Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla

Kompas.com, 4 Maret 2026, 12:24 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi dua spesies ngengat baru dari genus Glyphodella dan Chabulina, yang dinamai Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 serta Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026.

Penemuan spesies baru ngengat ini merupakan hasil riset Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah.

Baca juga:

BRIN temukan 2 spesies ngengat baru di Indonesia

Habitat ngengat ada di Papua dan Sulawesi

Rosichon menjelaskan, kedua spesies ngengat memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia, yang menjadi penanda utama dalam identifikasi serangga tersebut.

Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan, serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies kerabatnya. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap dan bentuk genitalia yang khas,” jelas Rosichon dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Ia menambahkan, perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama penetapan kedua spesies sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan.

"Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi,” tutur dia.

Adapun peneliti mengelar survei lapangan di Papua dan Sulawesi selama 2002-2017. Mereka juga mengkaji koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor.

Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology, tim peneliti melaporkan Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 adalah satu-satunya spesies dari genus Glyphodella yang ditemukan di Indonesia dan endemik Papua.

Sementara itu, Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 merupakan spesies endemik Sulawesi yang ditemukan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, serta Sulawesi Utara.

Baca juga: 

Dilakukan menggunakan perangkap cahaya

Dua spesies ngengat baru yang ditemukan BRIN ini merupakan hewan endemik Papua dan Sulawesi. Shutterstock Dua spesies ngengat baru yang ditemukan BRIN ini merupakan hewan endemik Papua dan Sulawesi.

Penelitian dilakukan menggunakan perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen, dan pengamatan detail menggunakan mikroskop.

Para peneliti kemudian menyimpan spesimen dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai koleksi nasional.

Menurut hasil penelitian, Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 hidup di hutan tropis primer di Pegunungan Foja, Papua, sementara Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 ditemukan di hutan sekunder tropis Sulawesi.

Kedua spesies itu bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari.

Penemuan itu turut menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat famili Crambidae. BRIN menyatakan, temuan baru spesies ngengat juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

Para peneliti menilai bahwa keberadaan spesies endemik yang terbatas pada wilayah tertentu membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat.

“Oleh karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari,” ucap Rosichon.

Tim peneliti BRIN akan terus melakukan eksplorasi dan kajian biodiversitas serangga di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
LSM/Figur
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Alarm Transisi Energi di Indonesia, Mengapa?
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Alarm Transisi Energi di Indonesia, Mengapa?
LSM/Figur
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
LSM/Figur
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Pemerintah
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Pemerintah
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Pemerintah
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
LSM/Figur
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
LSM/Figur
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau