Editor
KOMPAS.com - Di kantin sekolah, jajanan manis dan gorengan biasanya lebih cepat habis daripada buah. Di sudut lain, botol minum sering bergeletakan, sedangkan tempat sampah penuh oleh bungkus makanan instan.
Pemandangan tersebut begitu akrab bagi siswa SMAN 2 Semarang, Jawa Tengah, sampai dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan remaja.
Baca juga:
Namun, bagi para siswa di sekolah ini yang tergabung dalam Tim Nakou, kebiasaan yang tampak sepele itu menyimpan kegelisahan.
Tim yang terdiri dari Aulia Luthfiana, Komang Unna Yanahita, dan Naila Urmila Zara melihat pola makan yang kurang sehat dan minimnya perhatian pada kebersihan.
Tidak hanya itu, rendahnya kesadaran akan kesehatan fisik dan mental menjadi masalah yang pelan-pelan menggerus kualitas hidup siswa.
Dari kegelisahan itulah lahir Gerakan SERDADU (Sehat, Cerdas, Berbudaya), inisiatif yang kemudian mengantarkan mereka menjadi pemenang kategori Physical Well-Being Project pada ASRI Awards 2025.
Titik awalnya bukan dari riset rumit, melainkan dari pengamatan sehari-hari.
Para anggota tim menyadari banyak teman mereka terbiasa melewatkan sarapan, memilih jajanan murah tanpa memikirkan kandungan gizinya, dan menganggap olahraga sekadar pelengkap pelajaran.
Awalnya semua itu terasa wajar, sampai timbul pertanyaan: Jika kebiasaan ini terus dilanjutkan, akan seperti apa kesehatan remaja beberapa tahun ke depan?
Pertanyaan sederhana itu mendorong mereka untuk berdiskusi, mengumpulkan data kecil-kecilan, lalu merancang gerakan yang bisa dilakukan dari sekolah mereka sendiri.
Serdadu tidak dirancang sebagai program besar yang rumit, melainkan langkah-langkah dekat dengan keseharian seperti edukasi tentang gizi, kampanye membawa bekal sehat, dan kegiatan yang menumbuhkan budaya untuk saling mengingatkan.
Baca juga:
Implementasi Program SERDADU di SMAN 2 Semarang, Jawa Tengah.Perjalanan mengikuti Kompetisi ASRI Kompas Gramedia benar-benar mengubah cara Tim Nakou melihat masalah. Yang semula terasa berat dan jauh, pelan-pelan tampak bisa dikerjakan secara bertahap.
Mereka juga mulai melihat diri bukan hanya sebagai siswa yang mengikuti lomba, melainkan sebagai bagian dari lingkungan yang bisa memberi pengaruh.
Proses itu tidak selalu mulus. Ada masa ketika semangat menurun, jadwal tim sulit disatukan, dan hasil kegiatan belum terlihat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya