Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 25 Februari 2026, 11:51 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

BOGOR, KOMPAS.com – Jumat (13/2/2026) pagi yang menjadi hari terakhir sekolah sebelum libur panjang tiba terasa lebih sibuk bagi Septiani (37 tahun). Di rumah sederhana di bilangan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ia sibuk sejak subuh.

Septiani menyiapkan bekal untuk anak pertamanya yang duduk di bangku kelas 3 SD dan memastikan seragam sudah rapi disetrika. Ia juga menyeduh kopi untuk sang suami yang setiap hari berkantor di Jakarta Selatan. Di sela-sela kesibukan itu, Septiani sempat mengecek notifikasi pekerjaan freelance di ponselnya.

Rumah itu tidak besar. Luas tanah dan bangunan masing-masing 60 meter persegi. Namun, bagi Septiani, rumah itu adalah pusat dari segalanya.

Rumah itu adalah rumah pertamanya, hasil keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian pandemi. Karenanya, rumah menjadi lebih dari sekadar bangunan berdinding bata dan beratap genteng baginya.

“(Bagi saya) rumah itu tempat kita pulang sejauh apa pun lagi tugas kerja, sepadat apa pun anak kegiatan di sekolah. Rumah itu tempat ngumpul, tempat tumbuh yang aman dan nyaman buat anak-anak. Tempat kita diskusi apa pun. Kalau lagi ada masalah, saya selalu bilang, ‘Yaudah nanti aja dibahasnya di rumah’,” tutur Septiani kala berbincang dengan Kompas.com seusai si sulung dan suami berangkat.

Baca juga: Sejak 1976, BTN Salurkan KPR Rp 555,11 Triliun untuk Hampir 6 Juta Rumah

Sebelum menikah, Septiani sudah tiga kali pindah kontrakan bersama orangtua dan kedua saudaranya. Setelah menikah pun, ia dan suami masih menyewa. Status sebagai penyewa membuatnya merasa hidup serba-sementara.

“Takut sewaktu-waktu diminta pindah. Takut tak bisa memperpanjang kontrak. Takut belum bisa memberi anak-anak saya tempat tinggal yang benar-benar milik sendiri. Rasanya seperti numpang hidup,” katanya pelan.

Keberanian di tengah pandemi

Sebagai informasi, rumah yang kini ditempati Septiani dibeli melalui Program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN. Cicilannya Rp 1,3 juta per bulan dengan tenor 15 tahun.

Menurutnya, aspek finansial semula memang menjadi pertimbangan utama.

“DP-nya murah, cuma Rp 10 juta. Cicilannya juga masih masuk akal dan bunganya flat,” ujar Septiani.

Keluarga Septiani berfoto di rumah pertama mereka di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Keluarga Septiani berfoto di rumah pertama mereka di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Lokasi pun menjadi faktor yang tak kalah penting. Orangtua Septiani juga tinggal di kawasan Cileungsi. Menariknya, akses menuju Stasiun KRL Nambo dari rumah Septiani terbilang dekat. Demikian pula akses ke arah Tol Cibubur.

Namun, perjuangan menuju kepemilikan rumah pertama itu tidak instan.

Keinginan memiliki rumah sendiri sebenarnya sudah lama muncul. Pada 2018, Septiani pernah mencoba mengambil KPR subsidi di Perumnas Dramaga, Bogor. Namun, saat itu, ia masih memiliki utang konsumtif sehingga tidak lolos skema subsidi dan hanya mendapat opsi komersial dengan DP Rp 60 juta.

“Ku tak sanggup,” katanya sambil tertawa kecil.

Pada 2019, ia memutuskan resign untuk fokus mengurus keluarga kecilnya. Pandemi pun datang pada 2020. Harapan memiliki rumah terasa makin jauh panggang daripada api.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau