BOGOR, KOMPAS.com – Jumat (13/2/2026) pagi yang menjadi hari terakhir sekolah sebelum libur panjang tiba terasa lebih sibuk bagi Septiani (37 tahun). Di rumah sederhana di bilangan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ia sibuk sejak subuh.
Septiani menyiapkan bekal untuk anak pertamanya yang duduk di bangku kelas 3 SD dan memastikan seragam sudah rapi disetrika. Ia juga menyeduh kopi untuk sang suami yang setiap hari berkantor di Jakarta Selatan. Di sela-sela kesibukan itu, Septiani sempat mengecek notifikasi pekerjaan freelance di ponselnya.
Rumah itu tidak besar. Luas tanah dan bangunan masing-masing 60 meter persegi. Namun, bagi Septiani, rumah itu adalah pusat dari segalanya.
Rumah itu adalah rumah pertamanya, hasil keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian pandemi. Karenanya, rumah menjadi lebih dari sekadar bangunan berdinding bata dan beratap genteng baginya.
“(Bagi saya) rumah itu tempat kita pulang sejauh apa pun lagi tugas kerja, sepadat apa pun anak kegiatan di sekolah. Rumah itu tempat ngumpul, tempat tumbuh yang aman dan nyaman buat anak-anak. Tempat kita diskusi apa pun. Kalau lagi ada masalah, saya selalu bilang, ‘Yaudah nanti aja dibahasnya di rumah’,” tutur Septiani kala berbincang dengan Kompas.com seusai si sulung dan suami berangkat.
Baca juga: Sejak 1976, BTN Salurkan KPR Rp 555,11 Triliun untuk Hampir 6 Juta Rumah
Sebelum menikah, Septiani sudah tiga kali pindah kontrakan bersama orangtua dan kedua saudaranya. Setelah menikah pun, ia dan suami masih menyewa. Status sebagai penyewa membuatnya merasa hidup serba-sementara.
“Takut sewaktu-waktu diminta pindah. Takut tak bisa memperpanjang kontrak. Takut belum bisa memberi anak-anak saya tempat tinggal yang benar-benar milik sendiri. Rasanya seperti numpang hidup,” katanya pelan.
Sebagai informasi, rumah yang kini ditempati Septiani dibeli melalui Program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN. Cicilannya Rp 1,3 juta per bulan dengan tenor 15 tahun.
Menurutnya, aspek finansial semula memang menjadi pertimbangan utama.
“DP-nya murah, cuma Rp 10 juta. Cicilannya juga masih masuk akal dan bunganya flat,” ujar Septiani.
Keluarga Septiani berfoto di rumah pertama mereka di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.Lokasi pun menjadi faktor yang tak kalah penting. Orangtua Septiani juga tinggal di kawasan Cileungsi. Menariknya, akses menuju Stasiun KRL Nambo dari rumah Septiani terbilang dekat. Demikian pula akses ke arah Tol Cibubur.
Namun, perjuangan menuju kepemilikan rumah pertama itu tidak instan.
Keinginan memiliki rumah sendiri sebenarnya sudah lama muncul. Pada 2018, Septiani pernah mencoba mengambil KPR subsidi di Perumnas Dramaga, Bogor. Namun, saat itu, ia masih memiliki utang konsumtif sehingga tidak lolos skema subsidi dan hanya mendapat opsi komersial dengan DP Rp 60 juta.
“Ku tak sanggup,” katanya sambil tertawa kecil.
Pada 2019, ia memutuskan resign untuk fokus mengurus keluarga kecilnya. Pandemi pun datang pada 2020. Harapan memiliki rumah terasa makin jauh panggang daripada api.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya