KOMPAS.com - Industri fashion global menghadapi risiko finansial yang serius jika gagal mempercepat responsnya terhadap perubahan iklim, menurut laporan yang dirilis oleh sebuah organisasi nirlaba Apparel Impact Institute.
Melansir Down to Earth, Senin (23/2/2026) laporan tersebut memperkirakan bahwa pada tahun 2030, kegagalan dalam melakukan pengurangan emisi dapat menyebabkan hilangnya 3 persen margin operasional, dengan pemangkasan laba sebesar 34 persen.
Proyeksi ini menjadi jauh lebih buruk pada tahun 2040, di mana kerugian diperkirakan bisa mencapai setinggi 67 persen.
Perkiraan ini menyoroti meningkatnya paparan risiko finansial yang dihadapi oleh merek dan produsen seiring dengan meningkatnya tekanan terkait iklim.
Baca juga: Perancis Larang Bahan Kimia Abadi PFAS dalam Kosmetik dan Pakaian, Apa Itu?
Analisis tersebut mengidentifikasi tiga pendorong utama di balik risiko-risiko finansial ini yakni penetapan harga karbon, bahan baku, dan energi.
Sebagai gambaran, harga karbon diperkirakan akan naik drastis, dari rata-rata sekitar Rp 157.000 per ton menjadi 5.495.000 per ton pada tahun 2040.
Ini artinya, polusi tidak lagi gratis di mana setiap ton C02 yang dihasilkan pabrik harus dibayar dengan harga sangat mahal.
Akibatnya, biaya manufaktur pakaian kemungkinan besar akan melonjak secara substansial. Laporan memperkirakan bahwa biaya karbon saja dapat meningkatnya harga pokok penjualan sebesar 13 persen pada 2040.
Sumber bahan baku, terutama kapas, menjadi kerentanan utama lainnya. Kapas menyumbang sekitar 19 persen dari produksi serat global dan sangat sensitif terhadap kondisi iklim.
Namun, meningkatnya kekeringan, gelombang panas, dan pergeseran pola curah hujan menyebabkan kelangkaan air yang lebih parah dan melemahkan ketahanan pertanian.
Tantangan-tantangan ini diperburuk oleh deforestasi, perubahan penggunaan lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang terkait dengan produksi bahan baku.
Tekanan iklim mengancam hasil panen, kualitas, dan masa tanam kapas, yang meningkatkan ketidakpastian produksi serta risiko pasokan bagi merek pakaian.
Pada tahun 2022, peristiwa cuaca ekstrem termasuk hujan lebat di India, gelombang panas di China, dan kekeringan di Amerika Serikat menyebabkan harga kapas naik 30 persen hanya dalam satu tahun.
Pada tahun 2040, sekitar 50 persen wilayah penghasil kapas diperkirakan akan menghadapi suhu yang lebih tinggi dan kelangkaan air, sementara 40 persen wilayah mungkin mengalami masa tanam yang lebih pendek. Ketidakstabilan seperti ini mengancam keandalan pasokan dan kepastian biaya bagi merek-merek pakaian.
Penggunaan energi dalam manufaktur tekstil semakin memperparah kerentanan sektor ini.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya