Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028

Kompas.com, 4 Maret 2026, 11:59 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah bakal merestorasi 66.704 hektar lahan di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau hingga 2028. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menyatakan, tahun ini pihaknya bakal memulihkan kembali 2.574 hektar lahan yang terdegradasi.

Program reforestasi di TNTesso Nilo dimulai pada Selasa (3/3/2026) di areal bekas sawit seluas sekitar 400 hektar dengan 2.000 bibit tanaman hutan.

“Kita tidak bisa menunda lagi upaya pemulihan, Tesso Nilo adalah habitat penting bagi gajah sumatera dan berbagai satwa lainnya. Jika kita tidak bergerak sekarang, maka kita mempertaruhkan masa depan ekosistem Sumatera bagian tengah,” kata Raja Juli dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Baca juga:

Pemerintah akan restorasi lahan di TN Tesso Nilo

Pemusnahan pohon sawit secara bertahap

Pemerintah bakal merestorasi puluhan ribu area yang rusak di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.Tangkapan layar Google Earth Pemerintah bakal merestorasi puluhan ribu area yang rusak di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.

Reforestasi, lanjut Raja Juli, merupakan tindak lanjut dari kebijakan penertiban dan pengembalian fungsi kawasan hutan yang selama ini mengalami tekanan akibat alih fungsi lahan.

Pemerintah menargetkan pemusnahan tanaman sawit secara bertahap dan penggantian dengan tanaman hutan yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Raja Juli menjelaskan, program tersebut disusun berdasarkan kajian ilmiah dengan melibatkan berbagai institusi riset dan akademisi sehingga jenis tanaman yang ditanam benar-benar mendukung ketersediaan pakan dan habitat satwa liar.

“Pemulihan ini dibangun di atas fondasi ilmiah yang kuat. Kita memastikan jenis yang ditanam memiliki fungsi ekologis, menjadi sumber pakan sekaligus naungan bagi satwa, khususnya gajah sumatera,” tutur dia.

Pemerintah turut memperkuat penegakan hukum, pendekatan restorative justice, relokasi masyarakat secara persuasif dan bertahap, serta pembenahan status lahan.

Raja Juli menekankan bahwa keberhasilan reforestasi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada dukungan lintas sektor dan partisipasi masyarakat.

“Reforestasi ini bukan sekadar menanam pohon. Ini adalah komitmen bersama untuk mengembalikan keseimbangan alam dan memastikan anak cucu kita tetap mewarisi hutan yang lestari,” kata Raja Juli.

Baca juga:

Dukungan pendanaan

Pemerintah bakal merestorasi puluhan ribu area yang rusak di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.Dok. Pribadi/Erwin Daulay Pemerintah bakal merestorasi puluhan ribu area yang rusak di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan mendukung program rehabilitasi TNTN melalui pendanaan.

“Kami juga bisa mengakses pendanaan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk upaya rehabilitasi dan reforestasi,” jelas Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono.

Dia mencatat, lebih dari 90 persen kawasan Tesso Nilo diperkirakan telah rusak. Dari total luasan 81.000 hektar saat ini lahan di kawasan tersebut berkurang drastis akibat perkebunan sawit ilegal dan permukiman warga.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau