KOMPAS.com - Studi yang menganalisis data selama 60 tahun menemukan bahwa ketidakjelasan tugas di tempat kerja merupakan sumber stres utama yang merugikan karyawan maupun perusahaan.
Melansir Science X, Senin (11/5/2026) bagi pekerja, hal ini bisa menyebabkan kelelahan mental dan hilangnya rasa puas saat bekerja. Sedangkan bagi perusahaan, hal ini dapat menurunkan kinerja dan membuat banyak karyawan memilih untuk mengundurkan diri.
Analisis besar ini diterbitkan dalam Journal of Vocational Behaviour dan merangkum berbagai penelitian dari tahun 1964 hingga Desember 2024. Secara keseluruhan, para peneliti mempelajari data dari hampir 80.000 orang dari ratusan penelitian yang berbeda.
Fokus utama penelitian ini adalah pada tiga penyebab stres dalam pekerjaan.
Pertama, ketidakjelasan peran, yaitu perasaan tidak pernah yakin tentang apa yang sebenarnya harus dikerjakan atau apakah hasil kerja sudah sesuai harapan.
Baca juga: Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Kedua, konflik peran, yang muncul karena terus-menerus harus menyeimbangkan berbagai tuntutan yang tidak sejalan. Ketiga, beban kerja berlebihan, yaitu ketika tumpukan pekerjaan datang lebih cepat daripada kemampuan seseorang untuk menyelesaikannya secara masuk akal.
Data selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa ketidakjelasan peran adalah yang paling memengaruhi dibandingkan dua pemicu stres lainnya.
Ketika karyawan tidak paham tanggung jawabnya, mereka sering kali hanya menebak-nebak apa yang harus diprioritaskan, bagaimana kinerja mereka dinilai, dan apa yang harus dilakukan untuk naik jabatan. Lama-kelamaan, ketidakpastian itu secara perlahan mengikis rasa percaya diri, semangat, dan usaha mereka dalam bekerja.
Kesejahteraan di tempat kerja dan produktivitas berjalan beriringan, itulah sebabnya para peneliti menghabiskan puluhan tahun untuk memahami hal-hal yang memengaruhi pengalaman karyawan saat bekerja.
Salah satu ide yang mulai menarik perhatian pada awal 1960-an adalah teori pemicu stres peran. Itu merupakan sebuah kerangka kerja yang menjelaskan bagaimana berbagai harapan dan tanggung jawab yang dihadapi orang dalam pekerjaan mereka dapat menjadi sumber stres.
Lebih dari setengah abad kemudian, teori ini tetap menjadi salah satu ide yang paling berpengaruh dalam penelitian tentang kesejahteraan di tempat kerja.
Dalam penelitian ini, tim tersebut memeriksa secara mendalam berbagai pusat data akademik. Mereka mengumpulkan setiap studi relevan tentang stres di tempat kerja yang memiliki hasil statistik yang jelas dan melibatkan peserta yang aktif bekerja.
Baca juga: Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Mereka kemudian meneliti lebih jauh mengenai penyebab dan akibat dari berbagai pemicu stres di tempat kerja, serta mempelajari bagaimana faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan jenis industri dapat memengaruhi pengalaman stres yang dirasakan karyawan.
Lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa ketidakjelasan tugas bukan hanya penyebab stres tertinggi, tetapi juga alasan utama mengapa banyak karyawan memiliki kinerja yang buruk dan mulai berhenti memberikan usaha terbaik bagi perusahaan mereka.
Konflik peran menjadi pemicu terbesar bagi kelelahan mental, gangguan psikologis, dan keinginan untuk berhenti bekerja. Sementara itu, beban kerja yang berlebihan lebih banyak berhubungan dengan masalah kesehatan fisik dan mental.
Para peneliti mencatat bahwa studi ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana berbagai pemicu stres di kantor saling berkaitan.
Hasil penelitian ini dapat membantu perusahaan untuk memeriksa kembali lingkungan kerja mereka dan mencari cara nyata untuk mengurangi sumber stres tersebut, sehingga tercipta tempat kerja yang lebih adil, sehat, dan mendukung kemajuan karyawan maupun perusahaan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya