Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan

Kompas.com, 12 Mei 2026, 19:01 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Science X

KOMPAS.com - Studi yang menganalisis data selama 60 tahun menemukan bahwa ketidakjelasan tugas di tempat kerja merupakan sumber stres utama yang merugikan karyawan maupun perusahaan.

Melansir Science X, Senin (11/5/2026) bagi pekerja, hal ini bisa menyebabkan kelelahan mental dan hilangnya rasa puas saat bekerja. Sedangkan bagi perusahaan, hal ini dapat menurunkan kinerja dan membuat banyak karyawan memilih untuk mengundurkan diri.

Analisis besar ini diterbitkan dalam Journal of Vocational Behaviour dan merangkum berbagai penelitian dari tahun 1964 hingga Desember 2024. Secara keseluruhan, para peneliti mempelajari data dari hampir 80.000 orang dari ratusan penelitian yang berbeda.

Tiga penyebab stres dalam pekerjaan

Fokus utama penelitian ini adalah pada tiga penyebab stres dalam pekerjaan.
Pertama, ketidakjelasan peran, yaitu perasaan tidak pernah yakin tentang apa yang sebenarnya harus dikerjakan atau apakah hasil kerja sudah sesuai harapan.

Baca juga: Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja

Kedua, konflik peran, yang muncul karena terus-menerus harus menyeimbangkan berbagai tuntutan yang tidak sejalan. Ketiga, beban kerja berlebihan, yaitu ketika tumpukan pekerjaan datang lebih cepat daripada kemampuan seseorang untuk menyelesaikannya secara masuk akal.

Data selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa ketidakjelasan peran adalah yang paling memengaruhi dibandingkan dua pemicu stres lainnya.

Ketika karyawan tidak paham tanggung jawabnya, mereka sering kali hanya menebak-nebak apa yang harus diprioritaskan, bagaimana kinerja mereka dinilai, dan apa yang harus dilakukan untuk naik jabatan. Lama-kelamaan, ketidakpastian itu secara perlahan mengikis rasa percaya diri, semangat, dan usaha mereka dalam bekerja.

Kesejahteraan di tempat kerja dan produktivitas berjalan beriringan, itulah sebabnya para peneliti menghabiskan puluhan tahun untuk memahami hal-hal yang memengaruhi pengalaman karyawan saat bekerja.

Salah satu ide yang mulai menarik perhatian pada awal 1960-an adalah teori pemicu stres peran. Itu merupakan sebuah kerangka kerja yang menjelaskan bagaimana berbagai harapan dan tanggung jawab yang dihadapi orang dalam pekerjaan mereka dapat menjadi sumber stres.

Lebih dari setengah abad kemudian, teori ini tetap menjadi salah satu ide yang paling berpengaruh dalam penelitian tentang kesejahteraan di tempat kerja.

Dalam penelitian ini, tim tersebut memeriksa secara mendalam berbagai pusat data akademik. Mereka mengumpulkan setiap studi relevan tentang stres di tempat kerja yang memiliki hasil statistik yang jelas dan melibatkan peserta yang aktif bekerja.

Baca juga: Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon

Mereka kemudian meneliti lebih jauh mengenai penyebab dan akibat dari berbagai pemicu stres di tempat kerja, serta mempelajari bagaimana faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan jenis industri dapat memengaruhi pengalaman stres yang dirasakan karyawan.

Lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa ketidakjelasan tugas bukan hanya penyebab stres tertinggi, tetapi juga alasan utama mengapa banyak karyawan memiliki kinerja yang buruk dan mulai berhenti memberikan usaha terbaik bagi perusahaan mereka.

Konflik peran menjadi pemicu terbesar bagi kelelahan mental, gangguan psikologis, dan keinginan untuk berhenti bekerja. Sementara itu, beban kerja yang berlebihan lebih banyak berhubungan dengan masalah kesehatan fisik dan mental.

Para peneliti mencatat bahwa studi ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana berbagai pemicu stres di kantor saling berkaitan.

Hasil penelitian ini dapat membantu perusahaan untuk memeriksa kembali lingkungan kerja mereka dan mencari cara nyata untuk mengurangi sumber stres tersebut, sehingga tercipta tempat kerja yang lebih adil, sehat, dan mendukung kemajuan karyawan maupun perusahaan. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
10 Spesies Anggrek Baru Ditemukan, Ada di Sumatera hingga Nusa Tenggara
10 Spesies Anggrek Baru Ditemukan, Ada di Sumatera hingga Nusa Tenggara
Pemerintah
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
BUMN
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau