyak jelantah

Bau minyak dan ketahanan lapisan jadi tantangan

Menurut tim Oleum Redivivus, proses pengolahan minyak jelantah dimulai dengan penyaringan sederhana untuk memisahkan sisa makanan dan kotoran.

Cairan yang sudah lebih bersih ini kemudian dicampur dengan bahan pendukung sebelum diaplikasikan pada permukaan kayu yang akan diuji.

Dari beberapa percobaan awal, lapisan tersebut menunjukkan kemampuan menahan rayap sekaligus membuat tekstur kayu menjadi lebih padat.

“Awalnya kami cuma melihat minyak jelantah sebagai sumber masalah di selokan. Baru setelah mencoba, kami sadar bahan ini ternyata masih punya nilai dan bisa dipakai untuk melindungi kayu,” kata salah satu anggota tim Oleum Redivivus.

Perubahan cara pandang itu membuat mereka terus melanjutkan uji coba meski hasilnya tidak selalu konsisten. Selama pengembangan, tim ini menghadapi beberapa kendala, terutama terkait bau minyak dan ketahanan lapisan pada jenis kayu yang berbeda.

Mereka melakukan penyesuaian komposisi berulang kali hingga menemukan formula yang lebih stabil dengan dukungan dari guru pembimbing.

Ketertarikan terhadap proyek ini mulai terlihat ketika beberapa guru mencoba mengaplikasikan pelapis Jejaka pada perabot kelas yang rusak ringan.

Mereka juga menerima pertanyaan dari siswa lain mengenai cara mengolah minyak jelantah agar tidak lagi mencemari saluran air.

“Yang bikin kami bertahan itu kebersamaan di tim. Saat percobaan gagal, kami saling menguatkan dan mencoba lagi,” ujar anggota tim lainnya.

Baca juga:

Berharap bisa dapat akses ke laboratorium yang lengkap

Perwakilan Tim SMAN 59 Jakarta menerima penghargaan ASRI Awards Kompas Gramedia.Dok. ASRI Perwakilan Tim SMAN 59 Jakarta menerima penghargaan ASRI Awards Kompas Gramedia.

Untuk tahap selanjutnya, tim ini berharap bisa mendapatkan akses laboratorium yang lebih lengkap dan pendampingan dari ahli kimia organik, khususnya terkait proses epoksidasi dan oleoresin.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Pemerintah
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Pemerintah
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Swasta
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Hari Bumi 2026: Tema dan Sejarahnya
Hari Bumi 2026: Tema dan Sejarahnya
Pemerintah
Akademisi: Retribusi Sampah 'Bocor' di Setiap Pos
Akademisi: Retribusi Sampah 'Bocor' di Setiap Pos
LSM/Figur
KADIN: Permenhut Baru Jadi Angin Segar Kembangkan Pasar Karbon Sukarela
KADIN: Permenhut Baru Jadi Angin Segar Kembangkan Pasar Karbon Sukarela
Swasta
Hari Bumi dan Semangat Transisi Energi
Hari Bumi dan Semangat Transisi Energi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau