Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siswa SMAN 2 Semarang Ubah Kebiasaan Kecil Jadi Gerakan Hidup Sehat

Kompas.com, 16 Februari 2026, 08:10 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Editor

KOMPAS.com - Di kantin sekolah, jajanan manis dan gorengan biasanya lebih cepat habis daripada buah. Di sudut lain, botol minum sering bergeletakan, sedangkan tempat sampah penuh oleh bungkus makanan instan.

Pemandangan tersebut begitu akrab bagi siswa SMAN 2 Semarang, Jawa Tengah, sampai dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan remaja.

Baca juga:

Namun, bagi para siswa di sekolah ini yang tergabung dalam Tim Nakou, kebiasaan yang tampak sepele itu menyimpan kegelisahan.

Tim yang terdiri dari Aulia Luthfiana, Komang Unna Yanahita, dan Naila Urmila Zara melihat pola makan yang kurang sehat dan minimnya perhatian pada kebersihan.

Tidak hanya itu, rendahnya kesadaran akan kesehatan fisik dan mental menjadi masalah yang pelan-pelan menggerus kualitas hidup siswa.

Dari kegelisahan itulah lahir Gerakan SERDADU (Sehat, Cerdas, Berbudaya), inisiatif yang kemudian mengantarkan mereka menjadi pemenang kategori Physical Well-Being Project pada ASRI Awards 2025.

Siswa SMAN 2 Semarang buat Gerakan SERDADU

Dari hal sepele yang terlalu lama dianggap biasa

Titik awalnya bukan dari riset rumit, melainkan dari pengamatan sehari-hari.

Para anggota tim menyadari banyak teman mereka terbiasa melewatkan sarapan, memilih jajanan murah tanpa memikirkan kandungan gizinya, dan menganggap olahraga sekadar pelengkap pelajaran.

Awalnya semua itu terasa wajar, sampai timbul pertanyaan: Jika kebiasaan ini terus dilanjutkan, akan seperti apa kesehatan remaja beberapa tahun ke depan?

Pertanyaan sederhana itu mendorong mereka untuk berdiskusi, mengumpulkan data kecil-kecilan, lalu merancang gerakan yang bisa dilakukan dari sekolah mereka sendiri.

Serdadu tidak dirancang sebagai program besar yang rumit, melainkan langkah-langkah dekat dengan keseharian seperti edukasi tentang gizi, kampanye membawa bekal sehat, dan kegiatan yang menumbuhkan budaya untuk saling mengingatkan.

Baca juga:

Belajar bertumbuh bersama

Implementasi Program SERDADU di SMAN 2 Semarang, Jawa Tengah.Dok. Tim Implementasi Program SERDADU di SMAN 2 Semarang, Jawa Tengah.

Perjalanan mengikuti Kompetisi ASRI Kompas Gramedia benar-benar mengubah cara Tim Nakou melihat masalah. Yang semula terasa berat dan jauh, pelan-pelan tampak bisa dikerjakan secara bertahap.

Mereka juga mulai melihat diri bukan hanya sebagai siswa yang mengikuti lomba, melainkan sebagai bagian dari lingkungan yang bisa memberi pengaruh.

Proses itu tidak selalu mulus. Ada masa ketika semangat menurun, jadwal tim sulit disatukan, dan hasil kegiatan belum terlihat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau