JAKARTA, KOMPAS.com - Uni Eropa (UE) menggandeng organisasi lingkungan Langit Biru Pertiwi serta perwakilan dari sejumlah negara anggota UE dan ASEAN untuk melestarikan hutan mangrove dalam rangka EU Green Diplomacy Week. Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam, mengatakan peringatan itu merupakan komitmen UE menghadapi triple planetary crisis.
"Kami sangat senang bisa bermitra kembali dengan Langit Biru untuk melaksanakan Green Diplomacy Week, yang mencerminkan komitmen Uni Eropa dalam menghadapi tiga krisis besar planet yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi," ujar Seam di Taman Wisata Angke, Jakata Utara, Kamis (13/11/2025).
Dia menjelaskan, UE juga meluncurkan dua proyek keanekaragaman hayati yakni Nature Finance Solution Hub dan program hibah skala kecil. Kedua proyek tersebut bernilai total 30 juta euro, bekerja sama dengan Asean Centre for Biodiversity dan bank KfW dari Jerman.
Baca juga: BRIN: 10 Tahun Terakhir Luas Ekosistem Mangrove di Semarang Kian Turun
"Kami juga menyelenggarakan ASEAN Circular Economy Forum yang ketiga. Jadi, Anda dapat melihat bahwa ASEAN dan Uni Eropa benar-benar bekerja sama untuk menghadapi krisis planet ini," tutur dia.
Sementara itu, Co-Founder Langit Biru Pertiwi, Wijaya Surya, menjelaskan bahwa peringatan EU Diplomacy Weeks berfokus pada masa depan dan keberlanjutan terutama di kawasan pesisir.
"Mereka (UE) ingin membuat kesadaran sebetulnya kondisi di Indonesia mangrove atau pesisir seperti apa dan apa yang bisa dilakukan. Walaupun di dalam kota dan juga penanamannya tidak besar, tetapi dampak edukasinya," ungkap Wijaya.
Menurut dia, kegiatan ini turut melibatkan siswa dari sekolah Perancis serta alumni Erasmus, dengan penanaman 200 bibit mangrove di lokasi. Tujuannya, memperluas kesadaran publik tentang kondisi pesisir dan upaya konservasi yang bisa dijalankan di berbagai daerah.
Baca juga: Pemerintah Rancang Zonasi untuk Rehabilitasi Mangrove di Indonesia
"Harapannya kalau dari kami sendiri Langit Biru inginnya lebih banyak mangrove park seperti TWA bisa dibuat di seluruh Indonesia, bukan hanya untuk melestarikan kondisi pesisir kita juga membantu edukasi berapa pentingnya perannya mangrove di pesisir," ucap dia.
Co-Founder Langit Biru Pertiwi, Tiza Mafira, menyebutkan mangrove adalah ekosistem yang berperan melindungi garis pantai dari abrasi hingga membantu memitigasi perubahan iklim. Sebab, mangrove dapat menyerap emisi karbon.
"Namun, ekosistem ajaib ini menghadapi berbagai ancaman serius. Ancaman tersebut berasal dari deforestasi dan aktivitas manusia lainnya," jelas Tiza.
Ancaman lainnya ialah polusi plastik yang mencemari ekosistem mangrove. Berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), RI memiliki hutan mangrove seluas 3,4 juta hektare dengan estimasi nilai cadangan karbon mencapai 887 juta ton karbon.
Akan tetapi, sejak 1980-2000 sekitar 52.000 ha mangrove hilang per tahunnya, karena sebagian besar dikonversi menjadi tambak.
Baca juga: Uni Eropa Tindak Tegas Greenwashing Maskapai yang Tebar Janji Keberlanjutan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya