Penulis
KOMPAS.com - Cemaran bahan bakar minyak (BBM) ditemukan di lahan mangrove di Benoa, Denpasar, Bali. Cemaran tersebut ditemukan oleh para peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana.
Tim peneliti menguji sampel tanah mangrove di Benoa. Hasilnya menunjukkan adanya 41 senyawa hidrokarbon atau senyawa turunan minyak bumi.
Baca juga:
Senyawa tersebut umumnya ditemukan dalam BBM, seperti bensin, minyak tanah, dan diesel atau solar.
"Dapat kami simpulkan bahwa sampel tanah mangrove positif tercemar oleh limbah minyak bumi, terutama diesel (solar)," kata Koordinator Tim Peneliti, Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga, dilansir dari Antara, Jumat (27/2/2026).
Peneliti Universitas Udayana menemukan 41 senyawa hidrokarbon BBM di tanah mangrove di Benoa, Bali. Pengujian dilakukan dari Selasa (24/2/2026) sampai Kamis (26/2/2026), menggunakan metode analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).
Metode ini dipakai untuk mengidentifikasi dan menentukan komposisi senyawa kimia dalam sampel. Fokusnya pada senyawa volatil, atau mudah menguap, serta semi volatil.
Sampel tanah diambil dari kawasan terdampak di sisi barat gerbang Tol Bali Mandara di Benoa. Dari lokasi itu ditemukan 45 senyawa volatil. Sebanyak 41 di antaranya merupakan senyawa hidrokarbon.
Beberapa senyawa yang terdeteksi memiliki persentase di atas lima persen. Senyawa tersebut yaitu n-Hexadecane sebesar 5,79 persen, n-Heptadecane sebesar 7,65 persen, Pentadecane 2,6,10-trimethyl sebesar 7,27 persen, Pentadecane 2,6,10,14-trimethyl sebesar 8,67 persen, dan n-Eicosane sebesar 5,42 persen.
Senyawa hidrokarbon yang ditemukan didominasi rentang atom karbon C15-C24. Rentang ini mengarah kuat pada kontaminasi diesel atau solar.
Berbeda dengan sampel tanah, hasil uji sampel air menunjukkan temuan yang berbeda. Pada sampel air hanya ditemukan satu senyawa dari golongan hidrokarbon organik yaitu squalene.
Senyawa ini umumnya ditemukan pada hati ikan hiu, beberapa jenis alga, serta mikroorganisme seperti Escherichia coli.
"Sehingga tidak ditemukan senyawa pencemar hidrokarbon pada sampel air yang diuji," ucap Dewa.
Baca juga:
Peneliti Universitas Udayana menemukan 41 senyawa hidrokarbon BBM di tanah mangrove di Benoa, Bali. Ia menambahkan tidak ditemukannya hidrokarbon dalam air diduga karena telah dilakukan pembersihan. Akibatnya, kontaminasi minyak berpindah ke daerah laut.
Sementara itu, senyawa hidrokarbon yang lebih berat mengendap dan terakumulasi di tanah mangrove.
Kondisi ini berdampak serius bagi tanaman mangrove. Endapan minyak membuat tanah sulit menyerap air dan mineral. Tanaman pun kesulitan mendapatkan nutrisi.
"Akibatnya, lama kelamaan minyak akan diserap oleh tanaman dan masuk ke jaringan kambium, sel tanaman menjadi rusak, daun menguning, gugur, tanaman menjadi kering dan mati," jelas Dewa.
Tanaman mangrove yang terdampak berada pada luas lahan sekitar enam hingga 60 are atau sekitar 600 sampai 6.000 meter persegi. Area tersebut mencakup zona intensif hingga wilayah sebaran terdampak senyawa hidrokarbon.
Selain Dewa Wiryangga, tim peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana terdiri dari Dr Listihani, Ni Nyoman Sista Jayasanti, Restiana Maulinda, Wafa’ Nur Hanifah, dan Yuli Evrianti Br Raja Gukguk.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya