KOMPAS.com - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi dua spesies ngengat baru dari genus Glyphodella dan Chabulina, yang dinamai Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 serta Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026.
Penemuan spesies baru ngengat ini merupakan hasil riset Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah.
Baca juga:
Rosichon menjelaskan, kedua spesies ngengat memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia, yang menjadi penanda utama dalam identifikasi serangga tersebut.
“Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan, serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies kerabatnya. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap dan bentuk genitalia yang khas,” jelas Rosichon dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama penetapan kedua spesies sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan.
"Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi,” tutur dia.
Adapun peneliti mengelar survei lapangan di Papua dan Sulawesi selama 2002-2017. Mereka juga mengkaji koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor.
Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology, tim peneliti melaporkan Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 adalah satu-satunya spesies dari genus Glyphodella yang ditemukan di Indonesia dan endemik Papua.
Sementara itu, Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 merupakan spesies endemik Sulawesi yang ditemukan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, serta Sulawesi Utara.
Baca juga:
Dua spesies ngengat baru yang ditemukan BRIN ini merupakan hewan endemik Papua dan Sulawesi. Penelitian dilakukan menggunakan perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen, dan pengamatan detail menggunakan mikroskop.
Para peneliti kemudian menyimpan spesimen dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai koleksi nasional.
Menurut hasil penelitian, Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 hidup di hutan tropis primer di Pegunungan Foja, Papua, sementara Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 ditemukan di hutan sekunder tropis Sulawesi.
Kedua spesies itu bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari.
Penemuan itu turut menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat famili Crambidae. BRIN menyatakan, temuan baru spesies ngengat juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.
Para peneliti menilai bahwa keberadaan spesies endemik yang terbatas pada wilayah tertentu membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat.
“Oleh karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari,” ucap Rosichon.
Tim peneliti BRIN akan terus melakukan eksplorasi dan kajian biodiversitas serangga di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya