Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI

Kompas.com, 6 Februari 2026, 17:17 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk anak-anak, mendesak setiap negara mengkriminalisasi pembuat konten seksual anak berbasis AI (Artificial Intelligence atauk kecerdasan buatan). Hal ini dilakukan seiring meningkatnya laporan kasus tersebut. 

“Dampak dari penyalahgunaan deepfake itu nyata dan mendesak. Anak-anak tidak bisa hanya menunggu hukum untuk menyelesaikan,” kata UNICEF dalam pernyataannya dilansir dari Reuters, Jumat (5/2/2026).

Baca juga:

Adapun deepfake memuat gambar, video, atau audio hasil proses AI yang bisa meniru seseorang. Di samping itu, UNICEF turut mendesak pengembang teknologi menerapkan pendekatan pengamanan safety-by-design dalam mencegah penyalahgunaan model AI.

Lainnya, meminta perusahaan mencegah peredaran gambar-gambar tersebut dengan memperkuat moderasi konten melalui investasi teknologi pendeteksian.

UNICEF desak kriminalisasi konten seksual anak dari AI

UNICEF mendesak negara-negara untuk mengkriminalisasi pelaku yang sengaja membuat konten seksual anak berbasis AI. freepik UNICEF mendesak negara-negara untuk mengkriminalisasi pelaku yang sengaja membuat konten seksual anak berbasis AI.

Menurut catatan, UNICEF mengungkapkan bahwa gambar 1,2 juta anak di 11 negara telah dimanipulasi menjadi deepfake seksual dalam satu tahun terakhir.

Praktik itu disebut sebagai nudification, penggunaan AI untuk menghapus atau mengubah pakaian yang digunakan di dalam foto.

Adanya kasus ini membuat Inggris menjadi negara pertama yang berencana menyetujui penggunaan alat AI untuk menciptakan gambar pelecehan seksual anak sebagai tindak pidana.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyatakan, dirinya mengusulkan agar 40 orang bisa bergabung dalam Panel Ilmiah Internasional Independen tentang Kecerdasan Buatan. Tujuannya, memastikan AI digunakan sebagai kepentingan masyarakat.

Baca juga:

Guterres menjelaskan, panel ini melibatkan para ahli dari 37 negara dengan keahlian mendalam di bidang pembelajaran mesin (machine learning), tata kelola data, kesehatan masyarakat, keamanan siber, perkembangan anak, serta hak asasi manusia.

“Kita membutuhkan pemahaman bersama untuk membangun pagar pengaman yang efektif, membuka inovasi demi kepentingan bersama, dan mendorong kerja sama,” beber Guterres.

Penggunaan Grok dan gambar seksual anak di bawah umur

UNICEF mendesak negara-negara untuk mengkriminalisasi pelaku yang sengaja membuat konten seksual anak berbasis AI. Reuters UNICEF mendesak negara-negara untuk mengkriminalisasi pelaku yang sengaja membuat konten seksual anak berbasis AI.

Kekhawatiran terhadap penggunaan AI untuk menghasilkan konten pelecehan anak meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait chatbot seperti Grok milik xAI. Perusahaan milik Elon Musk ini disorot lantaran menghasilkan gambar seksual perempuan dan anak di bawah umur. 

Investigasi Reuters menunjukkan, chatbot Grok tetap memproduksinya meski mendapat kecaman dari pengguna.

Menanggapi hal itu, X (dulu Twitter) mengumumkan langkah pemblokiran agar Grok tidak lagi menghasilkan konten provokatif dalam unggahan publik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau